Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Peta Jalan, Mau dibawa kemana?

U.P. Mita Kalyani Irma Gunawan

Jum'at, 15 Agustus 2025

MBI

(Tulisan berikut ini disampaikan bukan dengan niat membawa api dari dalam rumah ke luar, hanya mencoba membagikan pengalaman berharga sesuai realita).


Setiap kali penulis dan pasangan hendak pergi ke suatu tempat menggunakan peta digital, pertengkaran seolah menjadi ritual yang tak terhindarkan. Penulis, yang merasa lebih paham arah, sering kali kesal ketika pasangan menolak saran dan memilih rute yang dianggap tidak efisien. Di sisi lain, pasangan juga bersikukuh pada pilihannya, yakin bahwa petunjuk yang diikutinya benar. Perselisihan ini berulang terjadi hingga suatu hari mencapai puncaknya ketika mobil terpaksa menepi di pinggir jalan karena perdebatan yang tak terbendung. Dalam keheningan setelah ledakan emosi itu, penulis tersadar betapa mudahnya teori Dharma yang selama ini dipahami dan dibanggakan ternyata gagal diterapkan dalam momen-momen kecil seperti ini.

Penulis teringat pesan Buddha: Di antara semua jalan, Jalan Mulia Berfaktor Delapan adalah yang terbaik; di antara semua kebenaran, Empat Kebenaran Mulia adalah yang terbaik. Di antara semua keadaan, keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, orang yang ‘melihat’ adalah yang terbaik. (Dhammapada 273 )

Guru Buddha telah memberikan peta jalan yang sempurna yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan dan Empat Kebenaran Mulia. Namun, seperti seorang pengembara yang memegang peta tetapi tetap tersesat karena tidak memperhatikan petunjuknya, banyak umat Buddha, termasuk penulis, sering kali salah praktik atau bahkan lupa untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Pengetahuan tentang Dharma menjadi sia-sia jika hanya tersimpan dalam ingatan tanpa pernah menjelma menjadi tindakan nyata.

Pertengkaran sepele tentang pilihan rute jalan sebenarnya adalah cermin dari ketidakmampuan melepaskan ego. Penulis melekat pada keyakinan bahwa dirinya lebih tahu, sementara pasangan terjebak dalam keinginan untuk diakui kebenarannya.  Keduanya terjatuh ke dalam lobha (kemelekatan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin), padahal Guru Buddha mengajarkan untuk melampaui ketiga akar penderitaan ini. Ibarat seorang murid yang diberikan petunjuk jelas oleh gurunya tetapi tetap tersesat, karena terlalu yakin pada pemahamannya sendiri. Penulis dan pasangan gagal melihat bahwa tujuan utama bukanlah sekadar sampai di lokasi, melainkan bagaimana perjalanan itu dijalani dengan kebijaksanaan dan kedamaian. 

Setelah insiden itu, muncul sedikit kesadaran bahwa pertengkaran tidak akan pernah mengantar mereka pada tujuan yang lebih baik. Penulis mulai belajar melepaskan keangkuhan sebagai yang paling tahu, sementara pasangan juga lebih terbuka untuk mendengar. Menyadari bahwa menahan diri hanya akan menjadi bom waktu bila dilakukan tanpa kesadaran. Sedangkan mengendalikan diri muncul dari pemahaman yang benar.

Dharma yang baik adalah Dharma yang didapat dari hasil latihan di banyak kehidupan. Dharma tersebut bukanlah sesuatu yang bisa kita peroleh secara tiba-tiba dan turun dari langit begitu saja. Dharma yang baik harus kita latih berulang-ulang supaya akhirnya bisa muncul secara spontan dan menjadi sifat kita”, begitu yang penulis baca di buku Manual Abhidhamma oleh Ashin Kheminda.

Pada akhirnya, perjalanan fisik dengan peta digital hanyalah metafora dari perjalanan batin yang lebih besar. Guru Buddha telah menunjukkan jalan, tetapi murid-murid-Nya sering kali tersandung karena lupa melatih diri. Dharma bukan sekadar pengetahuan untuk dibanggakan, melainkan pedoman yang harus dihayati setiap saat. Jika kita masih mudah marah karena hal sepele, masih bersikukuh pada pendapat sendiri, atau masih terikat pada keinginan untuk selalu benar. Sesungguhnya kita belum benar-benar berjalan di Jalan Buddha. Seperti peta yang hanya berguna jika diikuti dengan tepat, Dharma baru bermanfaat ketika dipraktikkan dengan penuh kesadaran - bukan sekadar dihafal, melainkan dijadikan napas dalam setiap langkah kehidupan.

Marilah kita bersama-sama terus berlatih, bukan untuk menjadi ahli dalam teori, tetapi untuk menjadi lebih bijak dalam praktik tindakan nyata. Sadhu!

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS