Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dekonstruksi Penderitaan Modern Melalui Paticcasamuppāda

Cari

Tampilkan Artikel

Dekonstruksi Penderitaan Modern Melalui Paticcasamuppāda

U.P. Sabbamitta Hendra Lim

Jum'at, 13 Maret 2026

MBI

Kata manusia bersumber dari manuṣya (Sanskerta) atau manussa (Pali). Analisis tentang konsep manusia dalam agama Buddha lebih detail dari sekadar pembagian jasmani dan rohani. Jasmani adalah wujud fisik, dan rohani adalah wujud nonfisik. Seperti komputer yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak, demikian juga manusia. Kaki dan tangan, jari dan kuku, paru-paru dan jantung, serta berbagai organ yang lain adalah kelompok fisik. Roh atau jiwa adalah nonfisik. Agama Buddha memiliki uraian yang lebih lengkap.  


Bhārasutta (SN 22.22) mengandung penjelasan tentang pembawa beban, yaitu seseorang dengan nama tertentu dari keluarga tertentu yang membawa beban lima kelompok kemelekatan. Bentuk (rupa), perasaan (vedanā), persepsi (saññā), bentukan-bentukan mental (saṅkhārā), dan kesadaran (viññāṇa) adalah yang dimaksud dengan lima kelompok kemelekatan. Buddha menjelaskan kepada Pukkusāti (Dhātuvibhanga Sutta (MN 140)) bahwa manusia terdiri dari enam unsur, enam landasan kontak, dan delapan-belas jenis eksplorasi pikiran, dan empat landasan. Delapan-belas jenis eksplorasi pikiran ini terdiri kegembiraan, kesedihan, dan keseimbangan. Masing-masing terjadi setelah melihat bentuk, mendengar suara, mencium aroma, mengecap rasa, merasakan sentuhan, dan mengenali objek pikiran.

Penjelasan dari dua sutta di atas menunjukkan bahwa sisi rohani, jiwa atau “piranti lunak manusia” kompleks. Persepsi, bentukan mental, dan perasaan silih berganti menerpa, kadang-kadang dalam waktu sekejap. Mereka muncul tanpa terduga dan tanpa kendali, khususnya bagi orang-orang yang belum terlatih untuk mengamati berbagai peristiwa dalam pikiran mereka. Berbagai bentukan mental yang terus tercipta bahkan mampu menyebabkan seseorang memberikan reaksi berlebihan karena dia mengalami overthinking.

Over (berlebihan) dan thinking (berpikir atau pemikiran), dua kata dalam bahasa Inggris tersebut membentuk kata overthinking. Khoirunnisa et al., (2025) mengemukakan bahwa over thinking adalah suatu perilaku yang terkait dengan aktivitas berpikir secara berlebihan yang mengakibatkan kecemasan karena seseorang tidak berpikir sesuai dengan realita (Khoirunnisa et al., 2025). Overthinking merupakan sebagai suatu kebiasaan memikirkan sesuatu. (Suroiyya & Habsy, 2024). Hal yang dipikirkan adalah yang negatif dan tidak mendesak dan dilakukan terus-menerus (Maulana, 2025). Berpikir berlebihan ini dilakukan bukan hanya secara mendalam tetapi juga berlarut-larut dan dibarengi dengan berbagai perasaan negatif seperti kuatir, takut, dan cemas terhadap sesuatu bahkan belum terjadi sama sekali (Antika et al., 2025)

Buddha telah mengajarkan bahwa ada atau tidak ada Buddha, kenyataan bahwa semua kondisi tidak kekal, semua yang berkondisi adalah dukkha, dan segala sesuatu itu adalah tanpa-diri tetap ada (Uppādāsutta/AN 3.136). Dukkha memiliki banyak pengertian, jenis, dan bentuk namun pengalamannya tetap sama yaitu perasaan dukacita (domanassa)  berupa sensasi atau perasaan, atau kondisi batin yang tidak baik, suram, gelap, dan muram (duṭṭhu mano). Beberapa penelitian telah menjelaskan perasaan dukacita yang disebabkan oleh overthinking.

