Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah ini Akhir Perjuangan Sukong atau Akhir Perjuangan Kita?

Cari

Tampilkan Artikel

Apakah ini Akhir Perjuangan Sukong atau Akhir Perjuangan Kita?

Sekber PMVBI (Pemuda Buddhayana)

Senin, 25 Mei 2026

SEKBER PMVBI (Pemuda Buddhayana)


Namun, tantangan zaman kini justru berbeda. Meskipun jumlah wihara semakin banyak dan akses terhadap Dhamma semakin mudah, minat untuk belajar dan mempraktikkannya justru cenderung menurun. Tidak sedikit yang menjadikan Agama Buddha sekadar identitas, bahkan memilih ajaran lain tanpa terlebih dahulu memahami Dhamma secara mendalam. Hal ini tentu menjadi keprihatinan, karena menunjukkan keterikatan generasi muda terhadap ajaran Buddha mulai melemah. Dampaknya pun terasa pada komunitas Buddhis yang sering kali kekurangan keterlibatan aktif anak muda.

Padahal, menapaki jejak Sukong tidak harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Kita bisa meluangkan waktu untuk belajar Dhamma, berusaha dengan serius untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta berani terlibat dalam komunitas Buddhis. Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara, seperti mengikuti kegiatan di wihara, membantu kepanitiaan, hingga bergabung sebagai pengurus.

Peluang untuk menyebarkan Dhamma pun semakin luas di era digital ini. Dhamma tidak lagi terbatas pada ruang wihara. Ia bisa hadir di layar ponsel, dalam bentuk tulisan, video, maupun suara. Setiap anak muda memiliki kesempatan untuk berkarya dan menyebarkan Dhamma dengan caranya masing-masing. Apa yang dulu dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, kini bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam sekejap.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, apakah Agama Buddha di Indonesia akan punah? Jawabannya adalah tidak, selama masih ada generasi yang memiliki niat baik untuk melanjutkan jejak tersebut. Selama kita mau belajar, mempraktikkan, dan berkontribusi, maka Dhamma akan tetap hidup. Sejatinya, keberlangsungan Agama Buddha tidak bergantung pada masa lalu, tetapi pada langkah yang kita ambil hari ini.

Jika Sukong hidup di era modern ini, mungkin beliau tidak hanya berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga hadir di ruang-ruang digital untuk berbagi Dhamma melalui podcast, media sosial, dan berbagai platform yang dekat dengan generasi muda.

Pada akhirnya, jejak itu sudah ada. Kini, pilihan ada di tangan kita, apakah ingin melanjutkan jejak tersebut atau membiarkannya perlahan hilang ditelan waktu.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS