Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bertahan dari Digital fatigue : Seni Hidup Sehat dan berimbang dengan Kebijaksanaan Dharma

Cari

Tampilkan Artikel

Bertahan dari Digital fatigue : Seni Hidup Sehat dan berimbang dengan Kebijaksanaan Dharma

Upasaka Susanto Pheng

Jum'at, 12 September 2025

MBI

Di tengah pesatnya kemajuan era digital, gaya hidup masyarakat mengalami transformasi yang signifikan. Layar gawai telah menjadi jendela utama untuk bekerja, bersosialisasi, dan mencari hiburan. Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, tersembunyi sebuah paradoks: pola hidup sehat justru semakin terabaikan. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar sambil duduk diam, sering kali tanpa menyadari dampak buruk yang mengintai kesehatan mereka. Kebiasaan sedentari ini tidak hanya memangkas aktivitas fisik, tetapi juga secara perlahan menurunkan kualitas interaksi sosial langsung dan meningkatkan risiko berbagai penyakit degeneratif.


Padahal, esensi dari menjaga kesehatan sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Dalam Dhammapada ayat 157, Buddha mengajarkan: "Siapa yang memperhatikan tubuhnya, menjaga inderanya, berpantang dalam makanan, dan tekun dalam usaha, akan selalu hidup bahagia." Kunci utamanya terletak pada konsistensi dan komitmen untuk melakukan perubahan-perubahan kecil yang positif. Pola hidup sehat ibarat investasi berharga yang akan memberikan dividen berupa keuntungan jangka panjang, baik secara fisik maupun mental. Lantas, langkah-langkah praktis apa saja yang dapat kita terapkan untuk mewujudkannya?

Pertama, aktivitas fisik ringan yang konsisten. Tubuh manusia dirancang untuk bergerak, bukan untuk duduk sepanjang hari. Kita tidak perlu langsung menjadi anggota gym yang rutin berlatih keras. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah diintegrasikan ke dalam rutinitas harian. Berjalan kaki selama 30 menit di sekitar rumah atau taman, menggunakan tangga alih-alih lift untuk naik beberapa lantai, melakukan peregangan sederhana setiap 60 menit duduk, atau bersepeda santai di akhir pekan adalah titik awal yang sempurna. Aktivitas ini akan melancarkan peredaran darah, menguatkan otot dan tulang, serta melepaskan endorphin - hormon yang dapat meningkatkan suasana hati.

Kedua, memperbaiki pola makan dan menjaga hidrasi. Makanan adalah bahan bakar bagi tubuh kita. Pola makan yang buruk ibarat memberikan bahan bakar berkualitas rendah pada mesin yang halus. Dalam Digha Nikaya, Buddha menekankan pentingnya makan secukupnya dan tidak berlebihan: "Dia mengambil makanan bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk memuaskan nafsu, tetapi hanya untuk memelihara tubuh." Perbanyak konsumsi makanan alami dan utuh, seperti buah-buahan, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Kurangi asupan makanan olahan, makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh dan garam, serta minuman manis dalam kemasan. Sebagai gantinya, biasakan untuk minum air putih yang cukup minimal delapan gelas per hari. Air putih sangat vital untuk proses metabolisme, menjaga fungsi organ, dan membuat kulit tetap sehat.

Ketiga, membatasi screen time dan melindungi kesehatan mental. Paparan berlebihan terhadap layar gawai, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu kualitas istirahat karena cahaya biru yang dipancarkan menghambat produksi melatonin, hormon pemicu kantuk. Tetapkan batasan waktu untuk menggunakan media sosial dan menonton konten digital. Alihkan waktu tersebut untuk kegiatan yang lebih bermakna, seperti membaca buku, mengobrol langsung dengan keluarga, atau menekuni hobi yang tidak melibatkan layar. Melindungi kesehatan mental juga bagian dari hidup sehat. Meditasi, latihan pernapasan dalam, atau sekadar meluangkan waktu untuk diri sendiri dapat mengurangi stres dan kecemasan. Dalam Majjhima Nikāya, Buddha mengajarkan: "Pikiran yang terjaga dan waspada adalah jalan menuju kebebasan."

Keempat, mencukupi waktu dan kualitas tidur. Tidur bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis yang mutlak. Tidur yang cukup (7-9 jam untuk dewasa) adalah periode dimana tubuh melakukan perbaikan sel-sel yang rusak, mengonsolidasi memori, dan mengembalikan energi. Kurang tidur kronis dapat melemahkan sistem imun, mengganggu konsentrasi, dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta obesitas. Ciptakan ritual tidur yang nyaman, seperti meredupkan lampu, menjauhkan gawai, dan menjaga suhu ruangan yang sejuk. Dalam Aguttara Nikaya, Buddha menyebutkan bahwa istirahat yang cukup adalah salah satu faktor kebahagiaan.

Dengan tubuh dan pikiran yang sehat, kita akan menjadi pribadi yang lebih produktif dalam bekerja, lebih energik dan bahagia dalam bersosialisasi, serta lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Setiap langkah positif yang dimulai hari ini, entah itu memilih buah sebagai camilan, berjalan kaki ke warung, atau mematikan ponsel satu jam sebelum tidur, adalah sebuah setoran yang akan menumpuk menjadi kekayaan kesehatan yang tak ternilai harganya di masa depan. Seperti sabda Buddha dalam Dhammapada ayat 273: "Yang terbaik di antara banyak jalan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan; yang terbaik di antara kebenaran adalah Empat Kesunyataan Mulia."

Ingatlah pepatah bijak, bahwa kesehatan adalah mahkota tak terlihat yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang sakit. Jangan menunggu hingga penyakit datang untuk menyadari betapa berharganya nikmat sehat. Mulailah dari sekarang, investasikan yang terbaik untuk diri Anda. Seperti yang diajarkan dalam Dharma, kesehatan adalah anugerah terbesar yang memungkinkan kita mempraktikkan jalan menuju pencerahan.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS