Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

SATU EPISODE LAGI

U.P. Shakyavira Suirianto

Jum'at, 03 Juli 2026

MBI

Seorang satpam dengan seragam lusuh, sering diremehkan, dihina bahkan diperlakukan tidak adil karena dianggap hanya seorang rendahan. Ketika identitasnya akhirnya terbongkar bahwa ia adalah seorang CEO yang sedang menyamar untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan dan menilai karakter karyawannya. Banyak orang terkejut dan menyesali sikap mereka selama ini yang hanya menghargai status serta kekuasaaan.


Demikian sedikit penggalan kisah dari Drama Singkat yang sering muncul di media sosial.

Belakangan ini, ada satu fenomena yang menarik di Indonesia. Di media sosial, grup percakapan, hingga ruang-ruang keluarga, banyak orang membicarakan satu hal yang sama: Drama China (C-Drama atau Dracin). Ada yang menyukai kisah romantisnya, ada yang terpukau dengan cerita kerajaan, ada yang menyukai dunia bela diri, ada pula yang menikmati cerita fantasi dengan efek visual yang memukau bahkan tak jarang karena aktor dan aktrisnya yang rupawan. Drama ini dikenal dengan alur cerita yang emosional, tampilan yang menarik dan karakter yang kompleks serta durasi yang tidak terlalu panjang membuat penonton merasa terhubung secara emosional.

Popularitasnya semakin meningkat seiring semakin mudahnya akses untuk menonton melalui aplikasi-aplikasi, baik yang berbayar maupun gratis, bahkan tontonan ini juga sering muncul di media sosial seperti facebook, tiktok dan instagram. Selain itu tersedianya terjemahan dalam bahasa Indonesia membuat penonton semakin nyaman menikmatinya.

Tidak sedikit yang berkata, “Saya hanya ingin menonton satu episode.” Namun kenyataannya? Satu episode berubah menjadi lima episode, lima episode berubah menjadi sepuluh, tahu-tahu hari sudah pagi. Ada yang bercanda, “Saya bukan kurang tidur, saya sedang menemani tokoh utama menyelamatkan kerajaan.”

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan remaja. orang dewasa, ibu rumah tangga, mahasiswa, bahkan para lansia pun mulai menikmati Drama China. Lalu muncul pertanyaan: Apakah menonton Drama China ini bertentangan dengan ajaran Buddha? Jawabannya tidak sesederhana sekedar menjawab “ya” atau “tidak”. Dalam Ajaran Buddha, bukan dramanya yang menjadi persoalan utama, tetapi bagaimana kondisi batin ketika ketika menikmati dan apa dampak yang ditimbulkan dari menonton drama tersebut bagi diri kita.

Ajaran Buddha tidak mengajarkan kita untuk takut apalagi sampai anti terhadap dunia maupun teknologi, tetapi mengajarkan agar kita jangan sampai terbuai apalagi sampai diperbudak oleh dunia. Hiburan bukanlah musuh yang harus ditakuti apalagi sampai harus dibenci. Ajaran Buddha tidak pernah mengatakan bahwa setiap bentuk hiburan pasti salah. Yang Beliau ajarkan adalah kebijaksanaan dari diri kita dalam menikmati dan menggunakannya.

Karena pada dasarnya semua yang di luar diri kita bersifat netral, bagaimana kita mengunakannya yang membuatnya menjadi positif atau negatif. Api dapat memasak makanan, tetapi api juga dapat membakar rumah. Pisau dapat digunakan memasak, tetapi pisau juga dapat melukai. Begitu pula drama, dapat menjadi hiburan, namun dapat pula menjadi sumber kemelekatan. Masalahnya bukan pada dramanya, masalahnya ada pada cara kita berhubungan dengannya.

Mengapa Drama ini menjadi sangat menarik bagi penonton? Para produser film memahami betul tentang psikologi manusia, mereka menciptakan alur cerita yang dapat memainkan emosi penonton. Penonton dibuat penasaran, tertawa, menangis, marah, jatuh cinta, berharap, kecewa, bahkan adakalanya terbawa untuk membenci salah satu karakter, lalu ingin terus menonton. Bahkan setiap akhir episode selalu sengaja dibuat agar ceritanya menggantung. Inilah yang disebut cliffhanger.

Bibir kita berkata, “Satu episode lagi saja…” Padahal kenyataanya setelah satu episode selesai, muncul lagi akhir cerita yang menggantung. Akhirnya semalam suntuk habis untuk terus menonton. Dalam Ajaran Buddha, proses ini sangat dekat dengan rantai kemunculan penderitaan.

Dari mata dan telinga yang merupakan pintu masuk pengalaman, lalu memunculkan keterikatan. Ketika mata melihat dan telingan mendengar sesuatu yang indah, muncul perasaan senang dan tertarik. Perasaan senang melahirkan keinginan. Keinginan melahirkan kemelekatan. Kemelekatan melahirkan penderitaan. Inilah proses yang juga dijelaskan dalam ajaran Buddha : Paticca Samuppāda (Saling Ketergantungan Sebab Akibat).

