SUDAHKAH KITA MEMPERSIAPKAN ANAK SEBAGAI GENERASI PENERUS?
U.P. Vijjayanti Julyati Wibowo, S.Psi.
Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli. Tahun ini tema HAN adalah "Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045". Peringatan HAN adalah momen untuk menghormati dan merayakan anak-anak sebagai generasi penerus yang memiliki peran vital untuk masa depan bangsa. Selain itu, peringatan HAN juga merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pemenuhan hak serta perlindungan anak, yang harus menjadi tanggung jawab bersama.
Anak adalah generasi penerus, bukan hanya sebagai penerus bangsa, tapi juga sebagai kader dan penerus keluarga. Tentu semua orangtua berharap anak menjadi generasi penerus yg baik. Bukan hanya teori, pengetahuan, namun juga cara mendidik anak untuk siap menjadi generasi yang tangguh. Merawat anak baik secara fisik, mental maupun moral dan spiritual adalah bagian dari tanggung jawab orang tua.
Generasi Z di Indonesia merupakan kelompok usia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dan mendominasi populasi dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94% dari total penduduk. Mereka masih berada dalam usia muda hingga remaja awal dan memberikan harapan akan potensi kemajuan dan perubahan di masa depan.
Setelah Generasi Z adalah Generasi Alpha (2010-2024) yang juga menjadi penentu kebijakan strategis di masa depan. Bukan tanpa alasan jika Generasi Z dan Generasi Alpha digadang-gadang sebagai tumpuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Tapi anak-anak generasi ini rentan mengalami:
1. Gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres pasca-trauma,
2. Pengaruh Media Sosial, di mana sebagian besar pengguna media sosial adalah remaja. Yang dapat memicu kesenjangan sosial, kecemasan, dan cyberbullying. Interaksi digital yang berlebihan dapat merusak kesehatan mental dan mengurangi keterampilan sosial remaja,
3. Konten kekerasan di media yang eksplisit berpotensi menurunkan empati dan meningkatkan agresi, sehingga mempengaruhi prilaku,
4. Masalah bullying semakin kompleks dengan adanya cyberbullyng, yang kini menjadi bentuk intimidasi di kalangan umum generasi Z, yang memberikan dampak penindasan dengan menyebarkan penindasan dengan pelanggaran secara luas dan anonym,
5. Tekanan sosial dari teman sebaya, karena generasi Z merupakan kelompok yg sangat dipengaruhi oleh teman sebaya, dimana mereka dipaksa untuk bisa tampil "sempurna" sesuai keinginan kelompoknya,
6. Obesitas dan Masalah Kesehatan, di mana gaya hidup yang serba instan, sangat pasif beraktivitas dan pola makan buruk dapat meningkatkan risiko obesitas dan masalah kesehatan lainnya,
7. Permasalahan Akademik, dimana tekanan untuk berprestasi di bidang akademik dapat menyebabkan stres dan burnout pada remaja,
8. Rentan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mendorong penggunaan zat-zat berbahaya,
9. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan,
10. Perkembangan internet dapat membuka peluang bagi anak/remaja untuk terlibat dalam judi online dan mengalami kecanduan.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini, diperlukan dukungan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mendidik anak dengan menekankan kebiasaan baik merupakan salah satu cara agar anak bisa menjadi generasi hebat dan tangguh. Ada tujuh kebiasaan baik yang jika dilakukan dalam jangka waktu panjang akan membentuk satu karakter yang baik utk kepribadian anak. (Elsrin Nurhayati)
Ketujuh kebiasaan itu adalah: 1. Bangun lebih pagi; 2. Rajin berolahraga; 3. Rajin beribadah; 4. Gemar belajar; 5. Makan makanan bergizi; 6. Tidur cepat; 7. Aktif bermasyarakat.
Dalam Sigalovada Sutta, (Digha Nikaya 31) Buddha memberi petunjuk bagi orang tua dalam merawat anak. Orang tua hendaknya berusaha mencegah anak dari perbuatan-perbuatan jahat dan sebaliknya mengajak anak agar dekat dengan perbuatan baik. Ini merupakan cara orang tua merawat moral spiritualnya agar apapun yang dilakukan anak tidak menimbulkan penderitaan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Ada 5 cara bagaimana orangtua mengungkapkan kasih sayang dengan mendidik anak-anaknya:
1. Mendidik anak-anaknya agar menghindari kejahatan
2. Mengajarkan anak-anaknya untuk selalu melakukan kebaikan
3. Mendidik anak-anaknya untuk mandiri dan bertanggungjawab
4. Mempersiapkan pasangan yang sesuai dengan anak-anaknya
5. Memberikan warisan sesuai dengan waktu yang tepat.
Dengan landasan inilah, umat Buddha sebagai orangtua bisa mempersiapkan anaknya menjadi generasi yang kuat, tangguh, mandiri dan bertanggungjawab. Mereka juga harus belajar dari berbagai pengalaman, bukan hanya pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan seperti gagal, tidak sesuai dengan keinginan.
Seringkali orangtua tidak ingin anaknya merasakan penderitaan yang pernah dialaminya. Padahal pengalaman tersebut yang membuat orangtua bisa bertahan dan berhasil dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Maka dibutuhkan juga kebijaksanaan orangtua dalam mendidik anak.
Dengan berpedoman Empat Kebenaran Mulia utk menjalani kehidupan ini, anak-anak diajarkan bahwa hidup memang tidak nyaman. Hidup memang selalu ada masalah. Tapi berat atau tidak suatu masalah, tergantung dari cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Bisa jadi suatu masalah akan menjadi peluang yang baik. Jadi bukan berarti bahwa ketidaknyamanan itu membuat kita gagal atau terpuruk. Anak diajarkan bagaimana melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Maka ada baiknya anak diajarkan sejak dini bagaimana mereka untuk bisa mengendalikan diri dengan baik, yakni berlatih sadar penuh
(mindful).
Semoga kita sebagai umat Buddha yang tentunya juga memiliki generasi penerus, berharap bahwa generasi kita mampu menjadi generasi penerus yg tangguh, hebat, mandiri dan bertanggung, serta bermartabat.
"Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat keluarga, dan mempertahankan martabat keluarga, dan tidak mengharapkan anak yang merendahkan martabat keluarga; yang menjadi penghancur keluarga” (Khuddaka Nikaya, 252)
Sumber pustaka :
Kendala dan Tantangan Mendorong 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat10 Masalah Remaja Gen Z dan Solusinya - Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa