Dalam Kasih Buddha kita semua bersaudara (Renungan Waisak)
Y.M. Dharmavimala, Mahathera
Jum'at, 26 Juni 2026
MBI
Hari Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan guru junjungan kita, Buddha Gotama Sakyamuni. Untuk itu marilah kita merenungkan kembali makna dari ketiga peristiwa tersebut. Karena ketiga peristiwa itu sesungguhnya mengandung pesan yang ditujukan kepada kita semua.
Peristiwa pertama adalah Kelahiran Pangeran Siddhartha Gotama. Setiap kelahiran akan diikuti dengan kematian. Dengan terbebas dari kelahiran, berarti kita akan terbebas pula dari kematian. Terbebas dari duka usia tua, duka penyakit, dan duka kematian berarti mencapai kebahagiaan sejati.
Menyadari hal tersebut, bayi calon Buddha dengan lantang menyatakan bahwa “Inilah kelahiran-Ku yang terakhir.” Kita sesungguhnya adalah juga bayi calon Buddha, maka kata-kata lantang “Inilah kelahiran-Ku yang terakhir” tentu mengingatkan kita untuk juga bertekad mencapai pembebasan sejati dari lingkaran kelahiran dan kematian.
Melalui pencurahan air bunga yang harum, air Maitri Karuna, air Bodhicitta, kita juga diingatkan untuk rajin membersihkan kilesa atau kotoran batin. Sehingga pada akhirnya yang tampak adalah Dharmakaya, tubuh Dharma.
Peristiwa kedua adalah Petapa Gotama menjadi Buddha. Berkat tekad yang kuat, Pangeran Siddhartha meninggalkan istana. Meninggalkan harta, takhta, dan wanita. Meninggalkan kebahagiaan indrawi untuk meraih kebahagiaan sejati.
Menjadi petapa, Beliau mula-mula menyiksa diri, hingga hampir mati. Akhirnya Beliau menyadari bahwa jalan untuk meraih kebahagiaan sejati bukanlah dengan pemanjaan diri dan bukan pula dengan penyiksaan diri.
Beliau lalu menempuh Jalan Tengah dan akhirnya berhasil merealisasi Kebahagiaan Sejati, Nirwana. Kita diingatkan bahwa yang membawa Petapa Gotama menjadi Buddha adalah Jalan Tengah. Dan Jalan Arya tersebut, yang Berunsur Delapan, telah ditunjukkan kepada kita.
Peristiwa ketiga adalah Parinirwana Buddha Gotama. Meski Buddha telah terbebas dari ketidakkekalan, dan jika mau Beliau mampu untuk hidup terus, tetapi Beliau memilih untuk hidup hanya selama 80 tahun.
Melalui batas usia Beliau yang tak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya, kita diingatkan untuk tidak terlena. Janganlah membuang-buang waktu untuk hal-hal yang menipu, seperti mengkonsumsi narkoba, seolah-olah kita akan mencapai bahagia tetapi malahan berujung duka.
Kata-kata Beliau yang terakhir adalah “Segala yang berkondisi tidaklah kekal, giatlah berjuang dengan penuh kesadaran.”
Peristiwa pertama dan peristiwa ketiga terjadi di bawah pohon Sala. Sedangkan peristiwa kedua terjadi di bawah pohon Bodhi. Selain itu ada pohon Jambu Air. Jika membaca kisah kehidupan Buddha, kita tahu bahwa Pangeran Siddhartha ketika berusia 9 tahun pernah duduk dalam konsentrasi mendalam di bawah kerimbunan pohon Jambu Air. Beliau mencapai jhāna, kondisi terfokus yang menyenangkan dan menyegarkan.
Dan kejadian itu ternyata merupakan peristiwa yang penting. Mengapa? Karena saat Petapa Gotama mengingatnya kembali, pengalaman luar biasa di masa kecil itu menjadi titik tolak yang kemudian membawa Beliau pada praktik menuju tercapainya Kebuddhaan.
Saat itulah Beliau memutuskan, bahwa bukan pemanjaan diri atau penyiksaan diri tetapi jhāna-lah yang harus ditempuh. Setelahnya, Beliau duduk di bawah pohon Bodhi dan bertekad tidak akan bangkit sampai Beliau mencapai Pencerahan Sempurna. Dan 49 hari kemudian, Beliau berdiri, menyatakan bahwa Beliau telah mencapai Nirwana.
Pelopor kebangkitan kembali agama Buddha Indonesia, Bhadanta Ashin Jinarakkhita, pernah berpesan, “Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, tentunya umat Buddha juga mengemban tugas membantu evolusi bangsa Indonesia. Karena kita terjun di bidang rohani, maka peran kita adalah membantu evolusi batiniah bangsa ini ke taraf yang lebih tinggi.
Dalam mengembangkan agama Buddha, kita tidak hanya mengembangkan agamanya saja melainkan juga berupaya agar bagaimana bisa membantu evolusi rohani bangsa. Sehingga nantinya, kelahiran-kelahiran yang ada di sini, kualitasnya semakin lama semakin baik. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak hanya menjadi semakin berkualitas di bidang fisik, melainkan juga di bidang rohani.”
Dalam Kasih Buddha kita semua bersaudara. Kasih Buddha itu universal, tidak membeda-bedakan. Kasih Buddha yang diajarkan Buddha disebut Metta (Pali) atau Maitri (Sansekerta).
Dalam Sutta Saraniyadhamma, Buddha mengatakan kepada para biksu bahwa apabila seseorang memiliki pikiran, ucapan, dan perbuatan yang disertai cinta kasih terhadap sesama, baik di depan maupun di belakangnya, itulah yang akan membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, dan yang akan menunjang untuk tolong menolong, tiada cekcok, rukun, dan bersatu.
Apabila seseorang memiliki cinta kasih, maka ia tidak akan mungkin berniat menyakiti orang lain. Mengapa? Oleh karena prinsip dari pengembangan cinta kasih adalah mengharapkan makhluk lain bahagia. Seseorang yang memiliki cinta kasih akan selalu berusaha menolong, membantu, dan membuat orang lain bahagia.
Dengan membahagiakan orang lain, seseorang juga akan merasa bahagia. Mengapa? Oleh karena orang yang melakukan perbuatan baik tentunya akan mendapatkan akibat yang baik, sedangkan orang yang melakukan kejahatan dipastikan akan menuai akibat yang tidak baik.
Di era digital, kita justru harus bisa menjaga keseimbangan untuk tetap berkumpul bersama. Kita tidak boleh kehilangan interaksi kita yang lebih alami dengan sesama, termasuk kita juga perlu banyak berinteraksi dengan alam. Salah satu rahasia mengapa Finlandia baru-baru ini diberikan gelar Negara paling bahagia di dunia adalah karena penduduk Finlandia dekat dengan alam, kerap melakukan “terapi hutan”.
Karena itu Wihara Ekayana telah menyediakan dua pondok sadhana sebagai tempat kita dapat berkumpul di tengah hijaunya alam, walaupun sudah bukan hutan.
Yang pertama Pondok Sadhana Amitayus di Cisarua – Kabupaten Bogor dan yang kedua Pondok Sadhana Suddhi Bhavana di Cisarua – Kabupaten Bandung Barat. “Sadhana” sendiri berarti menempuh hidup lurus. Jadi “Pondok Sadhana” adalah tempat berdiam untuk menempuh hidup lurus.
Menghadapi era digital, kita memang sebaiknya mengikuti arus sekaligus juga melawan arus. Kita mengikuti arus untuk melawan arus. Kita gunakan media sosial bukan untuk menggantikan berkumpul di dunia nyata. Kita gunakan justru untuk mendukung agar kita tetap bisa berkumpul di dunia nyata. Agar kita bisa bersama-sama sebagai satu keluarga spiritual di wihara. Agar kita sesekali bisa bersama-sama melakukan “terapi hutan” di pondok sadhana.
Berbicara penerapan Dharma dalam kehidupan sehari-hari, seringkali dianggap bukan ajaran yang tinggi. Tetapi inilah praktik Dharma. Inilah praktik Kasih Buddha. Inilah praktik persaudaraan. Bahwa kita semua bersaudara. Bahwa kita bertujuan mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Dan karena Kasih Buddha itu tidak membeda-bedakan manusia, kita seharusnya mengembangkan rasa persaudaraan yang sama meluas ke lintas agama, dalam satu bangsa Indonesia, bahkan juga lintas bangsa.
Semoga Waisak membawa kita semua untuk terus maju dalam praktik Dharma.
sumber: Khotbah Waisak Vihara Ekayana - 2563 BE
Komentar (0)