Awalnya hanya sekedar melihat poster, iklan atau cuplikan drama yang muncul di beranda media sosial, kemudian ada rasa ingin mencoba sekali saja, lalu suka. Kemudian muncul rasa rindu untuk menunggu episode berikutnya, lalu tidak bisa berhenti. Bukan dramanya yang mengikat, yang mengikat sebenarnya adalah nafsu keinginan dalam batin kita sendiri.

Jika dilakukan dengan sadar dan seimbang, jangan sampai batin kita malah jadi tersesat. Drama dapat memberikan beberapa manfaat salah satunya adalah sebagai sarana refresing. Setelah bekerja keras, tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat. Menonton dapat membantu mengurangi ketegangan. Dalam Ajaran Buddha, menjaga kesehatan jasmani juga penting. Istirahat bukan kemalasan. Yang menjadi masalah adalah ketika istirahat berubah menjadi kelalaian.

Selain itu dari drama ini kita belajar nilai-nilai kehidupan. Banyak Drama China mengangkat tema: bakti kepada orang tua, persahabatan, pengorbanan, keberanian, kesetiaan, tanggung jawab. Semua itu dapat menjadi bahan refleksi. Kita jadi belajar untuk memperlakukan orang dengan lebih baik. Jika bertemu dengan satpam atau petugas kebersihan kita akan bersikap lebih ramah, karena mungkin saja dia adalah seorang CEO yang sedang menyamar. Bukan hanya menonton, apalagi hanya sekedar mengangumi tokohnya yang tampan atau cantik. Namum kita juga selalu memunculkan pertanyaan, apa yang bisa saya pelajari dari tokoh-tokoh ini?

Jika melihat realita yang ada di sekitar penulis, maka menurut penulis kecenderungan yang muncul adalah dampak yang sedikit negatif. Hal negatif yang timbul adalah ketagihan untuk terus menonton, yang berasal dari tanha (nafsu keinginan) yang menjurus pada kemelekatan. Dalam tanha tidak pernah ada kata “cukup”. Hari ini selesai satu drama, besok akan mencari drama lain, lalu ada rekomendasi berikutnya, kemudian muncul serial berikutnya. Tidak pernah ada habisnya. Masalahnya bukan pada banyaknya drama, masalahnya adalah batin yang terus berkata “masih kurang.”

Seperti kutipan Dhammapada 214 :
Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan;Bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Candu untuk menonton membuat kita banyak membuang waktu, bayangkan bila sebagian waktu itu digunakan untuk aktifitas bajik, belajar Dharma, meditasi atau ikut terlibat dalam kegiatan sosial, tentu nilainya akan menjadi lebih positif. Namun dengan banyaknya waktu yang terbuang membuat kita menjadi tidak produktif. Tugas tertunda. pekerjaan tidak selesai, belajar terganggu, tidur larut malam, bangun kesiangan demi minikmati “wabah digital baru” ini. Semua berawal dari kalimat, “Episode terakhir…” Padahal ternyata masih tersisa dua puluh episode.

Tanha juga membuat seseorang menjadi terlena, terlena pada Drama China sampai-sampai lupa bahwa ada drama diri sendiri yang juga harus dijalani, drama yang tidak kalah serunya, meskipun tidak seindah Drama China yaitu Drama Samsara. Kitalah pemeran utama, untuk itu kitalah yang harus berusaha sendiri dalam Drama Samsara ini, episode yang harus kita selesaikan secepatnya untuk mencapai Nirwana.

Engkau sendirilah yang harus berusaha, para Tathagata hanya menunjukkan ‘Jalan’. Mereka yang tekun bersemadi dan memasuki ‘Jalan’ ini akan terbebas dari belenggu Mara. (Dhammapada 276)

Drama China dapat menjadi hiburan yang menyenangkan, sarana belajar, bahkan inspirasi. Tidak ada yang salah jika dinikmati dengan penuh kesadaran dan dalam batas yang wajar. Namun ketika hiburan mulai menguasai pikiran, menghabiskan waktu, mengganggu kewajiban, sehingga kita menjadi tidak produktif bahkan sampai lupa diri dan menumbuhkan kemelekatan, kita perlu berhenti sejenak bercermin dan mengevaluasi ulang cara kita dalam menikmati hiburan.

Ajaran Buddha tidak meminta kita menolak semua kesenangan dunia. Beliau mengajarkan agar kita tidak diperbudak oleh kesenangan itu. Layar dapat menampilkan kisah CEO, para pahlawan, pendekar, dan kaisar. Tetapi kemenangan terbesar bukanlah memenangkan perang di dalam cerita, melainkan menaklukkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan dalam batin sendiri.

Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri. (Dhammapada 103)

Mari kita menikmati hiburan dengan bijaksana, menjaga perhatian penuh (sati), serta tidak melupakan latihan Dharma di tengah derasnya arus hiburan modern, dengan demikian, kita tidak hanya menjadi penonton yang cerdas, tetapi juga praktisi Dharma yang mampu memanfaatkan setiap pengalaman sebagai sarana untuk bertumbuh dalam kebijaksanaan.

Semoga kita semua mampu menikmati fenomena hiburan yang sangat mengoda ini tanpa kehilangan kebebasan batin, menjadikan teknologi hanya sebagai alat, bukan sebagai tuan, dan terus melangkah di Jalan Mulia yang ditunjukkan dalam Ajaran Buddha.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS