HIDUP BERUBAH TERLALU CEPAT
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Hari berganti tanpa terasa, tugas datang silih berganti dan perubahan seolah tidak pernah berhenti. Teknologi berkembang, tren terus berubah, hubungan datang dan pergi. Kadang kita bahkan belum sempat memahami satu fase kehidupan, namun sudah harus kembali menghadapi fase berikutnya. Pernahkah kita merasa bahwa hidup berjalan terlalu cepat?
Di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan sederhana namun mendalam, bagaimana kita bisa tetap tenang dalam dunia yang terus mengalami perubahan? Dalam ajaran Buddha, perubahan bukanlah sesuatu yang aneh, justru perubahan itulah hakikat dari kehidupan itu, hakikat yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun, kita percaya atau tidak, kita tahu atau tidak, kita terima atau tidak, kita tetap akan terikat pada hukum perubahan. Segala sesuatu bersifat anicca (tidak kekal), apa yang muncul pasti akan berubah, apa yang berkumpul, pasti akan berpisah.
“Sabbe sankhara anicca - Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.”
(Dhammapada 277)
Masalahnya bukan pada perubahan itu sendiri, tetapi pada keinginan kita agar segala sesuatu tetap sama, kita ingin keadaan yang nyaman tidak berubah, kita ingin orang-orang tetap seperti dulu, kita ingin hidup berjalan sesuai harapan kita. Kenyataannya keadaan yang dialami oleh manusia selalu berubah-ubah. Keberhasilan dan kegagalan, untung dan rugi, kemasyhuran dan nama buruk, penghormatan dan penghinaan, pujian dan celaan, kepuasan dan kekecewaan, suka dan duka silih berganti mencengkeram kehidupan manusia. Suatu waktu manusia mengalami keadaan yang menyenangkan, seperti untung, termasyhur, dipuji atau suka. Namun, pada waktu lain manusia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, seperti rugi, nama buruk, dicela, atau duka.
Dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita tidak bisa melihat sebagaimana adanya, maka muncullah rasa kecewa, kegelisahan dan penolakan yang tanpa kita sadari semua itu adalah sumber dari penderitaan kita, sesungguhnya kitalah yang telah menciptakan penderitaan bagi diri sendiri.
Jika diperhatikan perubahan terasa begitu cepat saat ini. Jika dulu perubahan terjadi perlahan, kini dunia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Arus informasi datang dan berubah dalam hitungan detik, media sosial membuat kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, fenomena fomo (fear of missing out-red.), tekanan untuk “tidak tertinggal” terasa semakin besar. Akibatnya, batin kita tidak pernah benar-benar diam, kehausan membuat kita terus mengejar sesuatu tanpa tahu di mana ujungnya dan kapan harus berhenti. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak hanya mengalami perubahan, tetapi juga terseret bahkan cenderung tersesat dalam perubahan itu sendiri.
Kemelekatan pada sesuatu yang tidak tetap merupakan akar kegelisahan, dalam ajaran Buddha, akar penderitaan dijelaskan sebagai tanha (keinginan) dan avijja (ketidaktahuan). Kita cenderung melekat pada keadaan yang nyaman, identitas diri, kenangan masa lalu dan harapan tentang masa depan. Padahal semua itu bersifat tidak tetap. Bayangkan kita menggenggam air dengan erat, semakin kuat kita menggenggam, semakin cepat air itu hilang. Begitu juga dengan hidup, semakin kita memaksa agar semuanya tetap, semakin membuat kita menderita.
Perubahan adalah sesuatu yang pasti, jika dipandang dengan penuh kebijaksanaan, maka perubahan bukanlah musuh, ia adalah guru yang dapat membantu dan mendukung perkembangan spiritual kita. Ketika kita memahami bahwa perubahan adalah hukum alam yang pasti, maka kita akan berhenti melawan realita kehidupan ini, karena pada kenyataanya tidak ada yang dapat terlepas dari hukum ini, dengan demikian kita dapat menghadapi perubahan dengan lebih tenang, tanpa rasa gelisah berlebihan. Penerimaan ini adalah penerimaan yang didasari dengan kebijaksanaan dan pengertian yang benar, bukan sikap pasrah.
Kegelisahan yang kita rasakan umumnya bukan karena situasi saat ini, tetapi kerapkali disebabkan oleh penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Tubuh kita mungkin ada di sini, namun pikiran kita mengembara entah ke mana. Padahal yang lampau telah berlalu, yang akan datang belum tiba, waktu terpenting dalam hidup adalah momen saat ini, hal yang terjadi sekarang.
Dalam Satipatthana Sutta, Buddha mengajarkan untuk sadar penuh terhadap tubuh, perasaan, pikiran dan fenomena saat ini, kita diminta untuk kembali ke saat ini (mindfulness). Ketika kita hadir sepenuhnya, pikiran menjadi lebih tenang.
Tidak semua hal bisa kita kendalikan, tidak semua situasi bisa kita kontrol. Kita tidak bisa menghentikan waktu, kita tidak bisa mengatur semua orang, kita juga tidak bisa menjamin masa depan, namun kita bisa mengendalikan cara kita merespons, kitab bisa mengendalikan keinginan kita sendiri, di sinilah letak kebebasan batin. Dengan mengurangi keinginan untuk mengontrol segalanya maka kita telah berupaya mengurangi kegelisahan. Jika kita mampu merubah, maka ubahlah. Jika tidak mampu kita rubah, maka terima saja, karena tidak semua hal bisa kita ubah.
Dalam ajaran Buddha ketika kita bisa menerima realita yang ada sebagaimana adanya, bahwa seperti inilah semesta bekerja, bahwa semua terkena hukum perubahan, tidak ada yang permanen dan tetap, maka Upekkha (keseimbangan batin) akan muncul secara alami. Upekkha bukan berarti tidak peduli atau pun sikap pasrah, melainkan keseimbangan batin dalam menghadapi suka dan duka. Kita tidak lagi terbang melayang ketika dipuji, tidak pula lantas terhempas jatuh ketika mendapat celaan, batin kita sadar penuh bahwa memang seperti itulah realita kehidupan. Seperti gunung yang tidak tergoyahkan oleh angin, batin yang telah terlatih tidak mudah goyah oleh perubahan.
Di tengah pembahasan tentang perubahan, kita sering lupa satu hal penting bahwa waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali, waktu tidak pernah menunggu kita untuk siap. sering kali kita merasa waktu itu biasa saja. Kita berkata, “Masih ada hari esok,” atau “Nanti sajalah.” tetapi dalam pandangan ajara Buddha, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, terbatas, dan tidak bisa diulang kembali. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Bagaikan seorang penggembala menghalau sapi-sapinya dengan tongkat ke padang rumput, begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan makhluk-makhluk.
(Dhammapada 135)
Semuanya mahkluk berjalan dari kelahiran menuju kematian. Semuanya mengalami proses perubahan yang tiada henti. Setiap saat tubuh atau jasmani manusia kita ini selalu mengalami proses perubahan yang tiada henti-hentinya. Dalam jasmani manusia tidak ada sesuatu yang tetap atau kekal.
Dalam banyak pengajaran, Buddha mengingatkan tentang kelangkaan kehidupan sebagai manusia dan pentingnya tidak menunda kebajikan. Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan pernah kembali. Kesibukan bukan alasan untuk lupa diri, dunia modern mungkin membuat kita sibuk. namun kesibukan sering kali menjauhkan kita dari diri sendiri. Kita terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk dengan dunia luar, tapi lupa pada sesuatu yang paling dekat dengan diri ini, yaitu diri sediri, kita lupa untuk memahami pikiran kita sendiri.
Kita sibuk mengejar sesuatu, tapi lupa bertanya “Apakah ini benar-benar membawa kebahagiaan bagi diriku?” Jika hidup terus berubah dengan cepat, justru kita perlu lebih sering melambat bahkan mungkin berhenti sejenak. Bukan untuk lari, tetapi untuk melihat dengan jernih.
Ketenangan bukan berasal dari dunia yang stabil, ketenangan lahir dari batin yang memahami perubahan. Orang yang bijaksana tidak mencari dunia tanpa perubahan, tetapi melatih diri agar tidak terguncang oleh perubahan. Yang harus berubah biarkan berubah, yang harus pergi biarkan pergi, yang harus datang terima dengan sadar. Dengan demikian kita bisa menemukan ketenangan di tengah ketidakpastian.
Mari kita renungkan sejenak sebagai bahan refleksi :
• Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk hal yang tidak penting?
• Berapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup ini?
• Apakah kita menggunakan waktu untuk menumbuhkan kebajikan?
Hidup ini singkat, perubahan tidak bisa dihentikan, waktu tidak bisa diulang. Namun kita masih punya satu hal yang sangat berharga yaitu kesempatan saat ini.
Hidup akan terus berubah, dunia tidak akan melambat hanya karena kita ingin beristirahat. Namun kita bisa memilih apakah kita akan terus terseret arus atau belajar berdiri dengan tenang di tengah arus itu. Dengan memahami anicca, melatih kesadaran dan menghargai waktu yang ada, kita tidak hanya menjadi lebih tenang, tetapi juga hidup dengan lebih bermakna.
Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha’ti, ayam Tathagatassa pacchima vaca.
Segala yang berbentuk akan lenyap kembali, berjuanglah dengan tekun (mencapai pembebasan), inilah sabda Sang Tathagata yang terakhir. (Digha Nikaya, 16)