Biksu Ashin Jinarakkhita sangat dihormati umat Buddha
Napak Tilas Peninggalan Biksu Ashin Jinarakkhita Dengan Susuri Sungai Kaligarang

Kegiatan napak tilas ini baru pertama kali diselenggarakan Pandita Buddhayana (MBI) sebagai penerus Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) yang didirikan Ashin Jinarakkhita bulan Juli 1955. Upasaka Pandita Dharmakumara selaku Ketua PC MBI Kota Semarang menambahkan, apa yang telah disampaikan Bhikkhu Khemacaro Mahathera dan Bhante Sur.
“Dalam kegiatan ini, Pandita Buddhayana diajak merenung bersama, bahwa Ashin Jinarakkhita tidak membawa agama Buddha dari luar negeri menjadi agama Buddha di Indonesia. Maksudnya, agama Buddha bukan cangkokan sebagaimana pohon yang sama dari luar negeri. Namun agama Buddha yang disemai Ashin Jinarakkhita adalah Agama Buddha Indonesia. Artinya, Ashin Jinarakkhita membawa benih dari berbagai negeri pemeluk Buddha. Kemudian ditanam ke tanah air dan tumbuh menjadi bakal pohon baru dari tanah Indonesia sendiri. Dalam ilmu pertanian pun kita tahu, mutu antara pohon hasil cangkokan dan pohon hasil penyemaian benih atau bibit. Tentu akarnya lebih kuat, usia pohon bertahan lama, dan buahnya tahan berbagai hama penganggu. Itulah makna dari kegiatan napak tilas kali ini. Dan yang lebih penting lagi, Ashin Jinarakkhita Mahasthavira menabur benih Dharma di Nusantara diawali dari titik mula di Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bukit Kassapa, Semarang. Bukit ini dianggap sakral oleh setiap pemeluk Buddha di tanah air. Sebab di tahun 1959, Ashin Jinarakkhita mengundang 14 bhikkhu dari luar negeri untuk menetapkan Sima atau tempat khusus untuk melahirkan bhikkhu baru. Bahkan setahun sebelumnya, saat peresmian wihara, Bhikkhu Narada Mahathera dari Srilanka yang merupakan bhikkhu Theravada pertama yang hadir di Indonesia (tahun 1934) sesudah ratusan tahun rubuhnya Wilwatikta menyatakan, “Nilai Spriritualitas Wihara 2500 Buddha Jayanti, setara dengan Candi Borobudur”. Bagi umat Buddha di Indonesia, Bukit Kassapa sama kedudukannya seperti Sendangsono bagi Umat Katolik. Atau seperti Masjid Demak bagi saudara umat Islam di Jawa”.
Sebagai pesan pengantar sebelum peserta napak tilas menyusuri jalan setapak dan menyeberangi Sungai Kaligarang sejauh 1 km naik turun bukit. Pembimas Buddha, Kanwil Kemenag Jateng, Karbono, S.Ag., menyambut gembira kegiatan napak tilas. Dalam sambutannya, Karbono mengutip pesan Buddha Gotama, “Duhai Para Bhikkhu, terdapat dua jenis manusia yang jarang ditemukan di dunia ini. Siapa saja yang dimaksud? (1) orang yang bertindak seperti orang tua kita, yang dengan tulus hati telah melakukan kebaikan dengan merawat dan mendidik putra-putrinya (pubbakārī) dan (2) orang yang tahu balas budi atau tahu berterima kasih dengan menghargai peristiwa masa lalu atas kebaikan yang telah dilakukan orang lain kepada kita (kataññūkatavedī). Kedua jenis orang ini adalah jarang di dunia”.
