Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Artikel Populer

Jum'at, 26 Agustus 2022

Ojo Dibandingke

Dhammadesana yang kontekstual

U.P Sasana Virya Sugianto Sulaiman

Jum'at, 21 Juli 2023

MBI, Sagin

Artikel ini dibuat, dalam suasana peringatan Ulang Tahun MBI yang ke-68. tanggal 4 Juli 2023.  Usia ke-68 mengisyaratkan bahwa perkumpulan MBI sudah cukup dewasa jika kita merujuk pada usia manusia.   Kedewasaan tersebut harus pula tercermin dari karya-karya Perkumpulan MBI yang utamanya merupakan perkumpulan para Pandita atau Upasaka yang awalnya bernama PUUI (Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia). Tugas para Upasaka Pandita salah satunya ialah Dhammadesana.  Melalui pembabaran Dharma tentu kita mengharapkan umat Buddha bisa lebih mengenal ajaran Buddha, yang mana tujuan akhirnya adalah pembebasan.  Bebas dari penderitaan, bebas dari kebodohan, dan bebas dari nafsu-nafsu rendah.   Tapi apakah tujuan itu sudah tercapai?
Salah satu Podcast yang menarik yang saya dengar adalah Podcast Guru Gembul, yang membahas khotbah Idul Adha atau Idul Qurban.  Menurut Guru Gembul, hampir seluruh Masjid dan tempat-temat Ibadah umat Islam ketika sholat Idul Adha, maka Khotib menyampaikan ceramah mengenai berkorban, dimana Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan anaknya yang bernama Ismail. Ceramah itu diulang-ulang dari tahun ke tahun namun hasilnya merujuk ke indeks prestasi manusia Indonesia yang mayoritas beragama Islam, maka indeks prestasinya masih di angka yang tidak menggembirakan dibandingkan indeks prestasi manusia dari negara-negara maju.  Artinya khotbah atau ceramah agama di berbagai tempat di Indonesia termasuk di dalam agama Buddha tidak berhasil merubah perilaku manusia Indonesia. Indeks korupsi Indonesia juga anjlok dari sebelumnya bernilai 38 sekarang turun menjadi 34, artinya manusia Indonesia sangat korup. Bandingkan dengan negara-negara Scandinavia atau New Zealand/Selandia Baru yang indeks korupsi nya rata-rata di atas 90 (makin kecil indeks korupsi maka negara itu makin korup).  Di negara-negara Scandinavia tersebut, Selandia Baru dan bahkan di Singapura yang korupsinya sangat kecil (berada di atas 80-an) agama atau ritual agama, termasuk khotbah, ceramah, dan aktifitas agama lainya ternyata tidak terlalu diminati oleh warga.   Bandingkan dengan negara kita, yang hampir semua kegiatan agama dipenuhi oleh umatnya.  Namun perilaku masyarakatnya cenderung bobrok.   Lalu dimana salahnya?

Menurut Guru Gembul, disamping keteladanan dari tokoh-tokoh agamanya maka hal terpenting lainya yang mesti kita lakukan dalam hal ceramah, khotbah, atau pembabaran Dharma, maka kegiatan keagamaan tersebut harus kontekstual dan membumi sehingga dapat dimengerti dan nyambung dengan kehidupan sehari-hari umat.  Contoh pengorbanan dapat kita ambil dari berbagai hal. Misalnya di jaman pandemi, MBI Pusat menyediakan rumah besar kita Prasadha Jinarakkhita sebagai tempat vaksinasi umum yang dilaksanakan oleh Walikota Jakarta Barat melalui Puskesmas Kembangan.  Sewaktu masih berjangkit virus Corona type D, kita terpaksa menerima kematian salah satu relawan yang juga karyawan dari Koperasi Maju, ia meninggal karena terpapar pandemi Corona, dan ada 14 karyawan lainya termasuk ketua WBI Ibu Lucy Salim yang harus menjalani pengobatan intensif yang hampir merenggut nyawa.  Semua ini adalah bentuk pengorbanan.
Cerita lain yang juga bisa kita jadikan contoh, misalnya kejadian di Italia, di kota Florence.  Ketika pandemi virus Corona berlangsung di tahun 2019 Italia gagap dan tidak siap menghadapinya.  Sesungguhnya, tidak ada negara yang siap menghadapi pandemi itu termasuk negara kita tercinta, Indonesia.  Kisahnya dimulai ketika seorang Pastur yang cukup senior berusia hampir 70 tahun masuk ke ruangan perawatan yang sudah penuh sesak.  Ia beruntung karena dihormati sebagai tokoh agama, sehingga ia memperoleh fasilitas perawatan yang memadai. Ia memperoleh tempat tidur dan bahkan alat pernapasan yang sangat langka di waktu itu, bernama ventilator.  Bayangkan negara sebesar Indonesia pun hanya punya ventilator tidak lebih dari 10 unit, dan untuk wilayah Italia ventilator yang tersedia mungkin tidak lebih dari 6 unit.  Dalam keadaan krisis kesehatan yang begitu hebat, Italia hampir lumpuh.  Lalu Sang Pastur yang sudah terawat dengan sangat baik bahkan terasa mewah saat itu tiba-tiba menyadari disampingnya terbaring seorang pemuda yang masih sangat muda kira-kira berusia 30 tahun. Ia melihat pemuda tersebut tersengal-sengal mempertahankan nafasnya walaupun  sudah dibantu dengan oksigen. Sang Pastur bertanya kepada Perawat, “mengapa pemuda itu masih tersengal-sengal?”. Sang perawat menjawab, “paru-parunya penuh dengan virus Corona, ia perlu ventilator, namun sayangnya rumah sakit sekota ini hanya ada 1 ventilator yang sekarang sedang digunakan bapak Pastur”. Dengan muka yang datar Sang Pastur menjawab, “kalau begitu berikan ventilator ini kepada pemuda itu, sebab ia masih muda”.  Perawat itu menjawab, “jangan bapak, karena tanpa ventilator bapak tidak akan bertahan”.  Dengan paras yang memaksa Sang Pastur meminta alat tersebut dipindahkan ke pemuda itu.  Dan ketika permintaannya dipenuhi di keesokan harinya,  Pastur tersebut berpulang dengan damai ke rumah Bapa di surga dan pemuda tesebut selamat.

Di Buddhis, hal ini bukan contoh yang aneh.  Ada juga kisah Biksu yang mengorbankan jiwa raganya untuk kedamaian dunia.  Sang Biksu membakar dirinya di depan Istana Presiden Vietnam Selatan, Saigon.  Bukan untuk bunuh diri tapi justru untuk memancing perhatian dunia akan penderitaan rakyat Vietnam yang sedang mengalami kecamuk perang dengan Amerika Serikat.  Rakyat Vietnam di bom dengan cairan oranye, sehingga menimbulkan kematian bukan hanya pada manusia tetapi juga hewan-hewan dan bahkan tumbuh-tumbuhan, dimana akibat racun oranye itu dampaknya masih terasa berpuluh-puluh tahun kemudian.  Pada tanggal 11 Juni 1963, Biksu Thích Quảng Duc duduk dengan tenang walaupun api dengan ganas menjilati seluruh tubuhnya hingga ia roboh tersungkur.  Tanpa tindakan biksu tersebut maka bom oranye akan terus menghujani rakyat Vietnam.  Tanpa tindakan biksu Thích Quảng Duc maka tidak ada masyarakat dunia yang peduli dengan penderitaan rakyat Vietnam, jadi bakar diri yang dilakukan biksu Thích Quảng Duc ini bukanlah perbuatan sia-sia atau aksi bunuh diri biasa.
Pengorbanan diri Biksu dan Pastur dalam cerita di atas bukan bunuh diri yang sia-sia, tetapi merupakan pengorbanan yang tulus untuk kemanusiaan. Cerita-cerita di atas sangat menginspirasi dan kaya akan nilai-nilai kebajikan dan tentunya kontekstual dan membumi.  Memang untuk menggali hal-hal seperti di atas kita perlu banyak membaca, mendengar, melihat dan merasakan kejadian-kejadian yang membawa jiwa-jiwa kepahlawanan.  Sewaktu mendengarkan dan melihat cerita-cerita di atas tentu kita terasa mengharu biru, tetapi ceramah yang menyelipkan hal-hal positif di atas paling tidak bisa menggugah umat-umat yang mendengarnya.  
Mudah-mudahan para Pandita Buddhayana dapat mengambil inspirasi dan pelajaran dari apa cerita-cerita di atas.  Bukankah, di Buddhayana salah satu yang kita kembangkan adalah agama Buddha yang kontekstual, membumi dan bukan yang hanya bersifat tekstual.  Dengan ceramah yang kontekstual dan teladan dalam kehidupan kita, para Pandita Buddhayana akan menghasilkan karya-karya besar dalam memutar Roda Dharma.
 
Link Guru Gembul: https://youtu.be/a7uF99PaXSI (Kenapa Khutbah Jum’at Membosankan? Pasti tadi Membahas Kurban dan Cerita Nabi Ibrahim)
 


Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS