Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Merayakan Dharma cara kekinian, merawat tradisi dengan Inovasi

Cari

Tampilkan Artikel

Merayakan Dharma cara kekinian, merawat tradisi dengan Inovasi

U.P. Mita Kalyani Irma Gunawan

Jum'at, 23 Mei 2025

MBI

Tahun 2025 menjadi saksi nyata bagaimana perayaan Waisak semakin dinamis dan relevan di tengah perubahan zaman. Selain tetap mempertahankan ritual sakral seperti detik-detik Waisak di tengah malam, kebaktian di candi, dan pindapata, kemeriahan Waisak kini juga merambah pusat perbelanjaan modern.  Berbagai kegiatan kreatif seperti tea meditation yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI), Rupang Buddha dan Ratu Mahamaya melayang yang juga dapat rekor MURI, pentas anak Sekolah Minggu Buddhis, hingga kolaborasi lintas agama menunjukkan semangat baru dalam menyebarkan Dharma.  Semua ini merupakan buah karya generasi muda yang berhasil menghadirkan wajah Buddhadharma yang segar dan relevan.


Awalnya, banyak yang merasa canggung melihat ritual dan kebaktian dilakukan di Mal. Pertanyaan seperti "Apakah ini mengurangi kesakralan?" atau "Bagaimana nasib wihara ke depan?" sempat mengemuka.  Namun inilah hakikat anicca / ketidak-kekalan yang diajarkan Buddha - zaman berubah, gaya hidup berubah, dan cara menyebarkan Dharma pun perlu menyesuaikan diri. Justru dengan berinovasi, kita menjaga agar ajaran Buddha tetap relevan dan mudah diakses oleh generasi sekarang.

Mall sebagai ruang publik ternyata menjadi media yang efektif untuk menyebarkan Dharma. Dulu, banyak anak muda bertanya mengapa Waisak tidak semeriah perayaan agama lain atau terkesan eksklusif di wihara. Kini, melalui kreativitas komunitas Buddhis, Waisak menjadi lebih inklusif dan dikenal luas. Di ruang publik ini, masyarakat non-Buddhis bisa memahami bahwa Waisak bukan sekadar ritual, tetapi perayaan nilai-nilai luhur seperti cinta kasih (metta), kebijaksanaan (pañña), dan kedamaian.

Sigalovada Sutta (DN 31) mengajarkan tentang empat jenis teman sejati, salah satunya adalah "teman yang memberi nasihat baik". Dalam konteks kekinian, generasi muda yang berinovasi ini ibarat "teman" yang membantu Dharma tetap relevan di era digital. Daripada mengeluh tentang generasi muda yang jarang ke wihara, lebih baik kita menciptakan wadah yang sesuai dengan minat mereka.  Pindapata dan meditasi di mal, pentas seni, atau diskusi inspiratif adalah bentuk upaya-kausalya yang efektif untuk menarik mereka kembali ke jalan Dharma.

Vimalakirti Nirdesa Sutra mengingatkan kita bahwa meskipun Buddha hanya mengajar dengan satu suara, setiap pendengar memahami sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Ini menunjukkan bahwa Dharma tak berubah, tetapi cara menyampaikannya harus fleksibel. Jika dulu Buddha mengajar dengan bahasa setempat (Majjhima Nikaya 139), kini kita bisa menggunakan media sosial, event kekinian, atau kegiatan di mal untuk tujuan yang sama, menyebarkan kebaikan.
Tradisi kebaktian di wihara tetap penting sebagai akar spiritual yang tidak boleh ditinggalkan. Namun, kehadiran Waisak di mal sebagai bentuk kreativitas patut diapresiasi. Daripada sibuk mempertahankan "kekuasaan kepengurusan" atau bersikap sinis terhadap perubahan, lebih baik kita mendukung inovasi yang tujuannya mulia, melestarikan Dharma untuk generasi penerus.

Waisak 2025 mengajarkan kita bahwa Dharma bisa kokoh dalam tradisi, namun lentur dalam penyampaiannya. Seperti air yang mengalir, Dharma akan menemukan celah untuk sampai ke mana pun dibutuhkan. Mari kita apresiasi setiap upaya, baik yang konvensional di wihara maupun yang kekinian di mal, karena keduanya adalah bagian dari Buddhasasana yang saling melengkapi.

Selamat merayakan Waisak 2025 dengan sukacita dan makna! Semoga melalui berbagai cara penyampaian yang kreatif ini, semakin banyak makhluk yang berbahagia. Sabbe satta bhavantu sukhitata.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS