KBI Sumatera Utara Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Tapanuli Selatan
_Mendaki gunung lewati lembah,_
_sungai mengalir indah ke samudra._
_Bersama teman-teman berpetualang…_
Bait lagu itu seolah menjadi latar perjalanan kami menuju Desa Angkola Sangkunur. Jalan panjang, licin, terjal, kadang sunyi—tapi hati justru penuh. Bukan karena kuatnya langkah, melainkan karena satu niat yang sama: hadir untuk mereka yang sedang kehilangan.
Perjalanan ini memang melelahkan. Jauh dari pemukiman, masuk ke pelosok Tapanuli Selatan, akses yang masih sulit, seakan menguji kesabaran dan keteguhan. Namun setiap rintangan terasa kecil ketika kami ingat tujuan. Dalam ajaran Buddha, niat baik *(cetana)* adalah awal dari segala kebajikan. Dan niat itulah yang menuntun kaki kami terus melangkah, tanpa surut.
Sesampainya di sana, hati terasa hening. Satu desa yang dulu hidup, kini berubah dalam sekejap. Rumah hanyut, kenangan terseret arus. _Sembilan jiwa pergi—tujuh telah kembali ke pangkuan alam, dua masih dalam pencarian._ Cerita perjalanan kami tak ada apa-apanya dibanding duka yang mereka tanggung. Di hadapan penderitaan nyata, ego perlahan luruh.
Buddha mengajarkan tentang *dukkha—bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan.* Namun beliau juga mengajarkan *karuna*, welas asih yang tak tinggal diam. Bantuan yang kami bawa mungkin tak mampu menghapus luka, tapi semoga bisa menjadi pelukan sunyi: tanda bahwa mereka tidak sendiri.
_Seperti sungai yang akhirnya bermuara ke samudra, semoga air mata ini pun menemukan ketenangan_. Dan _seperti langkah kecil di lembah dan gunung, semoga setiap perbuatan baik—sekecil apa pun—menjadi sebab lahirnya harapan baru dan kebahagiaan._
Kami datang bukan sebagai penolong, tapi sebagai sesama manusia. Bersama belajar tentang ketidakkekalan, tentang kehilangan, dan tentang cinta kasih yang tetap mengalir, bahkan di tengah bencana. ?
Dengan penuh hormat dan rasa syukur yang mendalam, kami limpahkan jasa kebajikan (puñña) dari perjalanan dan aksi kemanusiaan ini kepada para donatur mulia. Walau raga tidak turut melangkah menyusuri jalan terjal Angkola Sangkunur, namun niat tulus dan ketulusan hati telah lebih dulu hadir. Dalam ajaran Buddha, *niat adalah benih karma—dan benih kebajikan yang ditanam dengan welas asih pasti berbuah kebahagiaan*.
Kami pun melimpahkan jasa kebajikan ini *kepada para korban bencana, kepada mereka yang telah berpulang, serta kepada keluarga yang ditinggalkan*. Semoga para almarhum beroleh alam kelahiran yang lebih baik, terbebas dari penderitaan, dan melanjutkan perjalanan batin menuju kedamaian sejati.
Tak lupa, jasa kebajikan ini kami patidana-kan *kepada orang tua, leluhur, guru-guru, para relawan, serta semua makhluk tanpa terkecuali—_yang tampak maupun tak tampak, dekat maupun jauh*. Semoga semua makhluk turut bergembira (anumodana) dan menikmati jasa kebajikan yang sama dengan kita semua.
_Semoga kebajikan ini menjadi sebab terhapusnya duka,_ _berkurangnya penderitaan, dan tumbuhnya harapan_.
_Semoga cinta kasih dan welas asih_ _senantiasa mengalir di setiap langkah kehidupan_.
_Semoga semua makhluk berbahagia_.