Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

UMAT BUDDHA DIPERSIMPANGAN JAMAN

U.P. Adi Dharma Iskandar Wanagiri

Jum'at, 07 Februari 2025

MBI

Para ahli sangat kreatif dalam membuat istilah. Generasi baby boomer, milenial, gen Z, generasi strawberry, pokoknya macam-macam. Mungkin banyak tujuannya, tapi saya hanya menangkap satu saja yaitu untuk memilah permasalahan. Dunia kehidupan ini begitu luas dan beragam. Banyak permasalahan memerlukan pemilahan untuk memudahkan kita melihat dan membahasnya. Dalam dunia sehari-hari hal ini penting karena tingkat berpikir setiap orang itu berbeda. Ada yang tingkat ilmuwan, ada yang tingkat ecak-ecak (seolah-olah –red) ilmuwan, dan tingkat perumah-tangga.


Namun ilmuwanpun secara garis besar ada dua kelompok yaitu ilmuwan ilmu sosial dan ilmuwan ilmu eksakta.  Dulu jaman tahun sebelum 1990 di tingkat sekolah SMA ada juruan IPS (Ilmu pengetahuan sosial) dan IPA (Ilmu Pasti Alam).  Dunia filsafat mungkin sangat sedikit memilah atau bisa juga batas-batas pemilahannya sangat lebar.  Setiap pemilahan biasanya memunculkan metoda dan pola.  Metoda dan pola ini menimbulkan bentuk-bentuk tradisi yang bersifat spesifik dan unik untuk setiap pemilahan itu.

Dalam ajaran Buddha ada dikenal sebagai Lokiya Dhamma dan Lokuttara Dhamma. Lokiya Dhamma adalah dharma duniawi, dharma yang masih dilingkaran samsara (dalam siklus lahir dan mati), kehidupan sehari-hari dan bagaimana kita berinteraksi. Etika, moral, tradisi, adalah contoh dari lokiya dhamma. Lokuttara Dhamma adalah dharma yang mengarah pada pembebasan dari roda samsara menuju Nibbana yaitu seperti ajaran tentang hukum tilakkhana, Jalan Tengah Berunsur Delapan, dan Nirwana.

Lokiya dhamma ada seribu satu variasinya. Begitu banyaknya bahkan kita kadang tidak tahu lagi siapa atau grup apa yang menciptakannya atau memulainya. Karena itu campur aduk tradisi, moral, etika, adalah hal yang biasa. Seperti contoh makanan mie dengan spagheti. Sahdan katanya berasal dari Tiongkok dan dibawa oleh Marcopolo ke Itali. Kita makan dengan duduk di meja, ini tradisi dari mana? Juga memakai sendok dan garpu. Katanya sendok asalnya dari Eropa tetapi kenyataannya orang Eropa lebih banyak menggunakan garpu saja dengan pisau. Jarang makan menggunakan sendok dan garpu.

Dalam konteks ritual agama Buddha kita sudah biasa mendengar sutta dan gatha dilantunkan dengan irama. Berirama ini adalah lokiya-dhamma. Bahwa suara berirama itu mempunyai daya gaib bagi pendengarnya maka dilantunkan dengan irama. Di dalam ilmu musik juga sama. Sebuah lagu kalau iramanya tidak memahami alam gaib pendengarnya, lagu itu tidak akan populer atau menjadi hit. Suasana gaib manusia itu beragam sesuai dengan kondisi dan jamannya tetapi pada dasarnya ditentukan oleh kondisi brahma vihara orang atau masyarakat itu, atau juga kondisi kekotoran batin.

Dalam suasana penuh metta biasanya irama pop. Lalu kalau karuna iramanya biasanya mendayu-dayu. Dalam kondisi mudita menggunakan irama rancak, irama disko, jazz pop. Dan dalam kondisi upekkha irama yang cocok adalah irama suara alam, irama halus tenang. Selain itu ada juga irama lobh-dosa-moha seperti irama rock. Saya tidak peduli telinga orang yang mendengarnya pecah atau sakit, yang penting saya mau teriak-teriak sekeras mungkin. Lalu kalau sedang galau, curhat, marah, itu musik rap. Penyanyinya ngomel apa kita tidak tahu.  Kalau sedang mabuk minuman atau narkoba, mungkin cocok irama blues. Kalau jaman dulu iramanya dengan memukul tambur sekeras mungkin. Pada saat akan maju berperang maka tambur dipukul untuk membakar semangat dan amarah terhadap musuh. Itulah seniman.  Dari Brahma-vihara dan kekotoran batin para seniman menciptakan lokiya dhamma berupa irama-irama dan juga alat musik yang sesuai.

Banyak umat Buddha merasa galau ketika mengetahui di kebaktian Buddhis pakai nyanyi lagu-lagu pujian kepada Buddha. Apakah itu salah? Lokiya-dhamma atau kadang disebut juga dharma hasil kesepakatan, itu sangat relatif. Berubah sesuai kondisi dan jamannya. Bagi generasi strawberry, musik gamelan tradisional bisa membuat penyakit alerginya muncul.  Tetapi musik gamelan yang dikombinasikan dengan kekinian, mereka bisa menjadi kagum dan ide kreatifnya memancar terang. Akan muncul makanan tempe keju. Begitu juga dengan kebaktian Buddhis, kalau iramanya dilantunkan kacau bahkan dengan suara dan irama yang salah (false), suasana menjadi tidak khusuk dan sakral. Yang ikut hanya generasi sebelum baby boomer, sementara generasi mudanya mencari ketempat lain yang iramanya enak didengar, yang bisa membawa hati tentram, riang gembira dan damai.

Karena itu umat Buddha perlu memperhatikan tata kelola kebaktian. Perlu berbenah. Kebaktian baru juga dimulai, mungkin baca paritta atau kheng, tiba-tiba suara pemimpin kebaktiannya false naik turun tidak jelas mau suara irama rock atau suara alam. Begitu pula lalu ada umat di belakang yang punya suara tenor, menggelegar keras tapi pakai suara musik raggae. Suasana kebaktian di cetiya atau wihara itu menjadi seperti gedung konser yang hanya tinggal pemain musiknya saja. Kosong tidak ada yang hadir. Kalaupun ada yang hadir mungkin ia sedang jalan pulang ke rumah tapi tersesat.

Lalu apakah agama Buddha perlu merubah iramanya dengan yang baru? Irama paritta dan kheng kalau dilantunkan dengan suara yang bagus, iramanya benar dan rapih, akan memberikan aura positif yang sangat kuat. Bahkan ada juga paritta dan kheng yang diiringi dengan alat musik yang sesuai. Gaungnya sangat indah. 

Jangan kita menjadi lepas landas tidak tahu berpijak dimana. Banyak sekali tradisi agama Buddha yang diadopsi oleh tetangga, dikemas dan disesuaikan (di-customized) dengan tepat, menjadi sangat indah. Dan umat Buddha melihat ini lalu menirunya dan merasa seakan agama Buddha telah meniru tradisi tetangga. Ini ibarat daun teh dari Indonesia di ekspor ke Inggris, lalu orang Indonesia yang pergi ke Inggris dengan bangga membeli Teh Inggris untuk oleh-oleh temannya di Indonesia. Ia bangga membawa oleh-oleh Teh Inggris dan tidak tahu bahwa daun tehnya berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Itulah namanya generasi lepas landas.

Bukan hanya tradisi Buddhis yang banyak diadopsi oleh tetangga, bahkan meditasi, ajaran brahmavihara dan tilakkhana, serta pandangan tentang Ketuhananpun sudah diadopsi oleh tetangga. Umat Buddha perlu membuka cakrawalanya secara lebih luas sementara itu perlu memahami lebih baik lagi tentang ajaran Buddha. Yang paling kunci adalah memahami apa dan bagaimana peran Guru Agung Buddha dalam hidup kita ini. Mengapa kita beragama Buddha? Kita perlu bisa menguraikannya secara singkat dan sederhana.

Buddha adalah penunjuk jalan, bukan penguasa jalan. Buddha adalah Guru, pendidik, bukan pemaksa yang bermain dengan ancaman dan hadiah. Buddha berasal dari manusia biasa seperti kita, dan telah mencapai Pencerahan Agung sebagai hasil dari usaha sendiri. Karena kita manusia yang sama seperti Siddharta Gautama, kita juga pasti bisa menjalani jalan Buddha untuk mencapai Nirwana. Tetapi kalau Buddha bukan manusia biasa melainkan utusan langit sementara kita ini bukan utusan langit, ajaran itu hanya menjadi cerita-cerita yang tidak membebaskan kita dari lahir-tua-mati. Beda dimensinya. 

Untuk itu umat Buddha tidak perlu galau dalam beradaptasi dengan perubahan jaman. Selama adaptasi itu tidak menyimpang dari inti ajaran Buddha tentang Sila, Tilakkhana (anicca – dukkha – anatta), Empat Kesunyataan Mulia, dan Brahmavihara, maka menurut penulis hal itu adalah kewajaran. Termasuk dikatakan adanya kebaktian anak muda Buddhis dengan musik-musik pujian. Umat Buddha harus bisa move-on.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS