PERTEMUAN BESAR PARA ARAHAT
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Jum'at, 27 Februari 2026
MBI
Lebih dari 2.500 tahun lalu, sebuah peristiwa agung yang tak terulang, saat purnama di bulan Magha, 1.250 orang Arahat menemui Guru Agung Buddha di wihara Veluvana (Hutan Bambu), di dekat Rājagaha, tanpa perjanjian terlebih dahulu. Pada kesempatan ini Buddha menyampaikan pesan tentang nasihat menuju pembebasan yang dikenal dengan Ovāda Pāṭimokkha.
Magha Puja bukan sekadar hari besar yang dirayakan dengan lilin, dupa, dan puja bakti. Ini adalah hari perenungan yang sangat mendalam, hari ketika Buddha Gautama merangkum seluruh ajaran-Nya dalam beberapa kalimat sederhana, namun sarat makna dan relevansinya lintas zaman.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, penuh kompetisi, kegelisahan, dan konflik batin, Magha Puja hadir sebagai pengingat ajaran Buddha yang lemah lembut namun tegas, hari suci yang mengajak kita untuk kembali ke esensi ajaran Buddha, bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari luar, melainkan dari batin yang terlatih, jernih, dan penuh kebijaksanaan.
Magha Puja berakar pada peristiwa luar biasa yang terjadi pada purnama bulan Magha, sekitar sembilan bulan setelah Pencerahan Agung Buddha. Peristiwa ini terjadi di wihara Veluvana, dekat kota Rajagaha yang memiliki empat keistimewaan langka:
1. Sebanyak 1.250 biksu berkumpul secara spontan
2. Seluruh biksu tersebut adalah Arahat, telah terbebas dari kilesa
3. Mereka semua ditahbiskan langsung oleh Buddha dengan ucapan “Ehi Bikkhu”
4. Buddha membabarkan Ovāda Pāṭimokkha.
Peristiwa semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak terulang kembali sepanjang sejarah kehidupan Buddha. Dalam pertemuan tersebut, Buddha tidak membabarkan Dharma panjang lebar kepada Sangha, melainkan menyampaikan inti ajaran yang padat, lugas, dan universal, yang dikenal sebagai Ovāda Pāṭimokkha, nasihat luhur bagi para biksu dan seluruh umat manusia.
Inilah momen ketika Buddha menyaring seluruh ajaran-Nya menjadi prinsip-prinsip fundamental yang dapat diterapkan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Jantung dari ajaran Para Buddha.
Tidak Melakukan Kejahatan (Sabbapāpassa akaraṇaṃ)
Kejahatan dalam ajaran Buddha tidak hanya terbatas pada perbuatan fisik seperti membunuh mencuri, melanggar kesusilaan atau mengkonsumsi minuman keras, tetapi juga mencakup ucapan dan pikiran yang tidak terjaga dengan baik. Kebencian yang ditebar, dendam yang dipelihara, ucapan kasar, kebohongan kecil yang dianggap sepele, semuanya adalah bentuk kejahatan yang menjadi benih penderitaan.
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.” (Dhammapada 1)
Magha Puja mengajak kita untuk lebih jujur pada diri sendiri, bercermin dan instropeksi diri apakah kita sudah cukup usaha untuk mengurangi niat buruk, ucapan menyakitkan, dan Tindakan-tindakan yang merugikan makhluk lain?
Mengembangkan Kebajikan (Kusalassa upasampadā)
Ajaran Buddha tidak berhenti pada “tidak berbuat jahat” saja. Ia melangkah lebih jauh: aktif untuk menumbuhkan kebajikan dāna (berdana), menjaga sīla (moralitas), dan mengembangkan bhāvanā (pengembangan batin).
Dalam Itivuttaka, disebutkan: “Jika makhluk mengetahui sebagaimana Aku mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan makan tanpa terlebih dahulu berdana.”
Kebajikan atau pebuatan baik bukan hanya sekedar ritual seremonial semata, melainkan sebuah latihan batin nyata untuk mengikis keserakahan, keakuan, dan kelekatan di dalam diri kita, hendaknya kita dapat memberi dan berbagi walaupun hanya sedikit.
