Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kathina Dana – Jalan Mulia Menuju Kebahagiaan Sejati

Cari

Tampilkan Artikel

Kathina Dana – Jalan Mulia Menuju Kebahagiaan Sejati

U.P. Panna Dhamma Haryanto Tanuwijaya

Jum'at, 24 Oktober 2025

MBI

Kathina Puja merupakan salah satu dari empat peringatan hari suci agama Buddha disamping hari Trisuci Waisak, Asadha Puja, dan Magha Puja. Kathina Puja menyimpan makna sangat dalam sebagai sebuah perayaan kebajikan yang tidak sekedar memperingati berakhirnya masa Vassa para Biksu Sangha, namun menjadi momen menyalakan kembali semangat kemurahan hati dalam diri setiap umat. Kathina Puja bukan sekedar ritual mempersembahkan empat kebutuhan pokok (Cattāro Paccayā) kepada Sangha, melainkan kesempatan bagi umat untuk berbuat kebajikan, cinta kasih, keyakinan, dan ketulusan terbalut menjadi satu tindakan yaitu memberi (berdana).


Oleh karena itu, Kathina Puja bukan sekadar tradisi tahunan atau seremoni keagamaan semata, melainkan momen suci guna menumbuh kembangkan kemurahan hati umat Buddha di tengah kehidupan modern, seperti halnya bunga teratai yang tumbuh di atas lumpur kehidupan. Kathina Dana memberi kesempatan kepada semua umat untuk berdana mempersembahkan jubah dan kebutuhan pokok kepada Sangha.  Sebuah tradisi yang telah mengakar sejak zaman Buddha, pada saat para Biksu telah menyelesaikan tiga bulan latihan di musim hujan (disebut masa Vassa atau rains retret). Seluruh umat menyambut keberhasilan Biksu Sangha ini dengan penuh kasih dan kebajikan dengan memberi persembahan empat kebutuhan pokok berupa jubah/pakaian (cīvara), makanan (piṇḍapāta), obat-obatan dan perlengkapan Kesehatan (gilāna-paccaya bhesajja-parikkhāra), serta tempat tinggal (senāsana) yang merupakan kebutuhan dasar guna menopang kehidupan para Biksu dan Biksuni dalam menjalankan kehidupan suci (brahmacariya).

Berdana Untuk Berlatih Diri

Kata dāna memiliki arti “memberi” dimana umat mengekspresikan cinta kasih (mettā) dan kebijaksanaan (paññā) yang berpadu dalam suatu tindakan nyata. Ketika kita berdana dengan hati yang tulus, sebenarnya kita sedang menanam benih kebahagiaan dalam diri sendiri. Dengan berdana, kita berlatih diri untuk tidak melekat pada harta benda, status, maupun keinginan yang pada akhirnya membuat kita mampu membebaskan diri.

Sebagaimana yang diajarkan Buddha pada Itivuttaka 26: Ada dua jenis kebahagiaan, para Biksu: kebahagiaan memberi dan kebahagiaan menerima. Namun, kebahagiaan memberi lebih mulia dan lebih luhur daripada kebahagiaan menerima.” Dengan demikian makna sesungguhnya Kathina Dana bukan pada pada tindakan berdana benda, namun menjadi wadah berlatih diri untuk melepaskan, mengikis keserakahan, dan membuka jalan menuju kebahagiaan sejati. Karena setiap tindakan berdana dapat menjadi langkah kecil yang bila dilakukan secara konsisten dapat menuntun kita menuju pencerahan. Seperti dikatakan Buddha dalam Dhammapada 118, “Seseorang yang berbuat baik, hendaklah ia terus melakukannya berulang-ulang. Hendaklah ia bergembira dalam kebajikan, sebab menimbun kebajikan membawa kebahagiaan.”

Berdana bukan apa atau berapa banyak yang kita beri, melainkan dari hati yang penuh kegembiraan dan tanpa kemelekatan. Ketika kita berdana tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan, di sanalah hati kita menemukan kedamaian. Berdana tidak perlu menunggu kita sukses dan kaya terlebih dahulu. Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan seorang ibu yang sederhana ini. Setiap minggu atau bulan dia berusaha menabung sedikit demi sedikit untuk Kathina Dana di hari Kathina. Meskipun ibu ini tidak pernah berdana Jubah kepada Biksu, namun setiap tahun beliau selalu ikut berdana bukan hanya di satu Vihara, kadang di dua Vihara. Sewaktu saya bertanya motivasi apa yang mendorongnya bersusah payah melakukan itu, sambil tersenyum beliau menjawab dengan meyakinkan, Dengan Kathina Dana saya merasa damai dan bahagia, berarti saya sudah menyokong Biksu Sangha mengembangkan Buddha Dharma.” Sebuah jawaban yang luar biasa yang menunjukkan ibu ini tidaklah miskin, justru beliau kaya akan cinta kasih dan ketulusan. Di dalam Dāna Sutta (AN 7.49), Buddha menjelaskan bahwa memberi dengan hati yang tulus akan membawa kebahagiaan bagi pemberi dan penerima. Kebahagiaan sejati muncul saat batin terbebas dari rasa ingin memiliki.

Ibu yang sederhana ini telah membuktikan kepada kita bahwa untuk melakukan kebajikan tidak perlu menunggu kondisi ideal. Seperti motto salah satu merek sepatu: Just Do It. Lakukan saja, berdanalah dari sekarang dengan apapun yang kita miliki, tidak perlu menunggu kaya atau sukses terlebih dahulu. Apalagi di kehidupan modern yang serba digital sekarang ini, kita dapat berdana dengan lebih mudah. Bahkan bagi umat yang tidak punya kesempatan berdana kebutuhan pokok, tetap dapat ikut berdana yaitu berdana tenaga dalam berbagai kegiatan Kathina Puja.

Jalan Mulia Menuju Kebahagiaan Sejati

Masih banyak orang, tidak terkecuali umat Buddha, yang mencari kebahagiaan dengan jalan menumpuk harta, mencari kedudukan, atau mengharapkan pujian. Sementara Guru Agung kita, Buddha Gautama, menyatakan bahwa semakin banyak apa yang kita miliki, semakin besar pula ketakutan dan kecemasan akan kehilangan yang penyebabnya tiada lain semakin besarnya kemelekatan. Tidak sedikit orang yang masih berpikir, dengan memberi akan membuat mereka kehilangan harta atau materi yang dimiliki. Padahal, Buddha mengajarkan, justru dengan memberi, seseorang telah menanam benih kekayaan dan kebajikan. Seperti yang tertulis dalam Dhammapada 224, ”Dengan memberi, seseorang menjadi kaya; dengan mengendalikan diri, ia menjadi mulia.”

Dengan berdana jubah dan kebutuhan pokok para Biksu Sangha di saat Kathina Puja, umat Buddha telah membersembahkan niat sucinya disertai doa, “Semoga dana ini membawa kebajikan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.” Dengan demikian, berdana menjadi menuju kekayaan, bukan hanya materi, tetapi juga kekayaan hati dan kebajikan. Kebajikan semacam ini tidak dapat dicapai dengan kemewahan duniawi, namun timbul dan berkembang dari ketulusan hati, dan keyakinan bahwa berdana sebagai perwujudan dari cinta kasih (mettā) dan kebijaksanaan (paññā) serta melatih keseimbangan antara duniawi dan spiritual.

Dalam Anguttara Nikaya 8.39, Buddha menyatakan lima manfaat dari berdana, yaitu: 1). Seseorang akan dicintai banyak orang, 2) Orang baik mendekatinya, 3) Reputasinya tersebar luas, 4) Ia tidak menyimpang dari kehidupan berumah tangga, dan 5) Setelah meninggal dunia, ia terlahir di alam bahagia. Buddha juga mengajarkan bahwa dāna adalah pintu pertama menuju kesempurnaan spiritual (pāramī) yang membuka jalan bagi moralitas (sīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā). Dengan demikian, Kathina Dana dapat menjadi jalan mulia bagi semua umat Buddha untuk menuju kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan sejati bukan ditemukan di luar sana, melainkan tumbuh dalam hati yang tahu cara memberi.”

Kathina Puja mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk memberi, entah itu harta, tenaga, waktu, perhatian, bahkan cukup senyuman. Memberi tidak mengurangi apa yang kita miliki, memberi justru memberikan kedamian dan kebahagiaan atas ketulusan hati kita.

Jadi, setiap kali kita berdana, terutama dalam semangat Kathina, kita perlu mengingat bahwa kita sedang menapaki jalan mulia menuju kebahagiaan sejati. Bukan kebahagiaan yang rapuh karena kemelekatan duniawi, melainkan kebahagiaan yang lahir dari hati yang bebas, penuh cinta kasih, dan kedamaian.

Selamat Hari Kathina Puja 2569 B.E./2025

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata
Semoga semua makhluk hidup bahagia dan sejahtera
Sadhu, Sadhu, Sadhu.


Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS