Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • STEVE JOBS BUKAN SCIENTIST (Pelajaran Dharma dari sebuah Mouse)

Cari

Tampilkan Artikel

STEVE JOBS BUKAN SCIENTIST (Pelajaran Dharma dari sebuah Mouse)

U.P. Adidharma Iskandar Wanagiri

Jum'at, 13 Juni 2025

MBI

PENGANTAR          
Hampir semua orang pasti tahu apa itu Mouse pada komputer dan bagaimana alat ini sangat membantu kita bekerja dengan komputer. Bayangkan bagaimana anda bekerja dengan komputer kalau tidak ada penemuan mouseMouse adalah penemuan hebat, namun sedikit orang yang mungkin memahami bahwa kehebatan itu berbeda dengan kemanfaatannya.  


Teknologi mouse sesungguhnya sudah ditemukan lama sekali. Ditemukan pertama kali oleh Douglas Engelbart pada tahun 1961. Seorang mahasiswa Standford Institute, di Menlo Park, California, yang kemudian dipatenkan pada tahun 1967. Bentuknya adalah berupa kotak kayu yang diberi dua roda. Ia terinspirasi oleh alat Planimeter, instrumen teknik untuk mengukur area yang ditemukan pada tahun 1800-an. Mouse kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Xerox untuk aplikasi sangat terbatas didunia komputer. Harganyapun waktu itu sangat mahal, $ 300. Sampai akhirnya pada tahun 1979, Xerox mempresentasikan mouse kepada Steve Jobs, pendiri Apple Computer. Jobs sangat terinspirasi lalu mengembangkannya lebih lanjut. Mulailah revolusi pemakaian mouse diprakarsai oleh Steve Jobs untuk pertama kali diaplikasikan ke komputer Macintosh pada tahun 1984.

Sekilas mengenai Steve Jobs.  Dia lahir dari ayah bernama Abdulfattah Jandali, berkebangsaan Suriah dan ibunya bernama Joanne Simpson, berkebangsaan Amerika Serikat. Dikutip dari situs https://ameera.republika.co.id/berita/lu2tew/ini-dia-agama-yang-dianut-steve-jobs-1, Steve Jobs yang masih berusia 13 tahun tidak puas dengan jawaban dari seorang pendeta Gereja Lutheran soal anak-anak kelaparan. “Ya, Tuhan tahu segalanya,” jawab si pendeta. Mendengar jawaban itu, Jobs kecewa. Semenjak itu, ia menolak untuk menyembah 'Tuhan' yang mengizinkan penderitaan macam itu menimpa pada anak-anak. Jobs mulai beralih mencari jawaban dari ajaran-ajaran Timur sampai akhirnya Steve Jobs, pendiri Apple, itu beragama Buddha dari tradisi Zen.

Poin-poin penting dari uraian diatas adalah; (1) Steve Jobs pendiri Apple, beragama Buddha dari tradisi Zen; (2) Buddha tradisi Zen berakar dari tradisi Buddha Mahayana; (3) Steve Jobs mulai berpikir kritis, analitis, logis, dan rasional sejak berumur 13 tahun.

YANG ASLI DAN MANA YANG PALSU

Melihat dari sejarah perjalanan teknologi mouse ini menjadi menarik untuk melihat juga perjalanan ajaran Guru Agung Buddha. Buddha berasal dari India Utara (sekarang Nepal –red). Ajarannya bermula dari India Utara. Tradisi yang melingkungi Buddha adalah tradisi India. Mengetahui bahwa murid-muridNya terus bertambah banyak, Buddha menganjurkan mereka untuk pergi menyebar ke seluruh penjuru untuk membabarkan Dharma. Murid-murid Buddha selanjutnya menyebar ke Barat Laut, ke Tibet, Rusia, Mongolia, Ke Utara, ke China, dan terus menyebar ke Asia Timur. Ke Barat, ke Pakistan – Afganistan – Timur Tengah – bahkan kabarnya juga sampai ke Afrika Utara. Ke Selatan, ke India Selatan – Srilanka. Dan ke Timur, ke Myanmar – Thailand – Kamboja – Vietnam.

Perjalanan penyebaran ajaran oleh murid-murid Buddha ini tentu beradaptasi dengan pola-pola tradisi setempat. Beradaptasi dan inkulturasi dengan budaya setempat serta kondisi alam setempat juga. Namun, inti dari ajaran yang dibabarkan tetap sama, yaitu mengacu pada 8 Jalan Ariya, 4 Kesunyataan Mulia, Karma dan Kelahiran kembali, dan sebagainya. Muncul sebutan yang beragam dari group-group dharmaduta para murid ini. Yang ke Selatan menyebut sebagai Theravada, yang ke Utara menyebut Mahayana, ke Barat Daya menyebut sebagai Vajrayana.

Dari perjalanan sejarah ini, melihat jubah yang beragam serta tata ritual dan bahasa yang berbeda, sebagian umat Buddha bingung, jadi yang mana ajaran Buddha yang asli itu?

Pertanyaan ini sama halnya dengan sejarah perkembangan teknologi mouse tadi. Mouse yang ditemukan pertama kali itu dibuat dengan bentuk kotak dari kayu. Tetapi mouse yang kita pakai sekarang ini berbentuk setengah lonjong. Yang mana mouse yang asli. Yang asli adalah mouse bentuk kotak kayu. Kalau mouse kotak kayu itu asli, apakah mouse yang kita pakai sekarang ini palsu. Atau dengan bahasa halusnya mouse yang tidak asli.

MENGATAKAN ASLI DAN TIDAK ASLI = PEMAHAMAN ATTA

Buddha membabarkan tentang ANATTA. Theravada menguraikan Anatta, segala yang berkondisi itu tanpa AKU, dengan bahasa-bahasa yang lugas. Bahwa tubuh kita ini selalu berubah dari detik ke detik. Anda yang satu jam atau bahkan 5 menit yang lalu adalah berbeda dengan anda yang sekarang. Ada proses perubahan yaitu anda bertambah tua. Juga mungkin jumlah helai rambut anda juga sudah berubah, ada yang rontok hilang, atau malah ada yang baru tumbuh. Kulit anda juga tadi mungkin halus, tiba-tiba sekarang muncul bercak karena digigit nyamuk yang jahil.

Sementara yang Mahayana menguraikan Anatta ini dengan bahasa yang puitis, filosofis. Isi adalah kosong, dan kosong adalah isi. Ketika kita melihat gunung itu indah, apa yang kita lihat itu adalah isi. Ada pemandangan gunung yang indah. Namun ketika ada mendaki gunung itu, lereng yang terjal membuat anda merasa ngeri. Takut terpeleset, jatuh. Dimana indah yang tadi kita lihat tadi. Itulah contoh sederhana bahwa indah yang kita lihat itu adalah isi, namun sesungguhnya itu kosong tanpa inti. Tetapi sebaliknya, indah yang kosong itu sesungguhnya ada isi yaitu lereng-lerang terjal yang berbahaya. Yang tadi kosong, sesungguhnya juga ada isi. Tubuh yang indah adalah isi, namun tubuh ini berproses lalu sakit tua dan mati, indah tadi lenyap. Tubuh indah itu tidak ada artinya lagi, menjadi kosong. Theravada menyebut tubuh yang indah itu adalah tulang berbalut daging untuk menggambarkan jangan terjebak pada sesuatu yang indah itu.

Yang mana yang asli dan yang mana yang tidak asli. Uraian Theravada yang asli, atau uraian Mahayana yang asli? Dan yang mana yang bukan asli, tidak otentik. Umat Buddha jangan terjebak dengan bentuk pikiran atta seperti itu. Buddha mengajarkan tentang panna (kebijaksanaan). Bentuk-bentuk pikiran yang tidak bijaksana akan mudah terjebak pada melihat bentuk dan uraian semata dan lupa akan esensi ajaran itu.