Sucikan Batin (Sacittapariyodapanaṃ)
Inilah inti terdalam dari ajaran Buddha. Akar penderitaan bukanlah dunia luar, melainkan berasal dari dalam diri kita sendiri, batin yang tidak terlatih, dipenuhi loba (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin).
“Luka dan kesakitan macam apa pun, dapat dibuat oleh orang yang saling bermusuhan atau saling membenci. Namun pikiran yang diarahkan secara salah, akan melukai seseorang jauh lebih berat.” (Dhammapada 42)
Magha Puja mengingatkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam, melalui perhatian penuh (sati), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā). Kesabaran dan tanpa kekerasan adalah jalan Para Buddha
Dalam Ovāda Pāṭimokkha, Buddha juga menekankan “Khantī paramaṃ tapo titikkhā” Kesabaran adalah tapa tertinggi. Mereka yang sabar sesungguhnya dapat disebut sebagai pertapa. Kesabaran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan batin tertinggi. Di dunia yang mudah tersulut emosi, ajaran ini menjadi sangat relevan. Kesabaran bukanlah sikap pasrah, kesabaran adalah kemampuan untuk mengendalikan ego dan kemarahan disaat kita mampu mengekspresikannya.
Seperti kutipan Dhammapada 5: “Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir, bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah hukum abadi.”
Magha Puja mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan dengan mengalahkan orang lain, melainkan bagaimana kita berusaha untuk bisa menaklukkan kemarahan dan keakuan dalam diri kita sendiri, Ketika kita bisa mengalahkan “si aku”, ego dalam diri kita karena ketika kita berhasil mengalahkan diri sendiri inilah yang disebut sebagai kemenangan sejati yang sesungguhnya.
Buddha juga menasihati agar para praktisi hidup sederhana dan praktik berkesadaran penuh, tidak melekat pada kenikmatan indria, serta tekun berlatih meditasi. Bagi perumah tangga, ini tidak berarti bahwa umat Buddha harus miskin dan tidak boleh kaya, tidak boleh memiliki harta. Namun kesederhanaan yang dimaksud adalah hidup secukupnya dan sewajarnya, tidak diperbudak oleh keinginan-keinginan yang tanpa batas, serta melatih kesadaran dalam aktivitas sehari-hari.
Pada masa kini Magha Puja memiliki makna sebagai kompas moral di tengah kehidupan dunia yang semakin kompleks. Magha Puja menjadi kompas moral di tengah dunia yang sering mengaburkan Batasan antara yang benar dan salah. Ia mengingatkan bahwa Dharma bersifat sederhana, tetapi tidak dangkal.
Magha Puja mengajarkan tentang refleksi diri bukan sekedar ritual seremonial semata. Puja bakti, pradaksina, dan pelimpahan jasa adalah praktik-praktik yang sangat penting dalam upaya menumbuhkan keyakinan pada Triratna (Saddha), namun semua praktik ini menjadi jauh lebih bermakna ketika disertai perubahan sikap dan batin.
“Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak bijaksana dan tidak terkendali, sesungguhnya lebih baik adalah kehidupan sehari dari orang yang bijaksana dan tekun bersamadhi.” (Dhammapada 111)
Magha Puja bukan hanya milik Sangha, pandita, atau umat yang rajin ke vihara, Magha Puja menjadi jalan universal bagi semua kalangan, nilai-nilainya yang bersifat universal hidup bermoral, berbuat baik dan melatih batin, siapa pun bisa mempraktikkannya.
Magha Puja bukan hanya sekedar sebuah peristiwa sejarah, melainkan cermin bagi perjalanan spiritual kita sendiri. Ia mengajak kita untuk kembali mempertanyakan dengan jujur pada diri sendiri :
• Apakah hidup kita semakin mengurangi penderitaan?
• Apakah batin kita semakin jernih dan lapang?
• Apakah kita berjalan di jalan yang ditunjukkan para Buddha?
Semoga peringatan Magha Puja ini menjadi titik balik kecil namun berdampak besar dan nyata dalam kehidupan ini, kita menjadi lebih sabar, lebih sadar, dan lebih bijaksana dari hari ke hari.
Komentar (0)