Meditasi Jalan yang Berisik
U.P. Mita Kalyani Irma Gunawan
“Ketika kita malas, kita harus berlatih — bukan hanya saat semangat atau suasana hati sedang bagus. Inilah latihan menurut ajaran Buddha. Tapi sering kali, kita hanya mau berlatih ketika sedang merasa senang. Bagaimana mungkin kita mencapai tujuan dengan cara seperti itu? Kapan kita akan memotong arus kotoran batin kalau kita hanya berlatih mengikuti keinginan?” - Ajahn Chah
Suatu hari, saat menimbang badan, angka di layar timbangan naik dua kilo dalam sebulan. Pantas saja badan terasa semakin berat, mudah lelah, lutut sering nyut-nyutan, dan gampang ngantuk. Setiap kali niat mau olahraga pagi, selalu saja ada alasan, pagi yang sibuk, kerjaan menumpuk, atau acara yang tak ada habisnya. Tapi kalau jujur ke diri sendiri, yang sebenarnya dihadapi bukan kurang waktu, tapi rasa malas.
Akhirnya, dengan sedikit dorongan dari rasa bersalah dan lutut yang mulai protes, tekad pun muncul: “Oke, besok mulai jalan pagi. Sekalian olahraga dan meditasi jalan.” Maka dimulailah perjalanan kecil ini. Untuk menambah semangat, anak penulis menghadiahkan smartwatch supaya bisa mengukur kalori dan kedisiplinan waktu. Hari pertama jalan 30 menit rasanya lamaaa sekali. Nafas ngos-ngosan, langkah berat, dan setelah lihat jam dan kalori yang terbakar baru 190! Lalu terlintas pikiran konyol: “Makan enak bisa 500 kalori dalam hitungan menit, tapi bakarnya cuma segini setelah setengah jam?!” Ya, realita memang kadang bikin tepuk jidat sendiri.
Hari-hari berikutnya, langkah mulai ringan dan pelan-pelan mulai terasa nikmat. Ada saja momen lucu, seperti pagi dimana butuh beberapa menit berdebat dengan rasa malas dan bosan yang datang tanpa diundang. Tapi kemudian muncul kesadaran kecil, rasa malas itu hanya sementara. Pertanyaannya, mana yang lebih berisiko, malas olahraga atau nanti malah sakit berkepanjangan?
Setiap kali jalan, penulis berusaha tidak membawa ponsel, tidak ngobrol, hanya berjalan. Menyadari tekanan langkah kaki, mensyukuri napas, menghirup udara pagi, melihat daun-daun bergoyang, merasakan hangat matahari di kulit, menyapa orang yang lewat dengan senyum ringan. Dalam kesederhanaan itu, muncul rasa syukur. Teringat orang-orang terdekat yang penglihatannya sudah tak sebaik dulu. Dalam hati bersyukur masih bisa melihat semua keindahan kecil di sepanjang jalan ini. Lalu teringat juga teman yang lututnya sudah sering nyeri karena jarang bergerak. Tapi di sisi lain, bukankah tubuh kita selalu punya cara menyeimbangkan? Kalau satu indra melemah, masih ada yang lain yang bisa membantu. Yang penting, kita mau menghargai apa yang masih dimiliki.
Suatu pagi, penulis berpapasan dengan seorang pelari tua di kompleks. Wajahnya mirip dengan seseorang yang dulu aktif mengajarkan olahraga pernapasan tapi lama tak terlihat. Konon, dia pernah melakukan kesalahan besar, malu, lalu menghilang. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan menyesali masa lalu atau tidak mau memperbaiki kesalahan. Sama seperti rasa malas yang sering datang, waktu terus berjalan tanpa menunggu siapapun.
Teringat juga satu pengalaman lain, saat jalan kaki massal menuju candi. Di depan penulis, ada seorang umat yang melakukan meditasi jalan tapi malah seringkali membuat jarak kosong di depan barisan. Penulis coba menegur dengan sopan agar ia mempercepat langkah, tapi dia tetap tenang tanpa reaksi, bahkan saat panitia juga beberapa kali sudah mengingatkan. Penulis sempat bertanya dalam hati, “Apa ini yang disebut sedang meditasi dan tidak boleh diganggu?”
Lah, ini si aku sedang jalan pagi dan meditasi jalan, kok malah pikirannya ke mana-mana? Tapi ya begitulah, ternyata meditasi jalan bisa terasa berisik. Bukan karena suara kendaraan atau orang di sekitar, tapi karena banyak suara kecil di kepala sendiri, suara malas, bosan, kritik, bahkan rasa syukur yang silih berganti muncul. Dan pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh langkah kaki ini berjalan, melainkan seberapa dalam si aku bisa menyadari setiap langkahnya termasuk langkah yang berisik di dalam diri sendiri.
Keajaiban bukanlah mampu berjalan di atas air, tetapi berjalan di atas tanah dengan penuh kesadaran. – Ven. Thich Nhat Hanh