Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • KEBANGKITAN SEJATI SEORANG PEREMPUAN BIJAKSANA

Cari

Tampilkan Artikel

KEBANGKITAN SEJATI SEORANG PEREMPUAN BIJAKSANA

U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto

Jum'at, 24 April 2026

MBI

“Ibu kita Kartini putri sejati, putri Indonesia harum namanya.
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya, untuk merdeka.
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia.”


Demikian kutipan lagu karangan Wage Rudolf Soepratman yang sering dinyanyikan pada tanggal 21 April, di tengah kemeriahan peringatan Hari Kartini dengan tradisi mengenakan pakaian daerah. Raden Ajeng Kartini merupakan pahlawan nasional perempuan yang merupakan pelopor pejuang hak-hak perempuan di Indonesia.

Di sebuah kota kecil bernama Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879, lahir seorang perempuan yang di balik kebaya dan sanggulnya, tersimpan pemikiran yang kelak mengguncang zamannya. Kartini dibesarkan dan hidup dalam tradisi budaya bangsawan Jawa yang kaku, yang membatasi bahwa perempuan tidak boleh berpendidikan tinggi, tidak bebas menentukan hidupnya, bahkan harus cenderung menerima takdir tanpa suara.

Tetapi sebagai putri seorang Bupati, Kartini sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan gadis-gadis lain di kotanya, karena masih bisa mencicipi pendidikan di Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun. Namun, langkahnya ini terhenti oleh tradisi pingitan. Tapi Kartini tak menyerah pada keadaan, dalam kesendiriaan ia tidak membiarkan pikirannya terpenjara. Di balik dinding rumahnya ia membaca, berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, serta menuliskan kegelisahan dan pikirnya. Ia mempertanyakan: “Mengapa perempuan tidak boleh belajar?” dan “Mengapa kebebasan hanya menjadi milik laki-laki?”. Karena baginya pendidikan adalah kunci dari kebebasan.

Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dan diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini menyuarakan cahaya harapan bahwa perempuan tidak harus terbelenggu pada kebodohan dan adat istiadat yang kaku dan menindas. Perempuan juga memiliki hak untuk berkembang, berpikir, dan mencapai kebahagiaannya sendiri. Kartini mungkin tidak hidup panjang, namun seperti lilin kecil di tengah kegelapan, cahayanya menerangi jalan bagi banyak generasi setelahnya.

Kartini diyakini cukup dekat dengan ajaran Buddha. Pengetahuan dan informasi yang didapat oleh Kartini mengenai ajaran Buddha diperoleh dari pergaulannya dengan masyarakat Tionghoa dan dari buku-buku yang ia baca. Yang kemudian cukup berpengaruh terhadap cara pandang dan akhirnya memunculkan inspirasi bagi pergolakan batin dan perjuangan Kartini demi emansipasi kaumnya. Pemikirannya tersebut bukan hanya seputar emansipasi perempuan semata, tetapi juga sebuah bentuk usaha dalam pencarian nilai-nilai spiritual dalam beragama.

Dalam perspektif ajaran Buddha, perjuangan Kartini bukan sekadar perjuangan sosial. Lebih dalam dari itu, ia adalah perjuangan melawan ketidaktahuan (avijjā) dan belenggu batin. Kartini melihat bahwa kemiskinan dan ketertindasan perempuan saat itu disebabkan oleh kurangnya akses terhadap ilmu pengetahuan, untuk itu Kartini berjuang memberikan "penerangan" (pendidikan) agar kaumnya mampu melihat dunia dengan lebih luas, serupa dengan tujuan menembus kegelapan Avijja. Buddha mengajarkan bahwa penderitaan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari pikiran yang terbelenggu.

Pikiran adalah pelopor segala keadaan. Pikiran adalah pemimpin.
Segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. (Dhammapada 1)

Kartini memahami hal ini secara intuitif. Ia sadar betul bahwa kebebasan sejati dimulai dari pikiran. Kartini menolak pandangan bahwa perempuan hanya sekedar berfungsi di "dapur, kasur, dan sumur". Ia menuntut hak yang sama dalam berpikir dan berkarya, selaras dengan prinsip kesetaraan hakiki dalam ajaran Buddha.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu Buddha Gautama telah menegaskan bahwa potensi spiritual adalah sama, tidak dibatasi oleh gender. Hal ini ditunjukan dengan mengizinkan berdirinya atau dibentuknya Sangha Biksuni, mengakui bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai pencerahan, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang tidak biasa. Dalam kisah-kisah di Sutta, banyak ditemukan perempuan mencapai tingkat kesucian tinggi, seperti Mahapajapati Gotami, Khema Theri, Kisa Gotami Theri dan beberapa lainnya.