Gambaran seseorang yang mengalami overthinking terdiri dari kondisi psikologis dan fisik. Secara psikologis adalah gelisah tidak menentu, khawatir akan masa depan, takut gagal, tidak fokus saat menghadapi masalah, bahkan hingga imsonia. Secara fisik adalah mudah lelah dan sakit, menyendiri, serta gampang tersinggung, pendiam, dan penakut (Aldi et al., 2023).

Budiman et al., (2025) menjelaskan tentang dampak negatif overthinking terhadap mahasiswa. Karena mereka sering berpikir tentang kegagalan, cemas akan masa depan, dan membandingkan prestasi, mereka mengalami berbagai hal negatif secara fisik, psikis, sosial, dan akademik. Hal-hal negatif tersebut kemudian mengakibatkan siklus negatif yang sulit diputus yang pada akhirnya menyebabkan mereka kelelahan sehingga memutuskan menunda studi atau bahkan berhenti.

Overthinking menghambat proses pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan pengelolaan emosi. Dalam jangka panjang, seseorang akan ragu pada dirinya sendiri. Dia juga sulit mengendalikan pikiran dan mengambil keputusan yang memberikan dampak buruk secara fisik dan emosi. Selain itu, overthinking memengaruhi kualitas dan kesejahteraan hidup seseorang (Suroiyya & Habsy, 2024).

Duka karena overthinking dapat dianalisis menggunakan Paticcasamuppāda sehingga Buddhis yang mengalami masalah ini mendapatkan solusi untuk mengatasi penderitaan mereka. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa ajaran Buddha memberikan solusi bagi berbagai fenomena sosial dan dampak negatif yang disebabkannya. Ajaran Buddha adalah jawaban bagi kondisi sulit yang dihadapi. Memahami overthinking dan duka yang disebabkannya melalui pendekatan Paticcasamuppāda akan membantu Buddhis untuk menghadapi kondisi dirinya.

Bila ini ini ada, ini timbul; dengan timbulnya ini, ini timbul. Bila ini tidak ada, ini tidak timbul; dengan terhentinya ini, ini terhenti (Dutiyaassutavāsutta/SN 12.62). Paṭiccasamuppāda terdiri dari dua suku kata; 1) paṭicca yang berarti bergantung (pada), bersyarat, berdasarkan, bersebab, dikarenakan, serta 2) samuppāda terdiri dari saṃ (baik/tepat) dan uppāda (muncul, terjadi, terbentuk, menjadi). Sebuah realitas tentang fenomena yang kemunculannya (sudah tepat/pas) bersebab/saling terkait adalah definisi dari paṭiccasamuppāda. Paccaya Sutta (SN 12:20) mengandung penjelasan bahwa apakah Tathāgata (Buddha) muncul atau tidak, prinsip/realitas tentang keberadaan itu tetap ada, realitas tentang kemunculan yang sebabnya spesifik tetap ada (idappaccayatā).

Penjelasan tentang paṭiccasamuppāda ada dalam Paticca-samuppada-vibhanga Sutta (SN 12.2). Dengan adanya kesalahpengertian (avijja) sebagai prasyarat, muncullah bentukan-bentukan (sankhara) Dengan adanya sankhara sebagai prasyarat, muncullah kesadaran (vinnana). Dengan adanya kesadaran sebagai prasyarat, muncullah nama-rupa. Dengan adanya nama-rupa sebagai prasyarat, muncullah enam lingkup indrawi (ayatana). Dengan adanya enam lingkup indrawi sebagai prasyarat, muncullah kontak (phassa). Dengan adanya kontak sebagai prasyarat, muncullah sensasi (vedana). Dengan adanya sensasi sebagai prasyarat, muncullah rasa tak berkecukupan (tanha). Dengan adanya rasa tak berkecukupan sebagai prasyarat, muncullah rasa butuh (upadana). Dengan adanya rasa butuh sebagai prasyarat, muncullah keberadaan (bhava). Dengan adanya keberadaaan sebagai prasyarat, muncullah kelahiran (jati). Dengan adanya kelahiran sebagai prasyarat muncullah penuaan dan kematian (jaramarana), kesedihan, ratapan, penderitaan, penolakan dan keputusasaan. Demikianlah timbulnya seluruh kumpulan dukkha dan penderitaan.

Penderitaan-penderitaan yang dikarenakan overthinking bermula dari kesalahpengertian (avijja) yang kemudian memunculkan sankhara (bentukan secara fisik, ucapan, atau mental). Kesalahpengertian dalam konteks overthinking adalah tidak memahami bahwa sesungguhnya seseorang hanya memberikan reaksi kepada pemikirannya sendiri, imajinasi-imajinasi mental yang diciptakan sendiri. Reaksi ini lebih lanjut adalah bentukan mental yang kemudian memunculkan rasa tak berkecukupan (tanha), lalu rasa butuh (upadana), dilanjutkan dengan hasrat untuk menjadi sesuatu (bhava). Proses ini terjadi dalam ruang lingkup mental yang mana seseorang mengalaminya terus menerus sehingga dia mengalami berbagai penderitaan dalam bentuk kecemasan, kegalauan berkepanjangan, dan berbagai pemikiran negatif yang memengaruhi kehidupan mereka secara fisik dan batin. Dengan pengertian bahwa akar dari masalah ini adalah kesalahpengertian, seseorang akan mampu untuk mengatasi persoalan overthinking yang dia hadapi.

Pemahaman tentang paṭiccasamuppāda akan membantu mengatasi overthinking. Konsep kesalingterkaitan dalam ajaran Buddha ini menjelaskan penyebab timbulnya seluruh kumpulan dukkha dan penderitaan. Mengatasi suatu masalah dimulai dari mengetahui sumber masalahnya. Masalah overthinking disebabkan oleh kesalahpengertian sehingga pengertian benar adalah awal untuk sembuh dari overthinking. Dengan berhentinya dan berakhirnya tanpa sisa kesalahpengertian, berakhirlah sankhara (Paticca-samuppada-vibhanga Sutta/SN 12.2).

Pengertian benar, dalam konteks mengatasi overthinking, adalah sungguh-sungguh telah mengetahui bahwa obyek yang menyebabkan munculnya reaksi sesungguhnya tidak ada, tidak  nyata, melainkan hanya imajinasi semata, ciptaan pemikiran sendiri. Seseorang sesungguhnya hanya memberikan tanggapan kepada pemikirannya sendiri. Dia hanya bereaksi terhadap ilusi yang dia ciptakan sendiri. Pengertian benar adalah solusi ketika pemikiran imajinatif muncul. “Ini ilusi. Ini tidak nyata. Ini imajinasi ciptaan saya sendiri” adalah kata-kata refleksi diri untuk memunculkan pengertian benar ini.

Daftar Pustaka :
Aldi, A., Komaruddin, K., & Marianti, L. (2023). Penerapan Konseling Individu dengan Teknik Cognitive Defusion dalam Mengatasi Overthinking. Journal of Society Counseling, 1(3), 340–349. https://doi.org/10.59388/JOSC.V1I3.373
 
Antika, S., Sartika, S., Liatre, Rahmayani, & Imelda. (2025). Dampak Kesehatan Mental Akibat Overthinking Dan Media Sosial Pada Mahasiswa. MEDIKA : Jurnal Kasus Dan Penelitian Kesehatan, 1(1), 16–27. https://jurnalp4i.com/index.php/medika/article/view/5141
 
Budiman, J. A., Hikayudi, A., & Zulfia, S. (2025). Dampak Overthinking Terhadap Produktivitas Belajar Dan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Di Perguruan Tinggi. PSIKIS : Jurnal Ilmu Psikiatri Dan Psikologi, 1(1), 1–9. https://www.jurnalp4i.com/index.php/psikis/article/view/5180
 
Khoirunnisa, A., Andini, M., & Mulyeni, S. (2025). Menangani Overthinking Dengan Mindfulness Therapy. Populer: Jurnal Penelitian Mahasiswa, 4(1), 38–45. https://doi.org/10.58192/POPULER.V4I1.2939
 
Maulana, M. A. (2025). Peran Psikologi Dakwah dalam Menyikapi Fenomena Overthinking Remaja Muslim. JIMU:Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 3(3), 1512–1519. https://ojs.smkmerahputih.com/index.php/jimu/article/view/806
 
Suroiyya, F. O., & Habsy, B. A. (2024). Tinjauan Overthingking Dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya. Jurnal BK UNESA, 14(2). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/61834

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS