Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

MENEMUKAN KEMBALI JALAN LAMA

U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto

Jum'at, 31 Juli 2026

MBI

Memasuki akhir bulan juli kita akan merayakan salah satu hari raya umat Buddha yaitu Asadha. Asadha merupakan salah satu dari empat hari Raya umat Buddha lainnya yaitu Waisak, Kathina, dan Maghapuja. Namun Asadha kadang kala terlupakan oleh sebagian umat Buddha, padahal jika kita merujuk pada riwayat hidup Buddha, maka jika tidak ada peristiwa Asadha maka hari raya lain juga tidak ada, bahkan hari ini mungkin kita tidak bisa mengenal ajaran Buddha.


Mari kita coba mengingat ulang secara singkat riwayat hidup Buddha Gotama.
Ketika pangeran Sidharta lahir, pada hari kelima Raja Sudhodana mengundang seratus delapan Brahmana dalam acara pemberian nama, saat ini Raja bertanya tentang masa depan putranya. Seratus Brahmana terdiam, maklum anak raja yang mau diramal, daripada salah, kalau tidak tahu lebih baik diam saja. Tujuh orang Brahmana meramalkan bahwa pangeran akan menjadi seorang raja besar atau bisa juga menjadi seorang Buddha, jadi ada dua kemungkinan. Tersisa satu orang Brahmana termuda bernama Kondanna, Beliau dengan pasti dan yakin meramalkan bahwa pangeran kelak akan menjadi seorang Buddha.

Dua puluh sembilan tahun kemudian, pertapa Kondanna mendengar kabar bahwa pangeran Sidharta meninggalkan istana dan Kondanna sangat bahagia, karena akhirnya akan muncul seorang Buddha. Kondanna bersama empat sahabatnya yaitu Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji yang selanjutnya dikenal sebagai Panca Vagiya bersama pertapa Gotama melakukan praktik penyiksaan diri.

Praktik seperti ini sudah ada jauh sebelum Buddha dan masih ada serta dipraktikan saat ini.
Mereka yang menjalankan praktik ini cenderung bangga akan praktiknya dan memiliki pandangan salah bahwa praktik ini dapat membantu pertumbuhan spiritualnya, padahal kalau merujuk pada ajaran Buddha, beliau mengajarkan kita untuk menghindari dua ekstrim yaitu penyiksaan diri berlebihan dan pemuasan nafsu keinginan berlebihan juga.
Enam tahun setelah bersama panca vagiya, pertapa Sidharta menyadari kesalahan dalam latihannya, sehingga beliau memutuskan menghentikan semua praktik ekstrimnya.  Hal ini membuat Pertapa Kondanna kecewa, terlebih lagi setelah mengetahui bahwa pertapa Gotama memakan bubur susu persembahan Sujata.

Pertapa Kondanna makin sedih karena mengangap pertapa Sidharta telah gagal menjadi Buddha. Dari sini kita bisa lihat, bahwa pertapa sekelas Kondanna pun masih bisa ragu dengan ramalannya sendiri, tiga puluh lima tahun lalu Beliau dengan yakin meramalkan bahwa pangeran akan menjadi seorang Buddha, namun setelah melihat pertapa Gotama menghentikan latihan menyiksa diri, seketika itu keyakinannya menjadi runtuh, berubah bahwa pertapa Gotama sudah tidak mungkin ada harapan lagi untuk bisa menjadi seorang Buddha.

Singkat cerita akhirnya pertapa Gotama mencapai kebuddhaan. Tujuh minggu Gotama menikmati pencapaian Kebuddhaannya, pada hari ke 50, setelah berpuasa selama 49 hari Buddha menerima makanan pertamanya dari dua pedagang Tapusa dan Balika.  Setelah makan Buddha merenungkan tentang ajarannya.

Buddha diceritakan engan untuk mengajarkan Dharma yang telah ditemukannya.
Rasanya wajar sih jika Buddha engan, ajarannya begitu halus dan mendalam, pasti sangat sulit diterima manusia. Saat ini kalau diajak ke wihara untuk dua sampai tiga jam saja, bagi sebagian orang adalah hal yang sangat sulit ya, apalagi mendengarkan ajaran Buddha yang begitu mendalam.

Untunglah ada Brahma Sahampati yang datang menemui Buddha dan memohon kepada Buddha untuk mengajarkan Dharma. Beliau adalah sosok penting terjadinya pemutaran roda Dharma, sehingga saat ini kita dapat mengenalnya.  Bahwa ada mahkluk-mahkluk dengan sedikit debu di matanya, begitu ujar Sahampati. Seperti yang biasa kita bacakan saat memohon Dharma kepada Sangha. Jadi syair yang kita bacakan itu merupakan permohonan yang diucapkan Brahma Sahampati kepada Buddha agar mau membabarkan Dharma kepada manusia.

Setelah mengamati dengan kekuatan batinnya akhirnya Buddha memutuskan mengajarkan Dharma kepada lima sahabatnya. Ketika Buddha membabarkan Dharma, Kondanna mecapai kesucian, pada pembabaran kedua empat sahabatnya yang lain pun mencapai kesucian.

Ini kisah singkat tentang awal mula hari Asadha.
Jadi Asadha adalah hari dimana Buddha untuk pertamakalinya membabarkan Dharma. Atau merupakan pemutaran roda dharma yang pertama, selanjutnya dikenal dengan Dhamma-cakkapavatana sutta.

