Merdeka Itu ya Melepas
U.P. Panna Dhamma Haryanto Tanuwijaya
Jum'at, 22 Agustus 2025
MBI
Tanggal 17 Agustus 2025, Bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-80. Peringatan hari kemerdekaan Negara Indonesia kita tercinta senantiasa menjadi momen bersejarah dan sakral sebagai simbol bebasnya bangsa kita dari penjajahan kolonialisme. Tema yang diusung pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 adalah Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemerdekaan berarti keadaan atau hal berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya). Lebih lanjut dalam KBBI dikatakan bahwa kemerdekaan bisa juga diartikan sebagai kebebasan dari perhambaan, penjajahan, tuntutan, serta keterikatan atau ketergantungan pada pihak lain.
Lalu apa arti kemerdekaan menurut Buddha Dharma?
Dalam Buddha Dharma, semua umat Buddha diajak untuk merenungkan makna kemerdekaan yang lebih dalam, yaitu tentang kemerdekaan batin. Bangsa Indonesia telah merdeka selama 80 tahun, pertanyaannya: apakah batin kita sudah benar-benar merdeka? Apakah batin kita sudah berdaulat? Kita sudah tahu jawaban adalah belum. Kenyataan menunjukkan bagaimana selama menjalani kehidupan ini, kita belum terbebas kekotoran batin (kilesa) dan masih terjebak dalam belenggu keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha).
Buddha Dharma mengajarkan kita bahwa merdeka itu bukan ketika kita bisa memiliki semuanya, justru merdeka itu apabila kita mampu melepas, karena hanya dengan melepas kita bisa benar-benar bebas merdeka. Dalam kehidupan ini, masih banyak orang terjebak dalam pemikiran bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan memiliki lebih banyak harta, dikagumi, dipuji, atau dihargai. Padahal, semua itu tidak kekal (anicca), sebagaimana dinyatakan dalam Dhammapada, 277 bahwa “Semua yang muncul akan lenyap. Tidak ada yang kekal di dunia ini.” Artinya apa yang kita miliki bisa hilang dan apa yang kita cintai bisa berubah yang pada akhirnya hanya membawa penderitaan batin (dukkha) bagi kita. Dengan demikian kemerdekaan sejati dalam Ajaran Buddha sudah jelas bukan berasal kondisi eksternal, melainkan tentang kondisi batin kita sendiri yang terbebas dari penderitaan (dukkha) yang ditimbulkan oleh kemelekatan (upadana).
Di dalam Anattalakkhana Sutta (SN 22.59), Buddha menegaskan bahwa "Rūpaṃ bhikkhave anattā, Vedanā anattā, Saññā anattā, Saṅkhārā anattā, Viññāṇaṃ anattā," yang artinya: jasmani (rupa) bukan diri, perasaan (vedana) bukan diri, pencerapan (sanna) bukan diri, kehendak (sankhara) bukan diri, dan kesadaran (vinnana) bukan diri.” Karena semua itu bukan milik kita, untuk apa kita melekat dan merasa memilikinya? "Ini bukan milikku, ini bukan diriku, ini bukan diriku yang sejati." Oleh karena itu, apabila kita mampu menyadari bahwa segaa sesuatu bersifat bersifat (anicca), tidak memuaskan (dukkha), dan bukan diri (anatta), niscaya kita mampu melepaskan kemelekatan/keterikatan dan tentu saja dapat menemukan kedamaian dalam kehidupan ini.
Melepas Bukan Menyerah Kalah
Di era digital dan era 5.0 saat ini mungkin membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, bisa juga kehilangan pasangan, atau harapan dan impiannya. Berapa banyak dari kita yang masih menyimpan sakit hati, kemarahan, kebencian, dan dendam. Berapa banyak dari kita yang masih tidak mau memaafkan (bukan tidak bisa) atau tidak bersedia minta maaf karena merasa diri benar, gengsi, merasa kalah, dan beribu alasan lainnya. Semua itu melekat erat dalam pada diri kita yang pada akhirnya membuat kita terjebak dalam luka batin atau penderitaan.
Melepas bukan berarti pasrah dan tidak peduli. Melepas adalah tindakan sadar untuk tidak menjadikan hal atau kejadian tertentu sebagai sumber penderitaan. Oleh karena itu melepas membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesadaran untuk membiarkan sesuatu pergi, lepas dari genggaman kita dengan lapang dada, keikhlasan, ketulusan, tanpa ada lagi kemelekatan. Buddha Gautama berkata, “You only lose what you cling to,” yang artinya Anda hanya kehilangan apa yang Anda genggam erat. Sudah jelas Guru Agung kita telah mengingatkan bahwa rasa kehilangan hanya timbul ketika kita terlalu melekat pada sesuatu, baik benda seperti harta, jabatan maupun orang seperti orang tua, sanak keluarga, sahabat, serta harapan. Buddha mengingatkan kita agar tidak melekat pada suatu, maka kita tidak akan merasa kehilangan yang berlebihan ketika suatu sesuatu itu berubah atau pergi menghilang. Seperti halnya kita diminta menggenggam batu dengan tangan terjulur lurus ke depan. Semakin kuat dan lama kita menggenggam, semakin menderita pegal dan sakit tangan kita. Begitu batu dilepas, tangan kita pun terbebas dari rasa pegal dan sakit.
Ajahn Brahm menambahkan bahwa "Kebebasan sejati adalah ketika kita tidak lagi menjadi budak pikiran dan emosi kita.” Ini berarti bahwa kebebasan sejati bukan hanya bebas dari batasan eksternal, namun terlebih lagi terbebas dari kendali internal yang dipengaruhi pikiran dan emosi dimana kita memiliki kemampuan dalam mengamati, memahami, serta mengelola keadaan internal kita. Dengan demikian kitalah yang mengendalikan diri kita sendiri. Di dalam Dhammpada 103, Buddha menyatakan ”Lebih mulia menaklukkan diri sendiri daripada menaklukkan seribu orang lain."
Praktik Dharma - Melepas
Pada paparan di atas telah dijelaskan bahwa Buddha Dharma mengajarkan tiga hal yang berkaitan dengan melepas kemelekatan, yaitu: Anicca, Dukkha, dan Anatta. Ini adalah kenyataan yang tidak terbantahkan yang menurut Ajahn Brahm, siapapun yang menolak kenyataan ini, maka penderitaan akan bertambah dua kali lipat. Untuk bisa melepas, mari kita mempraktikkan Dharma melalui tiga latihan berikut ini.
Latihan pertama dengan melatih Metta Bhavana untuk membangkitkan cinta kasih. Kita perlu berlatih untuk melepas amarah, sakit hati, dendam yang selama ini masih terkurung dalam batin kita. Secara bertahap, kita berlatih memaafkan siapapun yang telah menyakiti kita dan minta maaf kepada siapapun yang berselisih dengan kita atau orang yang kita sakiti. Satu hal yang perlu diingat bahwa memaafkan bukan karena mereka pantas dimaafkan, tetapi agar kita terbebas dari beban batin diri sendiri.
Mari kita belajar bagaimana melepas dari Regina, seorang wanita Georgia, Amerika Serikat, yang dalam persidangan bulan Agustus 2025 memeluk Joseph Tillman, pria yang setahun lalu menewaskan suaminya dalam insiden tabrak lari. Dan yang lebih mengejutkan lagi, sambil memeluk, Regina bahkan mengucapkan maaf kepada Tillman sesudah mendengar vonis 20 tahun yang dijatuhkan hakim kepada pria yang menyebabkan ia kehilangan suami sekaligus ayah dari putri semata wayangnya. Ajahn Brahm mengatakan, ”Hidup bukanlah tentang seberapa banyak yang kita dapatkan dan miliki. Hidup adalah untuk memberi lalu melepaskannya.” Ya dengan demikian tidak ada lagi yang perlu kita lekati.
