LANGKAH PERTAMA DI JALAN PANJANG
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Dalam kehidupan sehari-hari, ketika ingin melakukan sesuatu langkah terberat adalah langkah pertama. Ketika akan mulai berolahraga, membaca, diet atau hal lainnnya memulainya adalah sesuatu yang sangat berat. Namun setelah dijalani semua hanyalah sebuah rutinitas.
Langkah awal adalah sesuatu yang sangat penting, seperti kutipan pepatah Tingkok bahwa “perjalanan seribu mil dimulai dari sebuah langkah”. Termasuk dalam menapaki jalan spiritual, jalan spiritual adalah jalan yang sangat panjang. Buddha Gotama membutuhkan waktu yang sangat panjang sampai akhirnya mencapai Pencerahan Sempurna, Beliau membutuhkan waktu empat asankheyya dan seratus ribu kappa sejak memunculkan adhitana di hadapan Buddha Dipankara. Pencapaian jalan spiritual Buddha Gotama bukanlah sesuatu yang instant.
Memunculkan keyakinan pada Buddha, Dharma dan Sangha adalah langkah awal seseorang dalam menapaki jalan spiritual, jalan Buddha. Keyakinan adalah bahan bakar, tanpa keyakinan, seseorang tidak akan berusaha, tidak akan menapaki jalan kebajikan dan tidak akan tumbuh dalam Dharma. Namun, keyakinan dalam ajaran Buddha bukanlah keyakinan membuta, melainkan keyakinan yang disertai kebijaksanaan dan pemahaman.
Dalam Pāli Canon, Saddhā diartikan sebagai keyakinan yang didasari kebijaksanaan, yang mendorong seseorang untuk melangkah dan berbuat baik. Saddhā bukan sekadar percaya, tetapi percaya karena memahami.
“Saddhāya paripūrako hoti paññāya” Keyakinan melengkapi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan melengkapi keyakinan. (Aṅguttara Nikāya I, 50)
Artinya, orang bijaksana tidak hanya berpikir tanpa percaya dan orang yang berkeyakinan sejati tidak hanya percaya tanpa berpikir. Kalau hanya sekedar percaya semua orang bisa melakukannya, namun yang sulit itu berpikir, menganalisa dan mengujinya. Dan berpikir tentang mengapa kita percaya pada sesuatu itu jauh lebih sulit lagi.
Salah satu ciri ajaran Buddha adalah Ehipassiko, yang berarti “datang, lihat dan buktikan sendiri.” Ini menandakan bahwa Dharma tidak meminta kita untuk percaya secara buta, tetapi mengajak kita untuk menyelidiki, mengalami, dan membuktikan sendiri kebenarannya.
Buddha tidak berkata, “Percayalah padaku!” Beliau berkata, “Datanglah, lihatlah, pahamilah dan praktikkan.” Keyakinan yang tumbuh dari pengalaman pribadi inilah yang membuat Saddhā. Dengan pandangan seperti ini maka keyakinan seseorang menjadi lebih kuat.
Dalam Kālāma Sutta (Aṅguttara Nikāya 3.65), Buddha mengingatkan kepada suku Kalama agar kita tidak menerima sesuatu hanya karena itu diajarkan turun-temurun, disebut dalam kitab suci, dikatakan oleh guru-guru yang dihormati atau karena banyak orang mempercayainya.
“Janganlah kalian menerima sesuatu hanya karena mendengarnya berulang kali, tetapi setelah kalian mengetahui sendiri bahwa hal itu baik, dipuji oleh para bijksana, bermanfaat, dan membawa kebahagiaan, barulah kalian menerimanya serta melakukannya.”
Inilah peringatan agar kita tidak terjebak pada keyakinan membuta, keyakinan jenis ini bisa menyesatkan, karena tidak dilandasi pemahaman.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan Saddhā dalam kehidupan sehari-hari:
1. Mendengarkan Dharma (Dhammassavana)
Mendengar ajaran benar menumbuhkan pengertian yang menjadi dasar keyakinan.
2. Berbuat Kebajikan (Dana)
Dengan berdana, hati menjadi lembut dan terbuka; keyakinan pun tumbuh karena kita melihat sendiri hasil kebajikan.
3. Bergaul dengan orang bijaksana (Kalyāṇamitta)
Teman yang bijaksana menumbuhkan kepercayaan diri dan pemahaman benar.
4. Merenungkan Dharma dalam kehidupan nyata
Menghubungkan ajaran dengan pengalaman hidup membuat Dharma menjadi nyata,
bukan sekadar teori.
5. Melatih meditasi (Bhāvanā)
Dalam keheningan batin, muncul pengertian langsung tentang anicca, dukkha, dan anattā
yang memperkuat Saddhā secara mendalam.
Semua praktek ini dapat kita temui di wihara sebagai “one stop service”.
Dalam ajaran Buddha, tidak ada paksaan untuk berkeyakinan atau berpindah keyakinan.
Keyakinan adalah hasil pemahaman dan kebijaksanaan pribadi. Dalam Majjhima Nikāya 56 (Upāli Sutta), seorang umat Jain bernama Upali setelah kalah berdebat, ingin menjadi murid Buddha. Alih-alih menerima Upali sebagai murid, Buddha malah berkata, “Pertimbangkan dulu baik-baik, Upali, jangan terburu-buru. Ini adalah hal yang berat bagi seseorang yang lama berkeyakinan lain.”
Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama Buddha bukanlah mencari pengikut, tetapi Beliau mengajarkan agar keyakinan muncul dari pemahaman, bukan tekanan atau sekedar ajakan emosional semata. Pindah keyakinan tidak dianggap sesuatu yang luar biasa dalam Buddhisme, asal dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab spiritual, bukan karena emosi, tekanan, atau keuntungan pribadi.
Keyakinan adalah api pertama yang menyalakan jalan kebajikan, namun api ini harus dijaga dengan minyak kebijaksanaan agar jangan sampai padam apalagi malah membakar secara membabi buta.
Mari kita memiliki keyakinan yang cerdas yaitu keyakinan yang datang dari pemahaman baik, yang menuntun kita pada kebajikan, yang membebaskan dari kebencian, keserakahan dan kebodohan batin, yang membawa kita menuju Nibbāna kedamaian sejati sebagai pembebasan utama, karena para Tatagatha hanyalah sebagai penunjuk jalan, kita sendirilah yang harus menjalani dan mempraktekannya secara langsung.
Semoga kita semua senantiasa dapat menumbuhkan Saddhā yang sejati, yang berakar dalam kebijaksanaan dan berbuah dalam kedamaian.