Artikel Populer
Jum'at, 15 Juli 2022
Ehipassiko Leadership – Sebuah Praktek Sederhana Dalam KeseharianJum'at, 01 Juli 2022
Dari Human Doing menjadi Human BeingJum'at, 26 Agustus 2022
Ojo Dibandingke
MAKNA WAISAK 2023 (RENUNGAN BAGI KBI)
U.P. Sasanavirya Sugianto Sulaiman
Sabtu, 17 Juni 2023
MBI
Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dirjen Bimas Buddha, Drs. Supriyadi, M. Pd. dan juga didampingi Abdul Kharis Ma’mun, S.H. (Gus Sofiwi), staf khusus Menteri Agama RI, bertemu dengan para pimpinan di jajaran Keluarga Buddhayana Indonesia, yakni Sangha Agung Indonesia, Majelis Buddhayana Indonesia, Sekber Yabuddhi (Yayasan Buddhayana Indonesia) dan pimpinan Badan Otonom dari Wulan Bahagia (Warga Usia Lanjut Bahagia), WBI (Wanita Buddhis Indonesia), Siddhi (Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia), dan Pemuda Buddhayana Sekber PMVBI.
Dalam kesempatan yang terbatas tersebut, salah satu wacana yang disampaikan Bapak Dirjen, kita harus mewaspadai apa yang terjadi di kalangan Buddhis saat ini, terutama yang menyangkut penurunan jumlah umat Buddha. Jumlah umat sekarang tercatat 0,75% yang menurun dari angka 0,8%, artinya dalam waktu tidak terlalu lama kita sudah mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu 0,05%. Jika penurunan ini terus berlanjut atau katakan 0.05% setahun, maka kita perlu waktu 15 tahun untuk menghilangkan dari seluruh umat Buddha dari Indonesia. Apakah kita mau kesana? Artinya Agama Buddha punah di Indonesia dalam waktu satu setengah dekade lagi? Kalau tidak, apa upaya kita?
Salah satu sebab kenapa umat Buddha menurun, adalah karena perkawinan, pendidikan, dan jumlah kelahiran yang rendah. Jawaban ini sangat klasik dan apakah kita sudah melakukan sesuatu untuk menahan runtuhnya langit itu? Apakah dengan telunjuk? Atau dengan jari kita, kita dapat menahan runtuhnya sang langit? Jawabanya tentu tidak. Namun apa yang mesti kita lakukan?
Mungkin salah satu kunci jawaban untuk menahan lajunya penurunan Umat Buddha adalah dengan melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai jenis pelayanan kita. Tetangga kita menitik beratkan pada Unit Pelaksana Ritual-nya atau Unit Peribadatan-nya seperti Masjid atau Gereja. Lembaga peribadatan tersebut dijadikan sebagai pusat pelayanan/Center of Service baik untuk pelayanan kerohanian maupun pelayanan lainya, seperti pelayanan kesehatan, ekonomi, masalah keluarga, masalah hukum, kenakalan remaja dan sebagainya dengan cara bersatu dengan Unit yang lebih besar. Umat jelas memerlukan pelayanan, baik pelayanan yang bersifat spiritual maupun yang bersifat non spiritual. Dengan pelayanan, kita bisa menjawab pertanyaan dari umat kita, apa guna beragama Buddha? Cita-cita ini tidak gampang untuk dilaksanakan, kita memerlukan kerja keras, komitmen, modal, dan keseriusan, dan terlebih dari itu kita memerlukan kebersamaan. Pengelolaan umat yang berjalan sendiri-sendiri atau bahkan menganggap lembaga sejenis adalah pesaingnya jelas akan menguakkan pintu kemungkinan musnahnya Umat Buddha di Indonesia.m Mari kita, menentukan jalan untuk keberlanjutan Umat Buddha Indonesia. Apakah kita memilih kehancuran atau kita memilih keberlanjutan?
Dalam bulan Waisak ini, kita harus berpikir akan tiga peristiwa suci yang kita peringati setiap tahun, yaitu Kelahiran Pangeran Sidharta di Taman Lumbini. Bagi kita di KBI hal ini juga bermakna Buddha Dharma telah berputar kembali di Bumi Nusantara sejak tahun 1952 ketika Waisak pertama dilaksanakan di Candi Borobudur yang dipimpin oleh Anagarika The Boan An, yang kemudian kita kenal sebagai Biksu pelopor Indonesia, Y.A. Mahabiksu Ashin Jinarakkhita. Sejarah mencatat setelah itu terbentuklah berbagai Organisasi Buddhis, salah satunya ialah Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) yang terdiri dari Sangha Agung Indonesia (Sagin), Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), dan berbagai badan otonom yang sudah diuraikan di atas.
Kita umumnya selalu menyambut gembira adanya kelahiran, lalu dilakukan berbagai upacara untuk menyambut kelahiran sang bayi, termasuk upacara bubur merah putih dan seterusnya, lalu apakah kita dapat memastikan sang bayi yang lahir ini akan tumbuh dewasa dan menjadi manusia yang berguna? Apakah dia tidak tumbuh menjadi penghancur dunia atau penjahat-penjahat besar lainya? Umumnya setiap kelahiran kita merasa perlu mendoakan sang bayi untuk tumbuh dewasa dan menjadi orang yang berguna. Pertanyaannya, apakah organisasi dalam Keluarga Buddhayana Indonesia yang telah lahir, tumbuh dan dewasa menjadi Organisasi Buddha yang berguna untuk masyarakat kita? Kita perlu melakukan intropeksi untuk ini.
Peristiwa kedua yang diperingati di hari Tri Suci Waisak setiap tahunnya ialah pencapaian Penerangan Sempurna, pertapa Gotama di bawah Pohon Bodhi di Bodhgaya. Inilah puncak pencapaian seorang pertapa yang kemudian memberikan jalan kepada kita untuk mencapai pembebasan sejati dari nestapa dunia, yaitu keterikatan. Persoalanya, apakah umat Buddha khususnya di KBI, di seluruh Nusantara mampu menjabarkan makna Pencapaian Sempurna ini? Secara fisik kita memiliki berbagai fasilitas yang jauh lebih baik dibandingkan masa-masa awal perkembangan Agama Buddha. Wihara-wihara kita tumbuh menjadi besar dan megah. Bahkan secretariat KBI pun telah terbangun menjadi gedung modern yang megah. Seiring dengan perkembangan fisik itu, timbul pertanyaan “apakah pimpinan KBI, Sagin dan MBI dan seluruh badan otonomnya sudah berada on the right track? Menurunnya jumlah umat seperti yang disampaikan oleh Dirjen Bimas Buddha menunjukkan kita mungkin harus mengkaji kembali program-program kita dalam hal pengembangan Agama Buddha.
Dari pusat sampai ke daerah, dari Sabang sampai ke Merauke, kita perlu bersatu padu untuk bekerja keras mencapai kemajuan batin dan pengembangan umat. Apakah dalam hal pembinaan tersebut kita perlu satu komando? Menurut U.P. Sudhamek AWS, Sagin seharusnya merupakan organ yang dapat memberikan komando dan arahan. Sejalan dengan itu keputusan Sangha Samaya tahun 2022 juga telah meletakkan kebijakan berupa Hubungan Kerja Keluarga Buddhayana (HKKB) yang berisi “Seluruh keputusan Organisasi dalam jajaran KBI harus memperoleh persetujuan dari Sagin.”
Ada dua metode pengambilan keputusan yang pertama berfisat top down. Ini lebih mudah diambil, namun keputusan yang demikian juga ada kelemahanya, karena hanya melihat pada satu sisi. Bubarnya negara-negara komunis dan otoriter antara lain disebabkan kebijakan top down. Pendekatan berikutnya ialah kebijakan yang bottom up, yaitu kebijakan yang mengakomodasi kepentingan-kepentingan dari berbagai pihak. Pendekatan ini sangat demokratis namun bukan berarti pendekatan yang terbaik, contohnya demokrasi yang kita laksanakan di negeri tercinta ini memakan biaya yang sangat besar, memerlukan waktu yang panjang dan perhitungan yang rumit, belum lagi banyak pihak yang mengambil keuntungan dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Yang akibatnya kita bisa menuju ke arah stagnasi atau bahkan mundur. Jadi kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan untuk hal ini kelihatannya Sangha Samaya Sagin telah membuat keputusan yang mengedepankan cara top down.
Peristiwa terakhir dari Tri Suci Waisak ialah Parinirwana Buddha Gotama atau mangkatnya Sang Buddha di Kusinara. Kematian memang sangat menakutkan, terutama untuk mereka yang tidak berlatih. Bagi mereka yang terlatih, kematian hanya merupakan proses kehidupan untuk mencapai tahapan yang lebih baik. Jika kita mengamati apa yang terjadi di kalangan umat, yaitu fenomena penurunan jumlah umat maka kalau dibiarkan, maka rasa-rasanya Agama Buddha di Nusantara akan mengalami kematian juga.
Oleh karenanya mari kita bekerja sama untuk mengembangkan Buddha Dharma, meningkatkan pelayanan kepada umat, bersatu padu menjadikan KBI sebagai Organisasi Keagamaan Buddha yang bukan hanya tertua, tetapi juga terbesar dan terkuat dalam hal kepedulian dan pelayanan umat, sehingga umat kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dan menjadi bertambah secara signifikan.
Selamat Hari Raya Waisak 2567 TB / 2023.
Komentar (1)
Toni
Senin, 19 Juni 2023 04:21
Sebuah catatan yang merefleksikan bagi perjalanan umat buddha.
Artikel Terkait
Jum'at, 15 Juli 2022
Ehipassiko Leadership – Sebuah Praktek Sederhana Dalam KeseharianJum'at, 01 Juli 2022
Dari Human Doing menjadi Human BeingJum'at, 26 Agustus 2022
Ojo Dibandingke