Latihan kedua dengan merefleksi Anicca dan Anatta untuk kesadaran bahwa semua berubah, tidak ada yang kekal abadi, sehingga kita dapat menerima segala perubahan dengan apa adanya tanpa keluh kesah atau menyalahkan pihak tertentu. Kita juga dapat membaca Anattālakkhana Sutta untuk menyadari bahwa semua bukan milik kita, bahkan diri ini juga bukan milik kita. Dalam Dhammapada 277 dikatakan “Sabbe Saṅkhārā Aniccā,” segala yang terkondisi adalah tidak kekal. Bila seseorang mampu melihat hal ini dengan kebijaksanaan benar, maka ia akan jemu dengan penderitaan dan bertekad menghentikannya. Inilah jalan yang membawa seseorang menuju kemurnian.
Bunga mekar pada waktunya... Bunga layu juga pada waktunya...
Buah matang pada waktunya... Buah busuk juga pada waktunya...
Mathari terbit pada waktunya... Matahari tenggelam juga pada waktunya...
Semua akan indah pada waktunya... Semua akan pergi juga pada waktunya...
Segala sesuatu pasti berubah... Tidak ada yang kekal di dunia ini...
Latihan ketiga adalah melatih Upekkha yaitu keseimbangan batin. Melalui latihan ini kita belajar menerima segala sesuatu yang tak bisa kita kendalikan. Latihan ini dapat meningkatkan kemampuan kita untuk tetap tenang, seimbang dan tidak goyah oleh suka–duka, pujian–caci, untung–rugi. Sebagaimana dijelaskan dalam Paticca-samuppāda Sutta (SN 12.1) bahwa segala sesuatu muncul karena sebab–akibat. Dengan demikian ketika kita ’merasa’ adanya ketidakadilan, ’merasa’ dirugikan atau diabaikan, maka kita tidak terlarut dalam kemarahan yang berlebihan, yang tak terkendali, yang pada akhirnya membuat kita melekati kebencian dan dendam kesumat.
Latihan upekkhā akan lebih baik apabila kita telah mengembangkan tiga bagian pertama Brahmavihara yaitu cinta kasih (metta), belas kasih (karuṇa), simpati (mudita). Dengan demikian ketika melihat seseorang yang kita sayangi menderita, timbul belas kasih dalam diri namun tidak melekat kesedihan dengan berlebihan. Thick Nhat Hanh menyatakan, ”Apa pun yang datang, biarlah datang. Apa pun yang pergi, biarlah pergi.”
Latihan keempat adalah melatih meditasi Vipassana agar kita memiliki mampu melihat segala sesuatu datang dan pergi sebagaimana adanya tanpa melekat pada pikiran atau emosi. Latihan meditasi Vipassana membantu kita dapat melihat bahwa semua fenomena batin dan jasmani hanya muncul-lenyap karena suatu sebab dan kondisi, maka kita perlahan tapi pasti mampu melepaskan kemelekatan sehingga memperoleh kebebasan batin. Seperti apa yang disampaikan Thick Nhat Hanh, “Melepaskan memberi kita kebebasan, dan kebebasan adalah satu-satunya syarat untuk kebahagiaan.”
Oleh karena itu, pada peringatan Hari Kemerdekaan negara Indonesia tercinta ini, kita jangan merayakan hanya dengan upacara dan pengibaran bendera belaka, tetapi sebagai murid Buddha kita juga melakukan praktik Buddha Dharma untuk meningkatkan kemampuan melepaskan segala yang selama ini membelenggu batin kita. Cobalah kita renungkan, "Apakah saya sudah benar-benar merdeka, atau masih terpenjara oleh pikiran, emosi, dan keinginan saya sendiri?" Hanya dengan melepas luka lama, kemarahan, kebencian, ego, dan hal negatif lainnya, dapat memberi kita hidup lebih tenang dan bahagia serta menjadikan kita manusia seutuhkan. Karena hanya dengan melepas, batin kita benar-benar merdeka.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia.
Semoga kita semua bisa merdeka, lahir dan batin.
Komentar (0)