Jangan terjebak melihat Mouse yang sekarang ini menjadi berbentuk setengah bulat lonjong tanpa roda dan kabel, dan membandingkannya dengan mouse pertama berbentuk kotak terbuat dari kayu dan ada 2 roda. Semua itu adalah isi tapi kosong, dan kosong tapi isi. Steve Jobs mampu melihat esensi dari anatta itu maka ketika ia pertama kali dipresentasikan oleh Xerox akan teknologi ini, Steve Jobs seakan tercerahkan. Ia tidak melihat bentuk dari benda itu melainkan pikirannya seketika memahami fungsi dan benda itu, esensinya untuk ia aplikasikan dan padukan dengan teknologi lain yaitu komputer.

Sejarah IBM juga menarik dalam hal ini. Dulu sekitar awal tahun 1980-an kalau kita berbicara tentang komputer PC, pengertian kita langsung tertuju pada komputer IBM PC. Sebutan PC berasal dari IBM, singkatan dari Personnal Computer, komputer pribadi. Namun sayang sekali, para scientist di IBM saat itu melihat komputer PC tidak akan berkembang, atau dilihat sebagai terlalu kecil nilai bisnisnya. IBM lalu berfokus pada komputer main frame, komputer kapasitas besar biasanya dipakai untuk bank atau perusahaan besar. Sementara PC dilihat sebelah mata yang akhirnya sebutan dan konsep komputer PC ini tidak dipatenkan. Komputer PC sasaran pasarnya adalah orang-orang pribadi karena itu kemampuan PC pun dianggap kecil, dan tidak menarik. Gagasan PC ini karena tidak dipatenkan oleh IBM seketika disambut ramai oleh industri-industri sejenis seperti HP, Dell, ACER, dan lain-lain. Mereka langsung mengadopsi konsep komputer PC ini, memproduksinya secara besar-besar, yang ternyata dapat mengalahkan Main Frame computer. Dan anda salah satu pemakai komputer PC versi lanjutannya yaitu laptop, atau tablet, bahkan smart phone.

Umat Buddha, atau tokoh-tokoh Buddhis kalau hanya terpaku pada pemahaman ajaran Buddha yang asli dan tidak asli, atau tradisi asli dan tidak asli semata-mata untuk membanggakan tradisi yang dianutnya, saya berhipotesis bahwa agama Buddha akan menjadi kerdil ibarat perusahaan IBM yang tadinya berkibar hebat di dunia komputer dan sekarang mungkin tinggal generasi baby boomer saja yang mengenalnya. Orang sekarang lebih kenal pada NVIDIA, Google, Microsoft, Deepseek, ChatGPT. Berpikir asli dan tidak asli adalah sangat  jauh dari bijaksana dan cakrawala luas yang diajarkan oleh Buddha.

APAKAH KEASLIAN ITU PENTING?

Keaslian itu penting seiring memahami arti dari science itu. Prinsip-prinsip science tetap perlu dipertahankan untuk menjadi acuan. Namun sering sekali, dengan pemahaman yang terbatas kita mengklaim sesuatu itu asli tetapi akhirnya terjebak dengan pikirannya sendiri untuk memojokkan yang lain. Cara melihat ajaran Buddha yang sekarang ada ini dalam konteks beragam tradisi menurut saya lebih tepat melihatnya ibarat kita berbicara tentang science (Ilmu Murni) dan applied science (Ilmu Terapan). Dalam dunia universitas sekarang menjadi umum sebutan Jurusan Science atau Applied Science. Ini berbeda penguraian.

Mereka yang cocok untuk menjadi ilmuwan (scientist) dapat menggali sedalam mungkin ilmu pengetahuan itu. Melakukan penelitian ilmu itu secara murni dan mendasar ibarat meneliti tentang inovasi energi baru dan terbarukan. Atau meneliti mendalami tentang alternatif teknologi listrik. Atau mendalami suatu fenomena itu secara filosofi yang lebih mendasar. Sementara mereka yang cocok dengan Ilmu pengetahuan terapan (applied science) dapat berkreasi untuk menerapkan science itu. Steve Jobs bukan seorang scientist, ia seorang ilmuwan terapan. Tetapi penemu mouse itu Douglas Engelbart, adalah seorang scientist.

Kadang ada yang berkata. Theravada adalah ajaran yang asli. Ditambah dengan argumen, buktinya adalah tradisi lain kalau ingin mendalami ajaran Buddha, mereka akan belajar dulu dari Theravada baru kemudian kembali ke tradisi asal mereka misal Mahayana. Lalu menjadi bangga bahwa Buddha tradisi Theravada menjadi acuan dari tradisi lain. Saya bertanya, kalau seandainya Steve Jobs bertanya dan belajar dari seorang scientist, apakah lalu berarti seorang scientist itu derajadnya lebih tinggi sementara Steve Jobs bukan scientist? Atau anggapan Steve Jobs adalah scientist bukan asli. Steve Jobs memang bukan scientist tetapi seorang ahli ilmu terapan, atau umum disebut sebagai Professional. Steve Jobs menggunakan ilmu murni itu untuk diterapkan pada kehidupan nyata. Scientist dan Professional memiliki derajad yang sama hanya berbeda dari sisi fokus yang didalami. Mereka saling menghormati dan saling membutuhkan.

Tanpa Steve Jobs mouse akan hanya teronggok di gudang Xerox dan kurang berguna. Begitu juga reputasi Steve Jobs mungkin tidak akan segemilang sekarang kalau tidak ada teknologi mouse yang ditemukan oleh scientist. Scientist dan Professional itu adalah dikotomi, dua bidang yang pada intinya sama namun berbeda tampilan dan peran, namun saling mendukung dan melengkapi untuk memudahkan hidup manusia. Theravada – Mahayana – Vajrayana, adalah juga dikotomi. Ketiganya sama, hanya berbeda penekanan dan polanya. Dikotomi untuk mencapai Nirwana. Keberadaan dari tiga tradisi itu ada di dalam semesta yang disebut Buddhayana – Kendaraan Buddha, atau Keluarga Buddha. Populasi umat Buddha di dunia tidak akan sebesar sekarang kalau salah satu tradisi itu tidak ada. Dalam matematika dikenal dengan ilmu Himpunan.

noname

Pada gambar ini, himpunan semesta U (seluruh persegi panjang) didikotomi atau terbagi ke dalam himpunan A (berwarna merah muda) dan komplemennya Ac (berwarna abu-abu). [i])

Sangha, Pandita, dan umat, juga dikotomi. Ketiga komponen ini memiliki dunianya masing-masing, sama tapi berbeda. Mereka saling mendukung dan melengkapi dalam satu lingkup besar yaitu Keluarga Buddha. Hidup Sangha didukung oleh umat, sementara itu umat butuh bimbingan Dharma dari Sangha. Karena urusan duniawi begitu luas sementara seorang biksu ada batasan vinaya yang menjadi disiplinnya, dibutuhkan Pandita sebagai yang menangani manajerial atau manajemen untuk mengelola keumatan yang pada gilirannya kemanfaatan ini juga akan diterima oleh Sangha dan umat. Pandita tidak ada kalau tidak ada Sangha dan umat. Begitu juga, umat Buddha akan habis kalau tidak ada lembaga manajemen yang mengurusnya serta bimbingan Dharma dari Sangha. Sangha berasal dari umat. Kalau umat habis, Sangha juga habis. Ajaran Buddha di era ini selesai.

Karena itu dalam Parinibbana Sutta Buddha tidak menunjuk pengganti Nya. Tetapi Buddha dalam sabdaNya yang terakhir kepada Ananda, “Aku ajarkan dan Aku babarkan kepadamu bahwa Dharma dan Vinaya akan menjadi Gurumu setelah Aku wafat”. Sabda ini sangat jelas bahwa Guru yang tertinggi itu adalah Dharma dan Vinaya. Dharma dan Vinaya adalah pedoman setiap umat Buddha. Mereka yang membabarkan Dharma dan Vinaya yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha Gotama, mereka membabarkan yang asli. Pemimpin kita semua adalah Dharma dan Vinaya. Inilah Anatta, isi tapi kosong, dan kosong tapi isi dalam upaya bersama untuk menuju pantai seberang (Nibbana).

[i] https://id.wikipedia.org/wiki/Dikotomi

 

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS