Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenang Ibu Susiani Intan, Guru yang menunjukkan jalan bagiku

Cari

Tampilkan Artikel

Mengenang Ibu Susiani Intan, Guru yang menunjukkan jalan bagiku

Upasika Ratnavati Lim Ho Lian

Jum'at, 30 Mei 2025

MBI

Dalam perjalanan hidupku yang sudah memasuki usia ke 59 tahun ini, banyak bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam orang. Salah satunya, Ibu Susiani Intan. Guru agamaku semasa duduk di bangku SMA.  Ibu Intan punya tempat khusus di hatiku. Beliau sosok yang banyak menginspirasiku, mendorongku untuk selalu belajar mengembangkan diri.


Berperawakan jangkung, mengenakan kaca mata dengan bingkai putih, berkulit terang, kuning langsat, berhidung mancung, dengan rambut keriting sebahu. Setiap hari mengenderai motor bebek warna merah ke sekolah. Kulit wajahnya sangat bersih, bercahaya. Suaranya halus. Bibirnya selalu menebarkan senyum. Aku pernah berpikir, apakah beliau perwujudan dari seorang bodhisatwa, seperti yang ada di buku-buku itu.

Aku benar-benar terkesan. Aku merasa menemukan sosok panutan yang nyata, tidak sekedar tokoh protagonis di buku-buku cerita dongeng yang pernah kubaca. Dari beliau, untuk pertama kalinya aku belajar tentang hukum karma dan sebab akibat yang saling bergantungan. Malu berbuat jahat, dan takut untuk menerima akibat dari perbuatan jahat itu. Hiri dan ottapa. Dari sini, rasa ingin tahuku untuk mendalami Buddha Dharma kian tergali. Dan, beliau dengan sabar mengajariku.

Beliau juga yang menyarankan untuk mulai mengisi waktu dan menambah uang saku, dengan memberi les-lesan pada anak-anak SD. Beliau membantuku dengan memberi lima orang murid padaku. Belakangan berkembang, menjadi dua sesi. Siang, jam 15-17, dan malam jam 19-21.

Untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahku sendiri, aku lakukan di pagi hari. Aku bangun pukul 4, masih dalam kondisi terkantuk-kantuk. Kadang aku merendam kakiku dengan air dingin untuk melawan rasa kantukku itu. Aku merasa harus belajar lebih keras untuk mengejar banyak ketertinggalan. Aku tidak sepintar teman-teman lain. Aku hanya berusaha menutupi kekuranganku dengan rajin mencatat, dan menyimak penjelasan guru.

Saat aku flash back dan merenung, mengingat fase demi fase yang sudah kulewati, aku hanya bisa mengucap syukur. Bersyukur, karena di sepanjang perjalanan hidupku, aku banyak bertemu dengan orang-orang baik. Apapun adanya aku hari ini, aku tetap mensyukuri porsiku. Jalan karmaku. Aku lahir dan mewarisi karmaku sendiri, baik maupun buruk. Karena itu, tidak ada yang perlu aku sesali. Tidak ada yang perlu kusembunyikan pula.

Saat kecil dulu, aku suka menghabiskan senja, memandang ke cakrawala. Duduk berayun-ayun di dahan pohon belimbing yang tumbuh di depan rumah kami. Imajinasiku mengembara seperti awan berarak yang ditiup angin, di antara langit jingga keemasan.

Memanjat pohon belimbing itu merupakan kenangan tak terlupakan bagiku, bahkan sampai setua ini. Di sanalah, aku mulai merajut angan, sembari merasakan lembutnya hembusan angin saat menyentuh pipiku, dan menerbangkan anak rambut yang memenuhi keningku. Dan seiring waktu, aku sampai pada satu pemahaman baru, bahwa karma itu bisa dirubah. Asal mau berusaha. Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Di situ, harapanku mulai muncul. "Baik buruk ditentukan tekad diri sendiri, bukan oleh asal usul keturunanmu," demikian yang sering disampaikan oleh ibu Intan padaku. Mungkin beliau iba melihatku, yang selalu datang padanya dengan membawa begitu banyak tanya. Mungkin juga beliau bermaksud membesarkan hatiku, agar tetap semangat dan percaya diri. Keyakinanku kian diperteguh saat aku baca buku tentang Liao Fan. Kutanamkan baik-baik dalam benakku, baik buruk, diri sendiri yang tentukan. Pikiran adalah pelopor.

Saat kelulusan SMA, di luar dugaan, aku diterima di UNPAD Bandung, di Fakultas Ilmu Komunikasi, jurusan Ilmu Jurnalistik, lewat jalur PMDK. Aku tidak tau harus sedih atau gembira mendapat berita tersebut. Sebab, dari jauh-jauh hari, ayahku sudah mengatakan, tak sanggup menguliahkanku ke Medan. Apalagi ini ke Bandung. Sebagai anak, aku pun paham dengan kondisi finansial keluarga kami. Selain itu, adikku juga banyak. Ada 5 orang, dan mereka laki-laki semua. Aku tak boleh egois, hanya memikirkan diri sendiri. Adik-adikku pun berhak mendapatkan pendidikan yang baik. Jangan karena aku, sekolah adik-adikku jadi terlantar.

Saat itu, hatiku berkecamuk. Aku merasa gundah. Aku harus mengubur dalam-dalam semua mimpiku. Akhirnya aku putuskan, tak lanjut kuliah pun tak apa-apa. Aku masih bisa terus mengajar anak-anak SD.

Namun, aku menjadi goyah kembali, saat ada yang datang melamar. Dari dua orang berbeda. Yang satu dari sahabat penaku. Tapi yang ini langsung ditolak oleh ayahku. Ayah bahkan tidak bersedia menemui keluarganya saat datang ke rumah. Hanya ibu yang menemui mereka.

Yang satu lagi, ayah tampaknya suka. Karena latar belakang keluarganya terbilang baik. Ayah sempat menanyakan pendapatku. Saat itu, aku menolak. Aku tak ingin menikah muda. Kami tidak saling kenal. Bahkan usianya 15 tahun di atasku. Aku benar-benar tidak siap. Ayahku mengerti, dan tidak memaksa.

Aku berpikir, lambat atau cepat, aku pasti akan menikah, kalau tidak cepat-cepat keluar dari Tanjung Balai. Dalam kebingungan itu, aku datang dan bercerita pada ibu Intan. Aku ceritakan semuanya. Saat itu beliau bertanya: "Sebenarnya kau ingin kuliah kan?" Aku mengangguk cepat, mengiyakan. Beliau terdiam sejenak, lalu menarik tanganku. "Ayo, kita temui ayahmu sekarang" ujarnya cepat, dan menyalakan mesin motor.

Seperti dugaanku, ayahku tetap bersikukuh tidak memberi izin. Dengan berbagai macam argumen, dan ungkapan kekhawatirannya melepas anak gadisnya untuk pergi merantau di tempat asing, dimana di sana tidak ada sanak saudara, yang bisa turut mengawasiku nanti.

Aku paham situasinya. Aku tak berani membantah, hanya bisa diam. Dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan. Apa yang bisa kulakukan? Aku benar-benar merasa tak berdaya saat itu. Pasrah.

Ibu Intan tidak menyerah. Beberapa hari kemudian mengajakku kembali menemui ayahku, di Teluk Nibung, di sebuah pabrik minyak goreng, tempat ayahku bekerja kala itu. Dan seperti yang sudah kuduga, ayahku tetap tak memberikan izinnya. Aku hanya bisa diam, tapi tak bisa kupungkiri, ada kesedihan yang mendalam di hatiku.

Ingin membantah, tapi aku tak punya keberanian untuk melakukannya. Kata-kata ayahku bagaikan sabda seorang raja yang tak bisa dibantah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Terjadi pergulatan batin yang hebat dalam diriku. Antara mematuhi kehendak orangtuaku, dan keinginanku sendiri untuk melanjutkan pendidikan. Aku benar-benar merasa lelah dan putus asa saat itu. Semua harapanku sirna, tubuhku lemas, mulut terasa pahit, tidak nafsu makan sama sekali. Aku terbaring dan hanya diam, tak berkata apa-apa.

Selama bersekolah di Tanjung Balai dan hidup menumpang di rumah pamanku, aku tidak pernah sakit. Betapa Semesta melindungi dan menjagaku dengan sedemikian rupa. Sejauh yang bisa kuingat, inilah kali pertama aku jatuh sakit, dan boleh dibilang lumayan serius. Panas tinggi, demam tak turun-turun. Bahkan, aku tak sanggup bangun dari tempat tidur selama berhari-hari.

Melihat keadaanku yang diam membisu, hati ayahku tergugah, mulai melunak, hingga akhirnya menyerah. Ayah mengizinkan aku ke Bandung, asal aku sembuh. Terimakasih Semesta. Cara kerja hukum alam itu sungguh tak terduga. Bahkan kadang di luar jangkauan nalar manusia. Aku hanya bisa mengucap syukur dan cepat-cepat menyampaikan berita ini pada ibu Intan.

Lalu, ibu intan mulai bergerak. Menghubungi Bhante Arya Maitri yang kala itu menetap di wihara Borobudur Medan. Beliau asli orang Bandung. Bhante mengatakan bahwa, adiknya juga, Ananda Salim, kuliah di fakultas yang sama, hanya beda angkatan dan jurusan.  Miracle!

Begitulah, akhirnya, aku, si gadis kampung yang culun itu, bisa berangkat ke Bandung. Ayahku berpesan, kalau aku merasa tidak betah, aku bisa pulang kapan saja. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Aku tak perlu membuktikan apa-apa. Ayah tidak akan marah.

Setahun kemudian, saat pulang kampong, aku menemui ibu Intan.   Menceritakan

pengalamanku sebagai mahasiswa perantau di Bandung. Ibu Intan hanya berpesan, untuk menjaga diri baik-baik. Aku pun sempat bertemu beberapa kali dengan beliau. Termasuk memperkenalkan suami, kakak dan adik-adikku pada beliau. Terakhir, menjenguk beliau sakit, ditemani putri bungsuku. Beliau masih bisa mengingatku dengan baik. Selama kami bercakap-cakap, tangannya terus menggenggam tanganku.

Ibu Intan, terimakasih untuk semua kebaikanmu. Terimakasih untuk semua dukungan mu, sehingga aku punya keberanian untuk memperjuangkan cita-citaku. Aku akan selalu mengenangmu. Kau pahlawan dalam hidupku.

Semoga Ibu terlahir di alam yang berbahagia. Tri Ratna selalu menyertai Ibu, di mana pun Ibu berada.
Sadhu, sadhu, sadhu.


(Catatan : Ibu U.P. Susiani Intan Siu Siang Lao She adalah Pandita senior, Guru Agama Buddha dan Pelopor Agama Buddha di Tanjung Balai, Sumatera Utara, yang meninggal tanggal 26 Mei 2025)

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS