Kilesa dan Warisan Penderitaan Keluarga
U.P. Mita Kalyani Irma Gunawan
Beberapa waktu terakhir, masyarakat kembali diingatkan pada sebuah kisah nyata yang mengusik nurani tentang relasi yang rapuh dan luka yang tak kunjung sembuh. Cerita itu menggambarkan seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak aman. Kisah seperti ini sebenarnya tidak asing dan mungkin tidak selalu menjadi sorotan luas. Namun, ia hidup dalam banyak rumah dan tersembunyi dalam banyak hati. Banyak orang dewasa yang terluka sesungguhnya adalah anak-anak yang dahulu tidak pernah benar-benar didengar.
Psikologi perkembangan (cabang ilmu psikologi yang mempelajari perubahan perilaku dan proses mental manusia sepanjang rentang kehidupannya, dari masa konsepsi hingga dewasa –red.) melalui teori kelekatan menjelaskan bahwa hubungan anak dengan orang tua membentuk pola relasinya di masa dewasa. Anak yang tumbuh dalam rasa aman belajar bahwa dirinya berharga dan orang lain dapat dipercaya. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam kritik, penolakan, atau ketidak pastian emosional cenderung mengembangkan pola kelekatan yang tidak aman. Pola ini dapat muncul sebagai kecemasan berlebihan, ketakutan ditinggalkan, atau kecenderungan menarik diri dalam hubungan. Dalam beberapa kasus, pola tersebut berkembang menjadi sikap mengontrol atau perilaku manipulatif.
Perilaku manipulatif sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri yang terbentuk sejak kecil. Anak yang tidak pernah merasa aman belajar bahwa ia harus mengendalikan situasi agar tidak kembali terluka. Ketika dewasa, strategi bertahan itu terbawa dan memengaruhi cara ia berelasi. Perilaku ini dapat muncul dalam bentuk membuat orang lain meragukan dirinya sendiri, memainkan peran korban, memberi hukuman diam, atau menekan dengan rasa bersalah. Di balik tindakan yang tampak menyakiti itu sering tersembunyi rasa takut dan perasaan tidak berharga yang belum pernah dipulihkan.
Apa yang dalam psikologi disebut trauma dan mekanisme pertahanan, dalam ajaran Buddha dipahami sebagai manifestasi kilesa atau kekotoran batin. Luka yang tidak disadari dapat memunculkan kemelekatan, kemarahan, dan kebingungan batin yang terus berulang. Jika tidak dikenali, kondisi batin ini membentuk pola yang kemudian diwariskan dalam hubungan dan keluarga. Dengan demikian, penderitaan tidak hanya dialami secara pribadi, tetapi juga dapat menjadi siklus antar generasi. Pertanyaan reflektifnya adalah apakah kita sedang menyembuhkan luka itu, atau justru meneruskannya?
Dalam ajaran Buddha dikenal tiga akar kekotoran batin, yaitu lobha, dosa, dan moha. Lobha tampak sebagai kemelekatan dan dorongan untuk memiliki atau menguasai secara berlebihan. Dosa muncul sebagai kemarahan, kebencian, atau penolakan yang tersimpan dalam batin. Moha adalah ketidaktahuan yang membuat seseorang tidak memahami sumber penderitaannya sendiri. Ketika seseorang tumbuh dengan luka yang tidak disadari, ketiga akar ini mudah berkembang dan membentuk cara ia berpikir serta bertindak.
Sebagaimana tertulis dalam Dhammapada ayat 1: “Pikiran adalah pelopor segala sesuatu. Bila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang tidak murni, penderitaan mengikutinya seperti roda mengikuti jejak kaki lembu.”
Akar persoalan sering kali kembali pada kondisi batin yang tidak dipahami dengan jernih. Dari batin yang bingung dan terluka inilah pola perilaku terbentuk, lalu berulang menjadi lingkaran penderitaan yang baru. Jika pola ini tidak disadari dan dihentikan, ia dapat berubah menjadi warisan yang tidak terlihat dalam keluarga. Seseorang akhirnya tidak benar-benar belajar cara menghadapi konflik dengan sehat, cara mengekspresikan kemarahan, atau cara mencintai tanpa melukai.
Dalam ajaran Paticca Samuppāda, Buddha menjelaskan bahwa setiap keadaan muncul karena sebab dan kondisi yang saling bergantungan. Kontak melahirkan perasaan, perasaan memunculkan keinginan (tanhā), keinginan berkembang menjadi kemelekatan (upādāna), dan dari sana terbentuk keberadaan yang berulang serta berujung pada penderitaan. Rangkaian ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses batin yang tidak disadari. Ketika pengalaman menyakitkan tidak dipahami dengan kebijaksanaan, ia memicu reaksi emosional yang memperkuat pola lama. Pola inilah yang kemudian terus diwariskan tanpa disadari dari satu relasi ke relasi berikutnya.
Master Thich Nhat Hanh mengingatkan bahwa kita mewarisi bukan hanya ciri fisik orang tua, tetapi juga ketakutan, kemarahan, dan kebiasaan mereka. Kita adalah kelanjutan dari generasi sebelumnya, termasuk dalam hal pola batin yang belum terselesaikan. Bila generasi terdahulu tidak memiliki kesempatan untuk menyembuhkan luka mereka, luka itu dapat terus mengalir melalui sikap, cara berkomunikasi, dan pola relasi. Pemahaman ini bukan untuk menyalahkan orang tua atau membenarkan perilaku menyakiti. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat bahwa kebencian yang dibalas kebencian hanya akan memperpanjang rantai penderitaan.
Latihan kesadaran menjadi titik awal untuk memutus rantai tersebut. Ketika seseorang mulai mengenali pola reaksinya dan berani melihat lukanya tanpa menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, perubahan mulai terjadi. Latihan perhatian penuh membantu kita menyadari emosi sebelum berubah menjadi tindakan yang melukai, sementara cinta kasih dan kebijaksanaan menolong kita memahami bahwa kita bukanlah luka itu sendiri. Kita mungkin tidak dapat memilih masa kecil kita, tetapi kita dapat memilih bagaimana mengolahnya hari ini. Warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah harta atau kedudukan, melainkan batin yang lebih jernih dan cinta yang tidak lagi lahir dari luka.
Disinilah Dharma menjadi relevan. Bukan sekadar sebagai ajaran yang dibaca, melainkan sebagai ajaran yang dijalani untuk memutus rantai penderitaan dan menumbuhkan generasi yang lebih sadar, lebih welas asih, dan lebih bebas dari kilesa. Sadhu.
Sumber referensi :
Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss, Vol. 1: Attachment. New York: Basic Books.
Ainsworth, M. D. S. (1978). Patterns of Attachment. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Freud, A. (1936). The Ego and the Mechanisms of Defence. London: Hogarth Press.
Hanh, Thich Nhat. (1998). The Heart of the Buddha’s Teaching. New York: Broadway Books.
Hanh, Thich Nhat. (2014). No Mud, No Lotus: The Art of Transforming Suffering. Berkeley: Parallax Press.