Bukan karena kelahiran seseorang menjadi sampah,
Bukan karena pula karena kelahiran seseorang menjadi Brahmana,
Hanya karena perbuatanlah seseorang menjadi sampah,
Hanya karena perbuatan pula seseorang menjadi Brahmana.
(Vasala Sutta, Sutta Nipata 1.7)

Jika kita melihat perjalanan hidup Kartini, kita bisa mengaitkannya dengan ajaran Buddha, yaitu Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya Saccāni). Kartini melihat langsung penderitaan perempuan, keterbatasan pendidikan, tradisi yang kaku, pernikahan paksa, dan ketidakadilan perlakukan antara pria dan wanita, sebagai masalahnya. Kemudian melihat ketidaktahuan (avijjā) dan pandangan salah dalam masyarakat, sebagai sumber masalah. Kartini percaya bahwa perubahan itu mungkin. Ia tidak menyerah pada keadaan, ia yakin bahwa hal ini bisa berubah. Dan ada jalan menuju akhir penderitaan yaitu melalui pendidikan, pemikiran kritis, dan keberanian. Kartini menunjukkan jalan perubahan.

Dalam ajaran Buddha, perempuan yang mengembangkan kebijaksanaan dan moralitas dapat mencapai pembebasan yang sama. Ini menunjukkan bahwa semangat Kartini sangat sejalan dengan ajaran Buddha bahwa tidak ada diskriminasi dalam pencapaian spiritual.

Kartini memperjuangkan kebebasan perempuan dari belenggu social. Dalam ajaran Buddha, ada belenggu yang lebih dalam, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kegelapan batin (moha) inilah belenggu yang sebenarnya, sebagai sumber penderitaan.

Emansipasi sejati bukan hanya bebas dari aturan luar, tetapi juga bebas dari belenggu batin. Kartini membuka pintu kebebasan sosial dan Buddha menunjukkan jalan kebebasan batin. Kartini membuka akses Pendidikan, Buddha mengarahkan pendidikan menuju pembebasan.

“Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.
Dengan kebijaksanaan, seseorang melihat ini dan menjadi bebas dari penderitaan.”  (Dhammapada 277–279)

Kartini sangat menekankan pentingnya pendidikan. Dalam Dharma, pendidikan bukan hanya pengetahuan duniawi, tetapi juga kebijaksanaan (paññā). Pendidikan yang benar adalah mengembangkan moralitas (sīla), melatih konsentrasi (samādhi), menumbuhkan kebijaksanaan (paññā).

Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri dengan menumbuhkan kebiksanaan, tidak hanya sekedar tahu saja, tetapi harus memahami dengan benari, dengan demikian akan tercipta cara berpikir yang benar, jangan menerima sesuatu hanya karena sesuatu itu “sudah biasa”. Hal ini sangat sejalan dengan konsep Ehipasiko, Buddha mengajak kita untuk datang dan membuktikan ajaranNya, apakah memang dapat memberi manfaat baik atau tidak. Dengan cara berpikir yang benar kita tidak hanya sekedar hidup, tetapi juga kehidupan kita dapat menjadi terang bagi sesama, keberadaan kita dapat memberi manfaat bagi mahkluk lain.

Hari ini, mungkin saja kita sudah tidak lagi dijajah oleh aturan sosial seperti Kartini di masanya, namun kita masih dijajah oleh keserakahan, kebencian dan kegelapan batin kita. Tentu menjadi Kartini dalam kehidupan melalui kemerdekaan dari jajahan noda batin ini hanya bisa kita raih melalui upaya sendiri.

“Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri.
Siapa lagi yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?”
(Dhammapada 160)

Habis gelap terbitlah terang, ini bukan hanya harapan, ini adalah kenyataan yang bisa dicapai. Gelap adalah ketidaktahuan dan terang adalah kebijaksanaan. Kartini bukan sekadar pahlawan nasional bagi bangsa Indonesia, beliau adalah manifestasi nyata dari keberanian, cinta kasih, dan kebijaksanaan.

Raden Ajeng Kartini adalah sosok yang telah mempraktikkan Dharma dalam tindakan nyata. Beliau mengajarkan kita bahwa keberanian yang berlandaskan cinta kasih mampu mendobrak tembok setinggi apapun. Mari kita jadikan peringatan hari Kartini sebagai momentum untuk menyalakan pelita di dalam diri kita masing-masing, agar kegelapan kebodohan sirna, dan terang kebijaksanaan senantiasa menuntun langkah kita.

Selamat Hari Kartini 2026

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS