Jangan Menangis di Hari Waisak
M.U.P. Dharma Candra Krishnanda Wijaya Mukti
Kita lebih beruntung dari Asita. Tidak perlu ada Asita lagi yang menangis. Kita masih sempat mendengar dan mempelajari apa yang pernah diajarkan oleh Buddha. Tidakkah kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Kita renungkan saat menyambut detik Waisak, jangan menangis di Hari Waisak. Selamat Hari Waisak !
Awal perjalanan usia seorang manusia ditandai peristiwa menangis. Begitu dilahirkan anak manusia langsung menangis. Ia sendiri yang menangis. Mendengar tangisnya, orang yang menolong persalinan, apakah itu dokter, bidan, atau dukun merasa lapang dan tertawa gembira. Sang ibu, ayah, dan semua sanak keluarga menyambutnya dengan penuh suka cita. Tentu, bayi menangis pertanda sehat.
Keberadaan manusia, pengalaman dalam arus perjalanan hidupnya di tengah pergerakan alam semesta ini merupakan teka-teki yang mengusik keinginan tahu dan membentuk segala harapan manusia. Manusia mengharap-harap adanya penyelamatan. Manusia mencari-cari kebahagiaan yang abadi. Apakah manusia akan menemukannya sendiri? Atau Tuhan yang akan membimbing? Banyak manusia menaruh harapan dan menunggu kedatangan Dia yang akan menjadi juruselamat.
Bagaimana mengenali Sang Juruselamat? Sangat mungkin wujudnya Manusia. Konon ada seorang Anak Manusia yang lahir tidak menangis. Ia berkata. Ya, ia tidak menangis, tetapi berkata, “Akulah pemimpin di dunia ini. Akulah Yang Tertua di dunia ini. Akulah Yang Teragung di dunia ini. Bagiku inilah kelahiran yang terakhir, tiada lagi ada tumimbal lahir berikutnya.” Begitu lahir ia berdiri tegak dan berjalan tujuh langkah di atas tujuh kuntum bunga teratai. Ketika itu purnama sidhi di bulan Waisak.
Semua orang bersuka-cita menyambut kelahiran Anak Manusia yang membuat mukjizat tersebut. Mereka yang bersaksi melukiskannya bagai terbuai mimpi yang penuh bahasa dewata. Bersamaan dengan peristiwa itu cahaya terang benderang meliputi jagat raya. Semua makhluk seketika merasakan damai, melupakan amarah dan menghentikan perkelahiannya.
Beraneka bunga pun mekar dan harumnya menyebar ke segala penjuru.
Sebagai fakta sejarah peristiwa kelahiran di Taman Lumbini (Nepal) ini terjadi pada tahun 623 S.M. Siapa Dia Anak Manusia yang dilahirkan? Ia anak raja, keturunan Sakya, dan tentu menjadi pewaris takhta. Asita Kaladewala, seorang petapa di pegunungan Himalaya mendapat bisikan dewa dari Surga Tavatimsa. Bayi itu calon Buddha.
Asita bergegas pergi ke istana Kapilawastu untuk menyaksikan sendiri. Ia melihat Sang Pangeran terbaring tidur di atas seperai jingga, di bawah tirai yang putih warnanya. Sungguh, dalam pengamatannya, Asita menemukan tanda dari seorang Mahapurisa (Orang Besar) pada Bayi yang rupawan itu. Bahagia benar ia tampaknya. Seru Atisa seketika, “Tiadalah bandingannya, Dia Yang Tertinggi, Manusia Sempurna.” Ia bersujud, menyembah dengan sangat tulus.
Namun dalam sekejap saja, begitu tiba-tiba, petapa itu terisak tangis. Ia menangis sedih. Sang Ayah, yakni Raja Suddhodana dan semua orang yang berkerumun di sekitarnya sangat terkejut. Ada apa? Tentu saja mereka menjadi cemas khawatir pada nasib Sang Pangeran. Kemudian Asita yang tidak menyembunyikan kesedihannya itu menjelaskan, bahwa tiada yang mengkhawatirkan pada diri Sang Bayi.
Ia menangis karena menyesali nasibnya sendiri yang malang. Tiada lagi kesempatan baginya untuk menunggu hingga saat Bayi itu menjadi Buddha dan mengajarkan agamanya. Kesaksian tentang Asita ini datang dari Nalaka, keponakan petapa itu sendiri yang mendapatkan amanat untuk berguru pada Buddha bilamana waktunya telah tiba. (Sutta Nipata, Nalaka Sutta)
Pangeran itu diberi nama Siddhattha yang berarti ‘Tercapailah segala cita-citanya’. Siddhattha diarahkan oleh ayahanda raja agar kelak menjadi seorang maharaja. Karena itu ketika Siddhattha pergi meninggalkan istana, raja dan segenap anggota keluarga istana merasa kehilangan, menangis sedih atau kecewa. Sadarlah mereka, Manusia yang satu ini bukan milik sang ayah, bukan milik istana Kapilawastu, bukan milik kaum Sakya.
Siddhattha yang menghilang dari istana, sebagai musafir, berdiri di depan pintu rumah untuk mendapatkan sumbangan makanan. Pengemiskah Dia? Raja Bimbisara sempat melihat Siddhattha. Ia sangat terpesona pada Siddhattha sehingga dengan spontan menghadiahkan sebagian dari kekuasaan dan kekayaan kepadanya.
Ternyata hadiah itu ditolaknya. Kalau betul ia pengemis, sungguh sukar dimengerti, mengapa ia menolak hadiah itu. Inilah penjelasannya sendiri, “Telah Kusaksikan derita hidup duniawi, telah kubuktikan ketentraman tanpa belenggu duniawi. Maka pergilah aku, pergi dan terus berjuang. Inilah kebahagiaan bagiku. Tenanglah di sini batinku.” (Sutta Nipata, Pabbajja Sutta)
Setelah bertapa selama enam tahun, datanglah kemudian Penerangan Sempurna. Tradisi Buddha tidak menyebutkan wahyu yang diperoleh tiba-tiba tanpa didahului adanya usaha manusia. Apa pun yang diperoleh atau bagaimana pun jalan hidup seseorang tidaklah lepas dari perbuatannya di masa yang lalu atau hidupnya pada semua kelahiran yang terdahulu. Menjadi Buddha hanya dimungkinkan setelah manusia membebaskan diri dari segala kejahatan, menimbun kebajikan dan membersihkan pikiran.
Jagat raya ini dan seluruh penghuninya ikut bersuka-cita, menyambut munculnya Buddha, yang mendapatkan Penerangan Sempurna di Bodhgaya. Ketika itu purnama sidhi di bulan Waisak pada tahun 588 SM.
Ketika pertama kali mengajarkan ajarannya, ia menyatakan diri sebagai Tathagata, Yang Sempurna dan mencapai kekekalan. Tidak salah Tathagata adalah manusia. Buddha pun mengingatkan, “Orang yang memperhatikan pada rupa yang terlihat, dan yang mencari melalui suara yang terdengar, ia sebenarnya sedang berjalan menuju arah yang sesat, tak akan ia pernah bertemu dengan Tathagata yang sejati.” (Vajracchedika Prajna Paramita Sutra)
Selama empat puluh lima tahun Buddha mengajarkan agamanya. Banyak orang yang dibimbingnya mencapai Penerangan Sempurna. Mereka yang belum selamat, Ia selamatkan. Mereka yang belum bebas dari belenggu, Ia bebaskan. Tetapi penyelamatan oleh Buddha bukanlah ketergantungan pada belas kasihan Buddha. Manusia sendiri yang menentukan nasibnya. Setiap orang harus berusaha sendiri, Buddha hanya menunjukkan Jalan.
Akhirnya tibalah saat Buddha meninggalkan segala yang fana di dunia ini. Tathagata tidak datang dari mana-mana pun tidak pergi ke mana-mana. Tetapi manusia Buddha mengembuskan nafas yang terakhir di Kusinara. “Segala sesuatu yang tercipta, yang terjadi dari paduan unsur, suatu waktu kelak pasti akan hancur kembali.” (Culla Vagga XI)
Sejumlah biksu menangis saat Buddha wafat atau mencapai parinirwana. Mereka masih belum dapat mengendalikan emosinya. Tetapi para biksu yang sudah mencapai keseimbangan batin menghadapi peristiwa itu dengan penuh pengertian. Mereka memelihara ajaran Sang Guru agar lebih banyak lagi orang-orang yang mengenal dan memanfaatkan bimbingannya. Seorang Buddha tidak muncul sembarang waktu dan di sembarang tempat. Banyak orang yang tidak berkesempatan mengenalnya. Tetapi kesempatan untuk mendengar ajarannya akan selalu terbuka.
Kita lebih beruntung dari Asita. Tidak perlu ada Asita lagi yang menangis. Kita masih sempat mendengar dan mempelajari apa yang pernah diajarkan oleh Buddha. Tidakkah kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Kita renungkan saat menyambut detik Waisak, jangan menangis di Hari Waisak. Selamat Hari Waisak !
Sumber Artikel
"Keselamatan di Bumi" - K. Wijaya Mukti, 2021 Diandharma