Kuat Karena Dukkha: Melampaui Penderitaan Menuju Kebijaksanaan
U.P. Magga Panna Johny, BBA., CPC.
Jum'at, 19 September 2025
Isu kesehatan mental selayaknya tak lagi tabu untuk dibicarakan. Dengan berani terbuka, publik pun lebih teredukasi terkait kesejahteraan dan kesehatan mental. Orang-orang juga sudah lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental masing-masing. Stres menjadi salah satu kondisi mental yang dapat menjerumuskan orang-orang ke dalam penyakit mental.
Menurut World Health Organization (WHO), stress merupakan kondisi di mana seseorang merasakan kekhawatiran atau tekanan mental yang disebabkan oleh situasi yang menyulitkan. Stres memang lumrah dialami oleh tiap manusia, namun jika stress mendominasi kehidupan seseorang maka ini akan berdampak serius terhadap kualitas hidupnya, dan juga sangat mungkin berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat.
Manusia sebagai Zoon Politicon, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh filusuf kuno Aristoteles, dimana manusia adalah makhluk yang secara alami terhubung dan membutuhkan interaksi dengan manusia lain untuk hidup dan berkembang dalam masyarakat. Interelasi ini tampaknya telah disabdakan Buddha Gautama dalam Sedaka Sutta (Sn 47.19) sebagai berikut:
“Dengan menjaga diri sendiri, engkau menjaga orang lain. Dengan menjaga orang lain, engkau menjaga dirimu sendiri”
Dan bagaimana kita menjaga diri sendiri, kita menjaga orang lain yaitu dengan menumbuhkembangkan pikiran, menjaga (pikiran), meningkatkan ketrampilannya, dan kapasitasnya. Dan bagaimana pula kita menjaga orang lain, kita menjaga diri sendiri yaitu dengan khanti dan ketanpatakutan, dengan tidak mencelakai, dengan kehangatan hati (metta) dan dengan peduli. Kemudian Buddha menjelaskan bahwa Satipatthana seyogyanya dipraktikkan dengan pemikiran “Saya akan menjaga diri saya sendiri dan Saya akan menjaga orang lain.” Majelis Buddhayana Indonesia dinilai tepat mengakomodir slogan “Peduli Melayani”
Secara sadar kita seharusnya mampu menerima dan memahami jika Dukkha akan senantiasa hadir dalam siklus kehidupan. Dukkha sebagai hal yang terbukti dan telah dibabarkan oleh Buddha Gautama pada 2569 tahun yang lalu di Taman Rusa Isipatana masih valid dan sahih hingga kehidupaan saat ini, era digital yang berkembang sangat pesat telah merevolusi cara manusia berinteraksi, belajar, dan bekerja, mengubah jarak menjadi tidak relevan dan memungkinkan akses informasi kapan saja dan di mana saja. Paradigma yang berhenti (status quo) pada kehidupan adalah penderitaan adalah tidak tepat. Paradigma ini dapat mengarahkan umat Buddha dalam kesalahpahaman memaknai ajaran Buddha yang bertujuan menghadirkan kedamaian, kebahagian, ketenangan dalam kehidupan saat ini dan di sini (here and now) serta kesejahteraan dan kebahagian sebagai umat perumah tangga. Apalagi ujuk ujuk terima lah karma mu.
Umat Buddha seharusnya mampu menidentifikasi, memahami Dukkha tidak akan dapat dihindarkan dari kehidupan. Dilahirkan adalah dukkha, penuaan adalah dukkha, sakit adalah dukkha, kematian adalah dukkha; kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan adalah dukkha; bertemu dengan hal yang tak disukai adalah dukkha, berpisah dengan hal yang disukai adalah dukkha, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya, kelima upadana-khandha adalah dukkha. Dan ini bersumber dari rasa tak berkecukupan (tanha) yang menimbulkan bhava – disertai raga (ketertarikan) dan nandi (berharap mendapat kesenangan), mencari kesenangan di sana-sini yakni senantiasa merasa kekurangan dari segi indrawi (kama-tanha), ingin ‘menjadi’ sesuatu atau sosok tertentu (bhava-tanha), menolak ‘menjadi’ sesuatu/menolak dianggap sesuatu (vibhava-tanha).” Dukkha adalah konsekuensi atas sumber yang dipertahankan oleh kita.
Kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum, tetapi jika berlebihan makan dan minum, ketidaknyaman (dukkha) adalah konsekuensinya. Isu yang penting adalah bagaimana kita merespon atas dukkha yang “hadir” dalam kehidupan. Jadikan dukkha dan sumber dukkha sebagai pengalaman dan proses pembelajaran dalam meningkatkan kapasitas berpikir, mencari solusi didukung oleh pemahaman Annica dan Anatta. Ajaran Buddha Gautama selain bertujuan untuk meningkatkan aspek spiritual, juga harus meningkatkan aspek intelektual, dan emosional umat Buddha. Jangan jadi umat Buddha setengah tangki, Biksu bukan, perumah tangga juga melayang layang.
Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi, dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang. (Dhp 152). Kebijaksanaan bukanlah produk simsalabin. Pemahaman ajaraan Buddha bertumbuh melalui proses Pariyati (belajar teori), Patipatti (praktik), dan Pativeda (pemahaman dan realisasi). Hal ini bukan saja proses pada ajaran Buddha namun ilmu lainnya, softskill dan hardskill, yang dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup. Selain itu, kebijaksanaan dapat diperoleh lewat beberapa cara, yaitu; melalui proses berpikir/intelektual; proses mendengar/belajar; melalui proses meditasi. (Visudhi Magga XIV)
Mana yang lebih banyak, dedaunan siṃsapā yang ada di tangan saya atau yang ada di hutan siṃsapā?” tanya Buddha. (Simsapa Sutta, Sn 56.31)
Semoga umat Buddha menjadi manusa yang berkompetan dan berkarakter dengan mengembangkan aspek pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Sadhu.
Sumber ArtikelKomentar (0)