Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Belajar Dharma dalam Setetes Air (Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025)

Cari

Tampilkan Artikel

Belajar Dharma dalam Setetes Air (Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025)

U.P. Panna Dhamma Haryanto Tanuwijaya

Kamis, 05 Juni 2025

MBI

Seperti halnya air menyatu dan menyatukan, demikian pula kehidupan ini terjalin oleh berbagai kondisi yang bergantung satu sama lain. (Mahāhatthipadopama Sutta, MN. 28)


Setiap tahun tepat tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang pada tahun 2025 mengusung tema global “Our Power, Our Planet”. Tema ini dimaksudkan menggugah tanggung jawab bersama semua elemen, mulai dari pemerintah, perusahaan, masyarakat termasuk tanggung jawab setiap individu untuk bersama-sama melakukan tindakan kolektif guna menyelamatkan planet ini demi masa depan generasi selanjutnya.

Di tahun 2025, setiap orang diajak untuk berperan serta dalam menjaga lingkungan hidup demi kelentarian bumi yang kita tinggali. Ajakan ini jelas sejalan dengan ajaran Buddha bahwa kekuatan terbesar manusia terletak pada kesadaran dan kebijaksanaan untuk dapat hidup selaras dengan alam. Sebagaimana dikatakan Thich Nhat Hanh, Zen master yang terkenal dengan tulisannya “sadar-penuh” (mindfulness), bahwa “Kita bukanlah terpisah dari bumi; kita adalah bagian dari bumi, dan bumi adalah bagian dari kita.”  Dengan demikian semua makhluk dan alam memiliki saling ketergantungan dalam jejaring kehidupan yang harmonis, seperti yang Buddha ajarkan dalam Pattica Samuppada.

Air dalam perspektif Dharma

Dalam ajaran Buddha, air (Āpo-dhātu) merupakan satu dari empat elemen dasar alam semesta yang menopang keberlangsungan kehidupan. Sebagaimana tertulis dalam  Mahāhatthipadopama Sutta, MN 28, Buddha berkata, "Seperti halnya air menyatu dan menyatukan, demikian pula kehidupan ini terjalin oleh berbagai kondisi yang bergantung satu sama lain." Unsur air melambangkan kohesi, penyatuan serta kehidupan yang memenuhi kebutuhan biologis serta unsur spiritual tentang keterhubungan dan ketidakterpisahan. Air menjadi unsur penting penghubung kehidupan semua makhluk hidup di muka bumi ini. Bukankah hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan Buddha dalam Paticca Samuppada, “Karena adanya ini, maka terjadilah itu; karena tidak adanya ini, maka tidak ada itu.

Kita semua pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan, Sekeras apapun batu, jika terus-menerus terkena tetesan air akan berlubang juga”. Pernyataan ini merupakan perumpamaan untuk memotivasi kita agar dalam melakukan segala sesuatu harus memiliki ketekunan dan kesabaran. Dengan ketekunan dan kesabaran maka segala sesuatu yang tidak mungkin sekalipun dapat ditembus atau dilakukan. Perumpaman ini juga mengajarkan kita, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan terus menerus secara konsisten pasti memberi hasil yang kita harapkan asalkan memiliki kesabaran. Bukankah hasil tidak pernah menghianati proses?

Perlu diingat bahwa kesabaran (khanti) bukan hanya mampu menahan diri dari amarah, namun juga mencakup kekuatan batin untuk tetap tenang, tidak mudah terguncang, dan penuh welas asih di tengah kesulitan, hinaan, penderitaan, maupun tantangan hidup lainnya.  Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan Buddha dalam Dhammapada (ayat 184), "Kesabaran adalah kualitas tertinggi dalam kehidupan suci; Nirwana adalah tujuan tertinggi." Kesabaran dapat menciptakan hubungan yang harmonis, menguatkan batin, dan mengurangi penderitaan. Mengutip apa yang disampaikan Mahatma Gandhi, tokoh yang dengan penuh kesabaran dan keteguhan memperjuangkan kebenaran, "Dalam dunia ini, tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kesabaran dan waktu."

Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan dapat menyesuaikan bentuknya ketika bertemua dengan benda apapun dalam lingkungan bagaimanapun. Dalam hal ini, air mengajarkan kita tentang ketidakakuan (Anatta) agar kita menjalani hidup ini dengan penuh kerendahan hati. Air juga selalu berubah wujud terus-menerus, dari menguap, mencair, mengalir, dan membeku. Bukankah hal ini sesuai dengan Ajaran Buddha tentang ketidakkekalan (Anicca), "Segala yang terkondisi tiada kekal adanya."

Seorang ahli primatologi dunia, Jane Goodall, menyatakan "Setiap tetesan hujan mengingatkan kita bahwa perubahan adalah esensi kehidupan." Dengan menyadari apalagi mampu menerima perubahan, maka kita telah mengurangi penderitaan dalam kehidupan ini. Tokoh proklamasi bangsa Indonesia, Bung Karno, pernah menyatakan, "Jadilah air, yang menghidupi dan menyejukkan; bukan api, yang hanya membakar lalu padam."

Our Power, Our Planet

Tema "Our Power, Our Planet" pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, sejalan dengan prinsip ajaran Buddha yang mengajarkan bahwa kita memiliki kekuatan (power) dalam memilih tindakan sadar (sammā-kammanta) untuk melindungi bumi yang kita huni ini. Setiap umat Buddha memiliki kekuatan mempraktikkan ajaran Buddha untuk memberi perlindungan terhadap alam dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari tindakan ‘kecil’ seperti  menghemat penggunaan air, menjaga sumber air bersih alami, menanam pohon.

Kita juga dapat berpatisipasi mengurangi sampah untuk meningkatkan lingkungan hijau (green environment) dan mengurangi pemanasan global (global warming) melalui penerapan konsep 3R yaitu: 1) Reduce, mengurangi produksi dan konsumsi sampah; 2) Reuse, menggunakan kembali barang yang dapat digunakan; dan 3) Recycle, mendaur ulang sampah dari bahan seperti plastik, kaca, atau kertas menjadi produk baru layak pakai.

Seluruh tindakan ini dilakukan sambil mengembangkan kesadaran bahwa bumi juga makhluk hidup yang perlu dihormati dan disayangi, mengajak atau mengedukasi orang lain untuk bersama-sama berbuat kebajikan dengan menjaga lingkungan sekitarnya, serta bergabung dalam berbagai komunitas konservasi alam. Dalai Lama pernah mengingatkan, "Tindakan kecil, jika dilakukan oleh jutaan orang, dapat mengubah dunia." Segala tindakan kecil yang kita lakukan terhadap lingkungan alam, sebenarnya kita sedang berbuat kebajikan yaitu ber-dana untuk bumi kita tercinta ini.  Mengutip apa yang pernah Gus Dur sampaikan, "Merawat alam adalah wujud kasih sayang kepada semua makhluk, karena tanpa alam, kita semua binasa."

Setetes air mungkin terasa kecil bagi umat manusia, namun setetes air terkandung Dharma yang begitu dalam sebagai sumber kehidupan, guru kesabaran dan ketekunan, serta pelajaran tentang ketidakakuan, ketidakkekalan dan ketidakmelakatan. Mari kita semua jadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025 sebagai momentum untuk membina rasa hormat terhadap bumi, menambah praktik Metta dan Karuna, dan menggunakan planet yang kita huni ini dengan penuh kebijaksanaan.

Selamat Hari Lingkungan Hidup.
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbagia.
Sadhu, Sadhu, Sadhu.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS