Jadi Buddhis Sendirian, Lebih Penting Ego atau Hubungan Pertemanan?
Upi. Karina Citra Kumari
Jum'at, 02 Januari 2026
MBI
Ketika mengalami hal tersebut, penulis merasa kesal, sedih, dan juga bingung harus berlindung kepada siapa karena penulis tidak punya siapa-siapa di sana. Di satu sisi, penulis ingin mengutarakan kekesalan atas perkataan mereka, namun di lain sisi, penulis harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, karena secara sadar penulis tahu pasti akan membutuhkan mereka selama perjalanan kuliah yang tentunya tidak mudah.
Pernahkah sahabat Dharma semua mengalami hal serupa. Dan menurut sahabat Dharma semua, apa sih yang penulis lakukan untuk menaklukan perasaan insecure ini?
Beruntungnya, penulis mengenal Buddha dan ajarannya. Penulis tahu pasti bahwa ajaran Buddha dapat menjawab kegelisahan penulis. Akhirnya, penulis mendapatkan jawabannya dalam Anguttara Nikaya 4.32. Buddha menjelaskan bahwa ada empat cara untuk memelihara hubungan baik, yaitu dengan memberi, berucap penuh kasih, berperilaku murah hati, dan bersikap tidak membeda-bedakan. Setelah mengetahui itu, penulis coba mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika bertemu dengan orang yang berbeda, penulis berlatih untuk menerima perbedaan tersebut dan memberikan toleransi atas perbedaan yang ada. Ketika berinteraksi dengan orang lain, penulis berlatih untuk berbicara dengan sopan dan tidak menyakiti mereka. Ketika mereka membutuhkan bantuan, penulis pasti akan mengulurkan tangan untuk membantu mereka sebisa penulis. Selain itu, penulis juga melakukan pelimpahan jasa setiap malam sebagai praktik berbagi kebajikan dan mengembangkan metta-karuna. Penulis melakukan aspirasi agar semua makhluk tanpa terkecuali dapat merasakan manfaat dari kebajikan yang penulis lakukan.
Penulis turut mempraktikkan ini kepada teman kuliah yang pernah membuat kesal karena perkataan mereka. Tanpa disadari, mereka perlahan sudah tidak pernah menanyakan hal berbau agama lagi, sebaliknya mereka malah memperlakukan penulis seperti apa yang penulis lakukan, yakni berucap baik, memberi bantuan, juga tidak ada diskriminasi yang ditujukan kepada penulis.
Praktik pelimpahan jasa yang penulis lakukan juga memberikan dampak terhadap apa yang penulis rasakan. Penulis merasa bahagia dan damai ketika melihat teman-teman yang pernah berperilaku kurang baik kepada penulis. Sekarang, kehidupan perkuliahan jauh lebih menyenangkan tanpa adanya rasa insecure karena menjadi satu-satunya umat Buddha di kampus. Pada akhirnya, penulis tetap bisa menjaga hubungan yang harmonis dengan mereka sampai saat ini.
Awalnya sih penulis hanya coba-coba cari solusi dari ajaran Buddha, tapi ternyata manjur juga, sampai rasa insecure penulis berhasil hilang. Penulis berharap tulisan ini dapat menginspirasi Sahabat Dharma yang berada di posisi seperti penulis. Tentunya, ini semua pilihan kita masing-masing, tinggal tentukan saja mau mempraktikkannya atau tidak. Kalau penulis bisa, kenapa kalian tidak bisa?
Daftar Pustaka
Dharmacitta. (2015). AN 4.32: Saṅgaha Sutta. https://Dharmacitta.org/teks/an/an4/an4.32-id-bodhi.html [25 Desember 2025].
Rudianto. (2025, Juli 21). Memahami Manfaat Pelimpahan Jasa dalam Ajaran Buddha. https://kemenag.malangkota.go.id/mimbar?head=memahami-manfaat-pelimpahan-jasa-dalam-ajaran-buddha [25 Desember 2025].
Komentar (0)