Seni Beristirahat dengan Mawas
UAP. Satyamita Kurniady Halim
Jum'at, 12 Juli 2024
MBI
Apa beda Resting in Awareness dan Tidur?
Resting in Awareness adalah saat di mana kita benar-benar mengizinkan diri kita beristirahat di momen saat ini, tanpa mencoba mengubah atau mengontrol apa yang terjadi. Ini adalah bentuk meditasi yang mengajak kita untuk mengamati dengan penuh perhatian setiap pengalaman, baik itu fisik, emosional, atau mental, tanpa menilai atau bereaksi. Dalam keadaan ini, kita bukan cuma merasakan ketenangan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pikiran dan perasaan kita.
Saat kita beristirahat atau tidur, biasanya kita melepaskan diri dari kesadaran aktif. Tidur adalah waktu di mana tubuh dan pikiran kita memulihkan diri, tetapi tidak melibatkan kesadaran yang tinggi. Sebaliknya, resting in awareness melibatkan mawas penuh. Kita sepenuhnya hadir di setiap momen, mengamati sensasi tubuh, pikiran, dan emosi dengan sikap terbuka dan penerimaan.
Cara Melakukan Resting in Awareness
Awareness (Kemawasan) ini mampu mengenali dan merangkul semua sensasi yang muncul dalam tubuh, termasuk diantaranya sensasi napas. Ia bisa mengenali, merangkul, melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan menyentuh, serta mengetahui aktivitas pikiran seperti bentuk pikiran dan perasaan, tanpa melakukan pembedaan dan penilaian.
Saat ini, cobalah beristirahat dengan mawas, pertama-tama sekedar membiarkan bidang kesadaran menampilkan semua suara yang selalu ada, menghadirkan dirinya kepada telinga kita, mencakup segala sesuatu yang hadir dalam bentuk suara dan ruang di antara suara. Segala sesuatu, tanpa kecuali. Beristirahat dalam mendengarkan, tanpa perlu menciptakan jarak antara diri kita dan apa yang didengar. Hanya sekedar mendengarkan. Inilah yang dalam Chan/Zen sering disebut sebagai Direct Contemplation. Dalam direct contemplation yang dipraktekkan dalam Chan/Zen, kita mengamati objek melalui penglihatan maupun pendengaran, baik itu fenomena eksternal atau internal dengan kehadiran penuh, seolah-olah kita melihatnya untuk pertama kali, tanpa prakonsepsi atau interpretasi.
Jika ada pikiran yang muncul, biarkan mereka diketahui karena kesadaran bisa mencakup pengetahuan tentang pikiran. Memperluas bidang kesadaran kapan pun kita mau, untuk mencakup udara yang membelai kulit, udara yang merupakan napas, udara yang membawa suara, dan beristirahat dalam pengetahuan tentang udara dan napas lagi melalui sensasi di tubuh, karena hanya melalui indra, termasuk pikiran, kita bisa mengetahui apa pun. Kita bisa membiarkan bidang kesadaran mencakup tidak hanya sensasi terkait pernapasan atau sentuhan udara pada kulit, tetapi juga sensasi apa pun di tubuh saat kita duduk.
Biarkan semuanya hadir tanpa pemisahan dalam momen ini, dan beristirahat dalam mawas akan pengalaman itu. Sekedar duduk, bernapas, merasakan, mendengar, mengetahui, dan tidak menegasikan pikiran, karena bentuk-bentuk pikiran itu juga terjadi. Cukup biarkan diri kita beristirahat dengan mawas.
Kemawasan Seperti Cermin
Saat kita mawas, itu seperti cermin dalam banyak dimensi, yang merefleksikan, mengetahui, mendeteksi, merasakan, melihat, dan merasakan apa pun yang bergerak, muncul, bertahan, dan larut. Jadi beristirahat dalam kesadaran itu sendiri, dalam kualitas kesadaran yang tanpa pilihan, tanpa batas, luas, dan lapang. Jika suara mendominasi, suara itu diketahui. Jika pikiran mengikuti suara, pikiran itu dikenal sebagai pikiran sekarang. Secara konseptual diakui, dikenal, dirasakan tidak didorong menjauh maupun dikejar, tidak dikutuk maupun dipuji.
Jika pada momen berikutnya, mungkin muncul sensasi di bagian tubuh kita, itu juga sekedar dirasakan, dilihat, dikenal dan tidak didorong menjauh maupun dikejar, tidak disukai maupun tidak disukai. Kemawasan berfungsi sebagai cermin yang sekedar merefleksikan, terbuka, kosong, lapang, mampu menampung apa saja dan tidak membutuhkan apa pun untuk melengkapi dirinya. Tidak terganggu, tidak dapat diganggu, kemawasan ini selalu ada. Seperti matahari yang selalu bersinar meskipun tertutup awan. Bahkan jika kita jengkel atau gusar, kemawasan ini memeluk kejengkelan dan kegusaran, kesedihan, kegembiraan.
Praktik Sehari-hari
Dengan berlatih beristirahat dalam kemawasan, kita bisa menemukan kedamaian dan keterhubungan yang mendalam dengan diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita, bahkan kita belajar untuk merefleksikan fenomena di dunia ini sebagaimana apa adanya. Dengan mengembangkan kemawasan ini, kita bisa lebih hadir dan bijaksana dalam menanggapi setiap situasi yang kita hadapi. Ini adalah perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri dan dunia, jalan menuju hidup yang lebih damai, penuh kasih, dan bermakna.
Kualitas mengetahui dari hati dan pikiran beristirahat dalam kecemerlangan dan kecerahan alaminya, tanpa tujuan untuk pergi, tanpa hal yang harus dilakukan, tanpa hal yang harus dicapai, tanpa pilihan untuk dibuat. Dan tidak ada yang membuat pilihan tersebut kadang - kadang.
Dalam tradisi Chan/Zen, ini dikenal sebagai silent illumination, metode tanpa metode. Dalam metode Silent illumination, kita hanya sekedar duduk tanpa tujuan khusus (just sitting), hanya mengamati dan mengalami momen saat ini dengan penuh perhatian dan penerimaan. Ini adalah bentuk meditasi yang menekankan kesadaran yang luas, terbuka, dan tidak terikat pada objek tertentu.
Silent illumination, atau dalam bahasa Mandarin disebut Mo Chao, terdiri dari dua elemen utama:
Silent (Mo): Mengacu pada ketenangan, keheningan, dan ketidakberubahan. Ini adalah keadaan di mana pikiran tidak terganggu oleh objek eksternal atau internal, melainkan berada dalam kedamaian yang dalam.
Illumination (Chao): Mengacu pada pemahaman, pengetahuan, dan kesadaran yang terang benderang. Ini adalah kualitas dari pikiran yang dapat melihat dan memahami semua fenomena tanpa bias atau gangguan.
Dalam praktik silent illumination, meditator duduk dalam keheningan, membiarkan semua pikiran, perasaan, dan sensasi muncul dan berlalu tanpa mengidentifikasi atau terikat pada mereka. Tidak ada upaya untuk memfokuskan pada satu objek tertentu, tetapi kesadaran mencakup semua yang ada dalam momen itu. Seperti demikian, semestinya kita melatih pikiran kita seperti cermin yang hanya sekedar memantulkan, tanpa terganggu didalamnya.
Hanya sekedar berada di momen ini. Jadi yang terbaik yang dapat kita lakukan saat meditasi adalah beristirahat dengan mawas, tanpa perlu upaya berlebihan. Jika pikiran muncul, maka sekedar diamati, dilihat dan diketahui dalam kemunculannya seperti gelembung yang muncul dari dasar panci air yang mendidih dan kemudian meletus dengan sendirinya. Buah Pikir kemudian berlalu dengan sendirinya. Anda tidak perlu melakukan apa pun, hanya beristirahat dengan mawas.
Jadi, apakah kita sudah bermeditasi saat ini? Beristirahatlah dengan mawas, Resting in awareness. Hiduplah di sini dan saat ini. Seperti cermin yang beristirahat, sekedar memantulkan apapun yang hadir dan kemudian berlalu.
Referensi:
Guided Meditation from Jon Kabatt Zinn, How to Rest in Awareness
Komentar (0)