HIDUP TAK SEHALU KONTEN
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Jum'at, 07 November 2025
MBI
Akhir-akhir ini, istilah “Brain Rot” sedang populer di kalangan anak muda. Secara harfiah berarti “otak membusuk”, istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten yang dangkal, cepat, dan tanpa makna, hingga sulit lagi fokus, berpikir jernih, atau menikmati hal-hal sederhana dalam hidup.
Tapi fenomena ini tidak hanya terjadi pada kaum muda, gen-z atau generasi di bawahnya. Ini juga melanda semua lapisan, termasuk ibu-ibu dan bapak-bapak, bahkan kakek dan nenek sekalipun tidak lepas dari fenomena ini.
Menonton video berdurasi 10 detik terasa jauh lebih menarik daripada membaca Dharmapada satu halaman. Scroll media sosial tanpa henti lebih mudah daripada meditasi lima menit. Inilah gejala brain rot ketika pikiran kehilangan kedalaman dan kesadaran.
“Seperti ikan yang ditarik keluar dari air, pikiran ini bergejolak sangat sulit dikendalikan. Maka hendaklah seorang bijaksana menenangkan pikirannya” (Dharmapada 35)
Pikiran yang terus-menerus terpapar distraksi notifikasi, konten cepat, gosip, drama dan sejenisnya ibarat ikan yang terus melompat-lompat di luar air. Semakin lama ia jauh dari “air” ketenangan, semakin sulit ia hidup. “Air” bagi pikiran adalah perhatian penuh (sati) dan kebijaksanaan (paññā). Ketika pikiran kehilangan sati, ia menjadi keruh, gelisah, dan kehausan akan stimulasi baru. Itulah akar dari brain rot penderitaan batin karena pikiran yang kehilangan kediaman.
Dalam dunia modern, brain rot adalah bentuk baru dari samsara. Dulu, manusia terikat pada keinginan, kemarahan, dan kebodohan batin. Kini, bentuknya mungkin berbeda:
• Terikat pada scrolling tanpa akhir.
• Tak bisa jauh dari notifikasi.
• Haus akan likes dan views.
• Gelisah kalau tidak update tren terbaru.
Buddha menyebut tiga racun batin : lobha (nafsu), dosa (kebencian), moha (kebodohan). Brain rot sering muncul dari ketiganya:
• Lobha membuat kita ingin terus menonton, mencari sensasi baru.
• Dosa muncul ketika kita membandingkan diri dengan orang lain.
• Moha muncul ketika kita tidak sadar bahwa semua itu hanyalah ilusi dunia maya.
Jalan Keluar dari “Pembusukan Pikiran”
Buddha tidak pernah menolak dunia tetapi mengajarkan bagaimana hidup di dalamnya tanpa tenggelam. Begitu pula dengan dunia digital. Kita tidak harus menutup diri dari teknologi, tetapi harus bijak menggunakannya.
Beberapa cara praktis menurut Dharma:
1. Latih perhatian penuh (Sati).
Sebelum membuka media sosial, tanyakan: “Apakah ini akan menenangkan pikiranku atau malah membuatnya gelisah?” Dengan satu pertanyaan itu saja, kita sedang mempraktikkan Right Mindfulness.
2. Batasi konsumsi batin.
Buddha berkata bahwa panca indra adalah pintu masuk kesadaran.
Seperti kita menjaga makanan jasmani, kita juga perlu menjaga “makanan batin” (āhāra).
Jangan biarkan pikiran memakan “sampah digital” terus-menerus.
3. Kembalikan perhatian pada hal-hal nyata.
Alam, percakapan langsung, meditasi, membaca kitab semua itu memperkuat pikiran agar tidak membusuk oleh distraksi.
4. Gunakan media untuk kebajikan.
Bagikan Dharma, humor yang sehat atau kisah inspiratif. Gunakan teknologi untuk menyebarkan pencerahan, bukan memperdalam kegelapan batin.
Brain rot bukan cuma tentang teknologi, tetapi tentang keterikatan. Ketika pikiran kehilangan arah dan makna, ia membusuk karena lupa tujuan sejatinya: untuk memahami, bukan sekadar menikmati.
Buddha mengajarkan bahwa pikiran adalah pelopor segala keadaan:
“Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā”
Segala sesuatu didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dibentuk oleh pikiran.
(Dharmapada 1)
Semoga bermanfaat. Sadhu,Sadhu, Sadhu.
Komentar (0)