Langkah Kecil Menuju Kebahagiaan Besar
U.P. Khemavana Toto Winata
Jum'at, 27 Maret 2026
MBI
Salah satu peristiwa dalam kehidupan Buddha terjadi di hutan Simsapa, di daerah Kosambi (Sīsapāvanasutta / SN 56.31). Saat itu, Buddha mengambil segenggam daun simsapa yang ada di sekitarnya kemudian bertanya kepada murid-muridnya. “Mana yang lebih banyak, dibandingkan dengan daun simsapa yang ada di hutan?”. Dijawab, “Tentunya daun yang ada di hutan lebih banyak Bhagavā”. Buddha lalu menerangkan bahwa pengetahuan yang diketahuiNya sangat banyak seperti halnya daun Simsapa yang ada di hutan. Tetapi pengetahuan yang diajarkan, seperti daun yang ada di genggaman tangan, tidak banyak tapi yang bermanfaat untuk mendukung kehidupan suci, yang membawa pada kedamaian dan kebahagiaan tertinggi Nibbana, yaitu pembebasan dari dukkha, terhentinya dukkha.
Lebih lanjut lagi, dalam Dhammapada 158, Buddha menjelaskan, “Hendaklah seseorang terlebih dahulu mengembangkan dirinya sendiri dalam hal yang baik, baru melatih orang lain. Orang bijaksana seperti ini tidak akan tercela”. Dari syair ini, kita dapat simpulkan bahwa para bhikkhu, setelah mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbana), baru dapat menyebar ke segala penjuru untuk mewartakan kebaikan yang terkandung dalam ajaran Buddha demi kebahagiaan yang lebih besar, yaitu membebaskan semua makhluk dari samsara.
Dhammapada 158 dan Sīsapāvanasutta mengajarkan kita untuk memulai dari yang kecil, yaitu diri sendiri. Setelah diri sendiri mengerti dan mampu, baru berbagi ke sekeliling agar manfaat dari kebaikan yang kecil bisa menyebar, menjadi kebahagiaan yang lebih besar dan besar lagi.
Syair Dhammapada 183 dapat dijadikan sebagai rujukan panduan unuk mengendalikan dan mengembangkan diri dari yang kecil dan sederhana secara bertahap. Langkah pertama adalah tidak melakukan semua hal yang buruk, tidak bermanfaat (sabbapāpassa akaraṇaṃ). Kedua adalah mengakumulasi kebajikan (kusalassa upasampadā). Ketiga adalah membersihkan/mensucikan pikiran (sacittapariyodapanaṃ).
Langkah pertama dipraktikkan dengan melaksanakan lima sila. Hindari menganiaya, menyakiti, atau bahkan menghilangkan nyawa makhluk lain; tambahkan dengan praktik vegetarian pada hari tertentu atau seterusnya. Hindari mengambil yang bukan milik; jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain sehingga rumput tetangga kelihatannya lebih hijau. Hindari perbuatan asusila, yang merugikan orang lain. Jangan berucap bohong; bicaralah dengan jujur, tanpa menghakimi atau apriori. Hindari makanan dan minuman yang akan menghilangkan kesadaran; jaga dari makanan yang akan mendatangkan ketagihan.
Tahap berikutnya adalah giat dan semangat melakukan hal-hal yang baik. Praktiknya banyak dan beragam. Yang mudah dan sederhana adalah berdana, yaitu berbagi waktu, tenaga, pemikiran, atau uang dan harta benda. Berdana juga mulai dari yang kecil tapi ikhlas, tanpa beban. Selain memberi, membaca paritta, sutra, atau mantra, belajar Dharma, menolong orang lain juga hal yang baik. Ada banyak kebajikan yang dapat dilakukan selama niat dan energi untuk melakukannya terus dijaga.
Yang lebih besar adalah membersihkan/menyucikan pikiran. Ini praktiknya adalah latihan meditasi agar konsentrasi, perhatian dan daya upaya tumbuh dan berkembang. Sifat-sifat luhur seperti metta, karuna, dan mudita juga akan tumbuh. Hasil dari latihan meditasi adalah kebijaksanaan. Pemikiran, ucapan, dan perilaku orang bijaksana tidak lagi mementingkan diri sendiri, melainkan demi kebermanfaatan dan kebaikan banyak orang.
Sejak era bercocok tanam hingga digital dan society 6.0, kebahagiaan adalah keinginan semua orang. Ada tiga hal yang akan mendatangkan kebahagiaan. Tidak melakukan perbuatan buruk, tidak bermanfaat. Mengakumulasi banyak kebajikan. Menyucikan pikiran. Sehingga Kebahagiaan yang dialami sendiri bisa dibagikan ke banyak orang, menjadikan kebahagiaan besar untuk semua.
Komentar (0)