Kebenaran Bukan Pembenaran
M.U.P. Dharma Candra Krishnanda Wijaya Mukti
Ada bohong yang secara keliru mendapatkan pembenaran, agar merasa aman, terhindar dari kesulitan, untuk melindungi diri atau menyenangkan orang lain.
Banyak kasus ketidakjujuran yang merupakan kejahatan.
Seorang ibu menakuti-nakuti putranya yang masih kecil. Katanya setan berkeliaran sesudah matahari terbenam. Anak bertambah dewasa, tetapi takut pada kegelapan dan setan, sehingga tidak berani keluar malam. Maka ibunya memberinya sebuah kalung jimat yang konon membuat setan tidak berani mengganggunya. Sekarang si anak berani keluar di waktu gelap sambil memegang erat-erat jimat itu.
Anthony de Mello menjelaskan bahwa agama yang baik menghilangkan ketakutan, sedangkan agama yang jelek justru menambahnya. Agama yang baik membuka mata untuk melihat apa yang sebenarnya. Agama yang jelek memperkuat kepercayaan akan jimat. Agama yang baik mengajarkan kebenaran, bukan pembenaran.
Masalah kebenaran agama dipertanyakan ketika ajarannya kehilangan makna dan relevansi, sedang praktiknya sebagai tradisi dan kebudayaan diselubungi mitos bahkan diwarnai takhayul. Seorang pencari kebenaran akan bersikap kritis.
Jangan lekas percaya, kata Buddha kepada kaum Kalama. Ia memberi petunjuk untuk melakukan verifikasi atas suatu laporan, berita atau kesaksian, menyelidik kebenaran yang diwariskan lewat tradisi, bahkan juga yang tertulis dalam kitab-kitab suci. (A. I, 189)
Kesangsian itu wajar, menjadi langkah pertama untuk memastikan kebenaran.
Mencari Kebenaran
Kebenaran adalah sesuatu yang benar, betul terjadi atau sungguh-sungguh ada. Apa yang benar cocok dengan kenyataan, terbukti tanpa bias atau dusta. Pembenaran adalah proses atau perbuatan membenarkan, mungkin membuat supaya benar, mungkin juga menganggap atau mengakui benar.
Ketika sulit menemukan kebenaran di kegelapan, sering kali orang menghibur dirinya dengan pembenaran, seolah-olah apa yang dicarinya ada di tempat lain. Seperti Nasrudin yang mencari kuncinya di tempat terang walaupun kehilangan di tempat lain.
Setiap klaim kebenaran bisa diperdebatkan karena tidak mustahil untuk berbeda tergantung pada siapa dan bagaimana memandangnya. Kebenaran kitab suci pun berhadapan dengan tafsir yang seringkali menimbulkan perbedaan pendapat. Bukan hanya menyangkut sudut pandang dan metodologi, tetapi juga bisa sarat dengan berbagai kepentingan.
Untuk mencapai tujuannya, lewat pembenaran seseorang akan menempuh cara apa saja, yang baik maupun kotor. Apa yang benar atau salah sering ditentukan hanya berdasar otoritas. Ada hal-hal yang sekalipun benar, tetapi dipandang salah secara turun-temurun. Seperti kasus Galileo yang dihukum karena menggoyang kepercayaan dan kebenaran yang dianut kalangan agama di Barat. Kebenaran yang sesungguhnya baru disadari berabad-abad kemudian.
Sumber-sumber utama dari pengetahuan dan pengertian dikenali melalui indra. Sedangkan persepsi indra memiliki keterbatasan dan bisa keliru. Penglihatan misalnya menghadapi ilusi, entah karena kekeliruan persepsi pengamatan, kekeliruan pikiran yang mengenali atau kekeliruan pandangan yang membentuk gagasan.
Indra pun tidak berdiri sendiri. Secara internal saja berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, kepekaan perasaan, emosi, praduga dan imajinasi. Hembusan angin dirasakan nyaman oleh orang yang sehat, akan terasa lain bagi orang yang sakit. Seorang pencari kebenaran harus memiliki kesediaan untuk mengakui adanya kemungkinan yang keliru.
Obyektivitas diperlukan tidak hanya menyangkut bukti dan fakta yang dianggap sebagai kebenaran, namun juga dalam sikap dari orang yang mencarinya. Yang menjadi masalah, bagaimana manusia bisa melihat sesuatu sebagaimana adanya, sementara ia terperangkap oleh prasangka subyektif, perasaan suka dan tidak suka, terikat oleh nafsu, kebencian, kegelapan batin atau ketakutan?
Kebenaran duniawi bersifat relatif. Karena itu Buddha mengingatkan, "Jika seseorang telah mendengar, kemudian mengatakan inilah yang aku dengar, ia melindungi kebenaran, sepanjang tidak secara kategorik mengambil kesimpulan bahwa hanyalah ini yang benar, dan semua yang lainnya keliru." (M. II, 171)
Kejujuran dan Keadilan
Tahu kebenaran saja tidak cukup. Kita harus menghidupkan kebenaran kita, menjadi nyata dalam aktivitas sehari-hari. Setia pada kebenaran berarti hidup baik dan benar, jujur dan adil, setia pada janji, patuh pada hukum, misalnya. Kebenaran tidak memihak, tetapi kita yang harus memihak pada kebenaran.
Setiap orang bisa salah, dan seharusnya tidak boleh bohong. Sedang mereka yang berurusan dengan hukum agaknya bisa bohong asal tidak salah menurut ketentuan hukum. Sogok menyogok di pengadilan sudah dikenal di zaman Buddha.
Mengenai hal ini Buddha berkata bahwa jika hakim memutuskan suatu perkara dipengaruhi oleh rasa kasihan atau pertimbangan keuntungan yang didapatkannya, ia bukanlah hakim yang adil. Seorang hakim yang adil seharusnya menimbang kesaksian dan memeriksa bukti dengan teliti mana yang benar, mana yang salah tanpa tergesa-gesa dan tidak berat sebelah memutuskan suatu.
Buddha menyatakan bahwa setiap bentuk manipulasi berupa penggelapan dan penipuan, pemerasan, suap menyuap digolongkan sebagai mata pencaharian yang salah. Bisnis yang mengambil keuntungan berlebihan juga tercela, disamakan dengan merampok. (M. III, 75)
Keadilan bisa diartikan berbeda oleh berbagai kelompok masyarakat, tetapi biasanya menyangkut hak seseorang dalam relasi antar-manusia. Melaksanakan keadilan tak lain dari memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Rasa keadilan timbul karena kesadaran akan kelayakan atau kepantasan.
Jujur Pada Diri Sendiri
Penelitian Harthstone dan May menemukan bahwa hampir setiap orang berbohong atau menipu pada suatu waktu. Nilai kejujuran yang diucapkan oleh seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan bagaimana orang itu berbuat. Tidak jarang kita dengar keluhan mengenai pemberlakuan standar nilai ganda, yang berbeda untuk diri sendiri dan untuk orang lain.
Setiap manusia bisa berdusta karena belajar dari pengalamannya, bukan pembawaan sejak lahir. Ada bermacam-macam ketidakjujuran yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Apakah itu bohong basa basi, ingkar, menutupi kebenaran, tidak mengatakan seluruh kebenaran, menyunting, membelokan atau menjungkirbalikkan kebenaran.
Ada bohong yang secara keliru mendapatkan pembenaran, agar merasa aman, terhindar dari kesulitan, untuk melindungi diri atau menyenangkan orang lain.
Banyak kasus ketidakjujuran yang merupakan kejahatan.
Kejujuran atau ketidakjujuran dimulai dari pikiran atau niat, yang diekspresikan tidak terbatas pada kata-kata, melainkan juga bahasa tubuh, aktivitas termasuk tulisan. Dusta adalah apa yang tidak benar yang kemudian diucapkan atau dilakukan untuk mengelabui orang lain.
Sekalipun orang yang menangkap pernyataan tersebut tidak mempercayainya, dusta tetap terjadi. Pelaku tidak bisa membohongi diri sendiri, ketidakjujuran mengotori dan akan membuat batinnya menderita. Meski tidak bisa memperbaiki kelakuan orang lain, kita bisa memperbaiki kelakuan sendiri. "Kalahkan kebohongan dengan kejujuran" (Dhp. 223)
Tujuannya menghindari atau mengakhiri penderitaan. Tujuan yang baik, dengan motivasi yang baik, menuntut cara yang baik, tepat, atau benar. Cara merupakan kebajikan yang disebut paramita (keutamaan sempurna) diantaranya kejujuran sebagai disiplin moral (sila), yang tak terpisahkan dari Kebenaran (sacca) dan kebijaksanaan (panna).
Sumber Artikel
Sumber : Mangala VI - 2011