Resolusi Tahunan
Rasanya baru saja kemarin kita mengakhiri tahun 2024 dan memasuki tahun 2025, tiba-tiba sekarang satu bulan telah berlalu dengan sangat cepat dan kita sudah memasuki bulan Februari. Begitu cepat waktu bergulir, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan berikutnya. Mari kita mulai bergegas untuk berencana, jangan sampai begitu kita tersadar nanti ternyata sudah akan menginjak akhir tahun lagi, sedangkan belum ada hal-hal bermanfaat yang kita lakukan.
Apakah kita sudah menyusun Resolusi Tahun 2025, sudah berapa banyak pencapaian dari resolusi tersebut? Atau apakah ada di antara kita yang sama sekali belum menyusun resolusi? Berjalan tanpa arah tujuan, mengikuti arus saja, dengan dalih bahwa tujuan kita adalah berusaha menghilangkan ego? Sementara guru agung kita, Buddha Gautama, sewaktu masih sebagai seorang Pangeran dan memutuskan untuk menjadi pertapa telah memiliki Resolusi Diri ”Untuk Mencari jalan untuk Membebaskan Umat Manusia dari Penderitaan.”
Apa yang dimaksud dengan Resolusi Tahunan? Menurut KBBI, Resolusi Tahunan adalah komitmen untuk mencapai tujuan hidup yang ditetapkan pada awal tahun baru. Resolusi ini bisa berupa pernyataan tertulis atau tidak tertulis. Seberapa pentingkah bagi kita untuk menyusun Resolusi Tahunan? Tentu saja, menyusun resolusi adalah sangat penting untuk dapat kita jadikan sebagai rencana untuk memperbaiki dan mengembangkan potensi diri, menghindari kekecewaan dan juga sebagai panduan rencana dan arah langkah kehidupan kita sehari-hari.
Siapa sajakah yang harus menyusun resolusi tahunan? Apakah hanya orang dewasa produktif saja? Apakah anak-anak ataupun orang-orang yang sudah berusia lanjut tidak perlu menyusun resolusi tahunan? Sebenarnya kita sudah dibiasakan dan diajarkan untuk menyusun resolusi sejak kita masih bersekolah, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih terstruktur dan efektif dalam mencapai tujuan bekelompok maupun individu. Dan untuk orang-orang yang sudah memasuki usia lanjut tetap masih memiliki value diri masing-masing. Untuk itu, siapapun kita, di usia berapapun kita, selama hayat masih dikandung badan, tetap saja kita perlu menyusun resolusi tahunan.
Dalam menyusun Resolusi Tahunan, kita bisa melakukan kilas balik pada tahun sebelumnya. Apa emosi yang pernah kita rasakan? Frustasi, marah, kecewa, bahagia, sedih, bangga, lucu, takut, penuh harapan, dan sebagainya. Dari semua yang kita rasakan tersebut, hendaklah kita jadikan introspeksi diri untuk menjadi pelajaran hidup.
Jenis-jenis resolusi yang dapat kita susun, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Memperbaiki Diri / Pengembangan Diri
Misalnya kita menyadari bahwa kita pemarah dan mudah tersinggung, maka kita bisa menyusun resolusi bagaimana caranya agar sifat pemarah dan mudah tersinggung tersebut bisa dieliminasi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi hilang. Mungkin bisa dimulai dengan melatih menghilangkan keosmbongan diri, atau dengan mengikuti kegiatan mindfulness, melatih kebijaksanaan diri. Atau ada beberapa kekurangan yang kita miliki, maka kita dapat mengikuti program / kegiatan untuk memperbaiki kekurangan tersebut.
- Hubungan dengan Keluarga
Mungkin kita pernah mengalami pasang surut dalam hubungan dengan orangtua, pasangan hidup, anak-anak, cucu, saudara maupun keluarga besar. Kadang harmonis, kadang tidak harmonis. Selagi orangtua masih hidup, teruslah memperbaiki hubungan dengan mereka. Bila kita kurang cukup berbakti kepada orangtua, maka berbaktilah sejak saat ini. Jangan menunggu sampai orangtua sudah terbaring sakit atau malah sudah terbaring di rumah duka. Bila dengan pasangan hidup kita kurang memberikan perhatian dan kasih sayang, sejak sekarang belajarlah untuk lebih memperhatikan dan menyayangi. Bila dengan anak kurang ada hubungan yang lebih dekat, maka mulailah untuk lebih menyayangi dan menerima segala kekurangan dan kelebihan dari mereka, belajar untuk memotivasi bukan mengan memarahi, belajar untuk memberi contoh, bukan dengan menuntut, belajar untuk mengajarkan tanggung jawab, bukan dengan memanjakan. Dan masih banyak lagi yang perlu dilakukan.
- Hubungan dengan Masyarakat / Komunitas
Bila sejak dahulu kita kurang perduli dengan masyarakat di lingkungan rumah kita, sehingga secara ekstrimnya bahkan tetangga sebelah kiri kanan, seberang rumah pun kita tidak mengetahui namanya. Ketika pagi kita sudah berangkat dari rumah untuk melakukan aktifitas kita, dan baru pulang kembali ke rumah pada malam hari. Dan pada waktu weekend kita juga sibuk beraktifitas di luar rumah, sehingga tidak ada interaksi dengan lingkungan sekitar kita. Ada pepatah: ”Tetangga adalah keluarga terdekat kita.” Mengapa demikian? Karena siapa yang akan menjadi penolong pertama ketika kita mengalami suatu musibah? Pastilah tetangga kita. Mulailah untuk peduli, mencoba melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar. Menyapa dan berlaku sopan dan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh lingkungan sekitar.
- Melakukan hal-hal untuk mencapai cita-cita
Mungkin dulu kita pernah punya cita-cita yang terpendam, tetapi gagal mewujudkannya karena satu faktor atau hal lainnya, tidak ada salahnya untuk mulai mewujudkannya sekarang. Banyak rencana pengembangan diri yang dapat dilakukan seperti: belajar bahasa asing, belajar memasak, belajar melukis, belajar bernyanyi, belajar memainkan alat musik dan lain sebagainya.
- Melakukan hal-hal yang belum sempat terlaksana di tahun sebelumnya
Banyak kegiatan yang ingin dilakukan, tetapi selalu saja terbentur jadwal kegiatan atau kesibukan lainnya. Misalnya, ingin merayakan Waisak Keluarga Buddhayana Indonesia di Candi Sewu, tetapi setiap tahun selalu saja tidak kesampaian. Maka sejak awal kita bisa merencanakan, menggeser kegiatan lain, mengambil cuti jauh-jauh hari, mencari teman serombongan, mengatur transportasi dan penginapan. Semoga dengan begitu, maka rencana yang sudah tersusun rapi dapat dijalankan dengan baik.
- Mencegah / menghindari kesalahan yang pernah dilakukan.
Pernahkah kita menyesali sesuatu dan tidak ingin mengulangi lagi, dan malahan terus menerus mengulangi lagi? Kita bisa membuat resolusi agar kita bisa menghindari dan mencegah hal-hal tersebut terulang kembali. Bahkan keledai pun tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali, apalagi kita yang telah memiliki kesempatan untuk terlahir sebagai manusia.
Belum terlambat untuk menyusun resolusi tahun 2025 pada saat ini. Masih ada 11 bulan yang tersisa. Mulailah sejak sekarang, hari ini, jam ini, menit ini, detik ini juga. Jangan menunda sampai besok, bulan depan atau bahkan sampai tahun depan. Perjalanan hidup kita sangatlah singkat bila kita mengisinya dengan banyak hal yang berguna, akan tetapi akan berjalan dengan sangat lambat bagi orang-orang yang tidak memiliki arah dan tujuan hidup.
Dalam menyusun resolusi, kita harus memberi bobot, mana yang lebih harus diprioritaskan, mana yang kurang prioritasnya. Sehingga kita dapat mendahulukan resolusi dengan prioritas lebih tinggi. Setelah memiliki resolusi, jangan lupa untuk selalu melakukan evaluasi berkala, apa saja yang telah dicapai, apa yang belum tercapai, apakah masih mungkin untuk mencapainya sesuai dengan waktu yang diharapkan, bagaimana cara mengejar ketinggalan untuk mencapainya. Maka dari itu resolusi yang dibuat haruslah yang realistis akan dapat tercapai bukan dengan tanpa usaha, tetapi harus disertai dengan usaha kita melakukan transformasi diri.
Semoga kita semua dapat menyusun dan mencapai resolusi tahunan kita dengan baik.
Sadhu Sadhu Sadhu.