Disaat itulah Triratna menjadi lengkap sebagai dasar perlindungan umat Buddha, karena sudah ada minimal lima orang biksu sebagai syarat adanya Sangha.  Dalam sutta juga termuat jalan lama yang ditemukan kembali oleh Buddha.   Kenapa jalan lama? Karena jalan ini sebelumnya sudah ada namun jalan ini sempat terlupakan oleh manusia untuk masa yang sangat lama dan 2570 tahun lalu ditemukan kembali oleh Buddha Gotama.

Inilah segengam daun dibandingkan dengan seluruh daun yang ada di hutan, namun segengam daun inilah yang dapat menolong manusia untuk terbebasakan dari lingkaran sengsara yang terus membuat kita berputar-putar dari satu kelahiran ke kelahiran lain.

Apa saja yang dibabarkan Buddha pada saat Asadha ini sehingga panca vagiya begitu mendengarkan langsung dapat tercerahkan? Buddha mengajarkan kepada kita bahwa.
Yang pertama hidup adalah dukkha atau penderitaan. Kelahiran adalah dukkha, kematian adalah dukkha. Berkumpul dengan yang dibenci adalah dukkha,  berpisah dengan yang dicintai adalah dukkha. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah dukkha, dihina adalah dukkha, mengalami kerugian adalah dukkha.

Yang kedua bahwa penyebab penderitaan kita adalah keinginan-keinginan kita yang didasari oleh kemelekatan, dan ketagihan akan kenyamanan. Inilah yang menjadi penyebab penderitaan kita. Kita tidak mampu menerima perubahan, bahwa segala yang berkondisi pasti ada saatnya akan berubah.

Yang ketiga adalah bahwa dukkha ada jalannya, bahwa dukkha ini bisa kita hilangkan.
Artinya kita tidak perlu lagi mengalalami penderitaan. Dan yang keempat Buddha mengajarkan tentang jalan atau cara untuk melenyapkan dukkha.

Dari sini dapat kita pahami adalah Buddha tidak mengajarkan kita untuk menderita, namun Beliau mengajarkan kita agar kita paham tentang penderitaan. Dengan memahami tentang penderitaan maka kita akan dapat memahami cara kerja alam semesta sehingga kita dapat melepasakan diri dari penderitaan. Kita akan menjadi mahir menghadapi fenomena kehidupan yang terjadi pada kita.

Apakah jalan atau bagaimanakah cara untuk melenyapkan dukkha? Yang paling pertama dapat kita lakukan adalah jangan berbuat jahat, praktik sila. Menyederhanakan keinginan kita. hiduplah dengan wajar. Mencari mata pencaharian dengan wajar. Carilah kebahagiaan dengan cara yang wajar. Jangan menutupi kesedihan kita dengan melakukan hal-hal yang nantinya akan menjadi sumber penderitaan baru. Bukan sekedar menutupi kesedihan dengan mencari hiburan. Usahakan jangan sampai menyakiti, apalagi membunuh. Jika memang mampu berilah keselamatan atau merawat mereka yang sakit. Jangan mencuri, jangan mengambil barang yang bukan hak kita, jangan korupsi, jika mampu berdanalah. Jangan selingkuh, jagalah kesetiaan. Jangan menipu siap pun, jaga ucapan kita jaga lisan dan tulisan kita. Tidak hanya bicara namun juga jari-jari kita wajib kita jaga ketika mengetik sesuatu di handphone. Hindari minuman keras. Tidak berperilaku buruk adalah upaya mengurangi nafsu keiginan kita.

Kemudian menjaga ketenangan batin kita melalui praktik meditasi atau samadhi. Sangat penting menjaga agar batin tetap tenang, karena dengan batin yang tenang kita akan lebih mudah mengawasi keinginan-keinginan kita. Batin yang tenang tidak akan mudah terseret oleh keinginan yang tidak benar. Dan batin yang tenang akan lebih mudah menerima perubahan. Batin yang tenang yang siap menerima perubahan inilah yang merupakan kebijaksanaan yang benar, yang melihat empat kebenaran mulia dengan kesadaran.

Mungkin saat ini sebagian dari kita setelah mendengar sedikit penjelasan ini akan berpikir,
sekarang saya tahu apa itu penderitaan. Saya tahu bagaimana penderitaan itu terjadi. Saya siap menerima perubahan, saya siap mengurangi penderitaan agar menjadi wajar sesuai dengan kemampuan saya. Apakah semudah itu? Tidak semudah itu ya. Karena kemelekatan, ketagihan akan kenikmatan, ketagihan akan kenyamanan yang kita miliki sangatlah tebal. Pada kenyataannya menerima perubahan bukanlah sesuatu yang mudah. Dengan kebijaksanaan yang benar maka semua penderitaan akan lenyap.

Inilah yang disampaikan oleh Buddha selama 45 tahun mengarkan Dharma dan diteruskan sekarang oleh Sangha kepada kita, membebaskan penderitaan.  Suatu hari Buddha pernah menjelaskan kepada Bhante Anurada.  “Wahai Anurada sejak dahulu hanya ini yang kuajarkan penderitaan dan lenyapnya penderitaan.”

Lenyapnya penderitaan itulah yang menjadi tujuan akhir ajaran guru agung kita. Lenyaplah penderitaan itulah Nirwana, kebebasan dan itulah kebahagiaan yang tertinggi, dan menjadi tujuan akhir semua umat Buddha, lenyapnya penderitaan. Inilah makna penting dari peringatan Asadha.

Selamat memperingati Asadha 2570 TB / 2026.
Semoga semua makhluk berbahagia.  Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan.


Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS