Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Berani Tua dan Apa Adanya

U.P. Dharmananda Agus Wijaya (DKI Jakarta)

Jum'at, 28 Agustus 2026

MBI

Kita semua pasti mengalami lahir, sakit, tua, dan mati. Empat peristiwa ini merupakan hukum alam yang tidak dapat dihindari. Tidak ada seorang pun yang bebas darinya, bahkan seorang Samma Sambuddha.


Kita tahu bahwa setiap orang memiliki sifat tua, namun pengetahuan ini tidak menggugah kesadaran kita. Beda halnya dengan pangeran Siddharta. Setelah melihat empat peristiwa; orang tua, sakit, mati, dan pertapa, dia meninggalkan istana untuk merealisasi jalan pembebasan.  Tidak ada maksud membandingkan antara kumpulan kebajikan kita dengan Pangeran Siddharta, tetapi sekedar mengingatkan bahwa Pangeran Siddharta berhasil merealisasikan jalan pembebasan sempurna melalui dukkha. Ini poin penting yang perlu disadari. Penderitaan bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Rasa takut adalah dukkha itu sendiri. Semakin ingin kita menghindari, kita semakin menderita. Penderitaan sebaiknya dihadapi dengan cara disadari, diterima, dan dilampaui maka kita akan bebas dan bahagia. Di mana ada penderitaan, di sana ada kebahagiaan. Bukankah Buddha pernah bersabda; “yathapi dukkha vijjanti, sukham namaphi vijjanti” Artinya seperti halnya penderitaan ada, maka yang disebut kebahagiaan juga ada.

Hidup adalah perubahan yang tidak dapat dihindari, dan ketidakmampuan menerimanya dapat menyebabkan kita menderita. Penyebab penderitaan yang sesungguhnya bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan pandangan keliru terhadap sesuatu yang berkondisi seolah-olah bersifat kekal. Kita kerap terpaku pada ungkapan indah, yaitu: "Dunia boleh berubah, tetapi diri kita jangan." Tentu saja ungkapan ini hanyalah ilusi. Realitasnya, segala sesuatu yang berkondisi pasti berubah. Siapa saja yang menolak perubahan justru akan semakin menderita daripada sekadar mengalami perubahan itu sendiri. Sebagai contoh, jika rambut kita beruban dan kita memahaminya sebagai proses penuaan yang alami, rambut putih tersebut tidak akan menjadi masalah. Namun, jika kita menolaknya dan terus melekat pada kebiasaan menghitamkan rambut, hal itu justru akan menimbulkan lebih banyak masalah dalam jangka panjang.

Mengapa umumnya orang takut menjadi tua? Padahal, merasa takut atau menolak penuaan adalah hal yang sia-sia karena menjadi tua merupakan realitas yang tak terelakkan. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak persepsi keliru bahwa "tua" berarti menderita, padahal seseorang yang masih muda pun bisa mengalami penderitaan. Menjadi tua tidak selalu buruk karena proses penuaan juga membawa berbagai hal positif dan menyenangkan. Para lansia tidak perlu mengantre panjang karena diprioritaskan lewat jalur khusus di tempat umum. Selain itu, negara memberikan perlakuan khusus bagi manula berupa potongan harga saat menggunakan transportasi umum, serta masih banyak hal positif lainnya yang dapat dibanggakan di usia senja. Tentu saja, tidak semua hal otomatis menjadi baik hanya dengan adanya perubahan tersebut. Namun, hal itu tidak seharusnya membuat kita takut. Bukankah dengan adanya perubahan, segala sesuatu justru menjadi mungkin?

Kita tahu bahwa secara alami setiap orang berpotensi menjadi tua. Di dalam Aṅguttara Nikāya: Upajjhaṭṭhana Sutta dijelaskan: "Aku pasti akan menjadi tua. Aku belum terbebas dari usia tua." Ini merupakan penegasan bahwa menjadi tua bukanlah sebuah pilihan, melainkan realitas yang harus dijalani karena tidak terelakkan.

Kendati demikian, kenyataannya tidak semua orang siap menerima proses penuaan apa adanya. Padahal, masa pensiun yang damai justru berawal dari keberanian untuk menerima kondisi diri secara jujur. Sayangnya, masih ada orang yang berupaya meraih kedamaian dengan cara menutupi keadaan sebenarnya. Sebagai contoh, karena takut terlihat tua akibat keriput, seseorang memutuskan untuk mengubah bentuk wajah melalui operasi kecantikan. Hal ini tentu berbeda jika prosedur medis tersebut dilakukan karena alasan cacat lahir atau akibat kecelakaan. Meski begitu, pada akhirnya semua kembali kepada diri masing-masing dalam menyikapi setiap perubahan fisik yang terjadi.

Pembicaraan tentang usia tua tidak disukai sebagian orang karena masa tersebut sering kali dianggap sebagai fase yang membebani dan penuh kesepian, terutama saat memasuki masa pensiun. Keinginan untuk terus terlihat awet muda serta sikap memuja kecantikan masa lalu yang pernah dibanggakan menjadi salah satu penyebab utama munculnya kekhawatiran terhadap proses penuaan ini.

Masalah terbesar yang dihadapi seseorang saat memasuki usia tua sebenarnya adalah penolakan terhadap keberadaan diri serta kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka lupa bahwa kebahagiaan bukanlah milik orang muda atau kelompok tertentu saja, melainkan milik siapa saja yang mampu mengondisikan sebab-sebab kebahagiaan tersebut.

Menghadapi usia tua bukan sekadar berurusan dengan fisik di luar, melainkan juga faktor dari dalam diri. Terlihat awet muda tidak otomatis membuat seseorang menjadi bijaksana. Penampilan fisik memang dapat diubah dengan kecanggihan dunia medis saat ini, tetapi identitas umur di KTP tidak mungkin diperbarui setiap tahun. Ada orang yang rela menghabiskan uang senilai rumah mewah hanya demi biaya perawatan kecantikan. Tentu saja, apa yang diperoleh hanyalah kesenangan sesaat karena pada akhirnya semua akan berakhir pada kodrat yang sama, yaitu menjadi tua.

Di samping itu, keinginan manusia tidak pernah ada puasnya. Semakin jauh kita menuruti nafsu dan keinginan tersebut, semakin besar materi serta beban pikiran yang harus dikorbankan. Oleh karena itu, menerima diri apa adanya merupakan anugerah terindah. Setiap orang memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing yang patut disyukuri.

Guru Agung Buddha mengajarkan kita untuk tidak mengumbar nafsu keinginan. Beliau telah menemukan bahwa penyebab dukkha (penderitaan) yang sesungguhnya adalah tanha (kehausan/keinginan yang tak pernah puas). Dengan menerapkan Usaha Benar, serta memahami dan melampaui segala bentuk nafsu keinginan tersebut, seseorang dapat terbebas dari dukkha.

Menjadi tua secara mandiri dalam perspektif agama Buddha merupakan wujud kedewasaan mental dan bentuk kasih sayang kepada keluarga, antara lain melalui hal-hal berikut:
  1. Bertanggung jawab dan mengenali diri secara apa adanya. Hal ini merupakan salah satu bentuk kebijaksanaan hidup.
  2. Menumbuhkan rasa syukur setiap hari. Berterima kasih kepada tubuh jasmani yang telah menemani sepanjang hidup akan menghadirkan kedamaian batin.
  3. Terus berbuat kebajikan. Berdana saat memasuki usia senja merupakan tindakan yang efektif sekaligus investasi terbaik untuk kehidupan yang berkelanjutan.
  4. Mengarahkan fokus hidup dengan tepat. Di usia tua, mengejar prestasi duniawi—apalagi sekadar mencari sensasi—sudah tidak relevan lagi. Hal yang jauh lebih penting adalah berkumpul bersama keluarga, membaca buku, beribadah, melatih keheningan, serta menikmati ketenangan hidup.
  5. Hindari keterikatan pada ilusi kesuksesan duniawi. Hidup yang bermakna jauh lebih penting daripada sekadar meraih prestasi atau popularitas.
  6. Menjaga kesehatan batin. Batin yang sehat sangat diperlukan untuk menghadapi penurunan kesehatan fisik tanpa harus menguras banyak tabungan materi.
  7. Menjalani rutinitas yang positif. Boleh saling mengunjungi, bergabung dalam komunitas, serta aktif bersosialisasi. Namun, hindari memaksakan diri agar terlihat eksis kembali, apalagi hingga cenderung mencari perhatian secara berlebihan.
Kedamaian hidup dapat diperoleh saat kita mampu menempatkan diri dengan tepat di tengah hiruk-pikuk dunia. Kita tidak perlu bertindak berlebihan atau terlarut dalam hal-hal yang kita senangi. Ingatlah, kita tidak perlu lagi merasa harus dianggap penting dan hebat oleh orang lain. Cukuplah hidup dengan rasa syukur tanpa perlu mengukur atau membandingkan diri dengan orang-orang di sekitar kita, sebab setiap orang memiliki karmanya masing-masing. Buatlah hidup terasa nyaman dengan menerima diri apa adanya. Bagaimanapun, tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini—bahkan rokok
Sampoerna pun kini sudah berganti kepemilikan.

Jalanilah hidup apa adanya, tetapi bukan berarti pasrah menerima apa pun yang terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali.

Rasa sunyi harus dihadapi dan keheningan wajib diselami. Berjuanglah menghadapi realitas kehidupan ini di tengah kondisi tubuh yang mulai melemah, rasa sepi yang nyata, serta kesadaran bahwa segala sesuatu yang berkondisi akan terus berubah. Sebab, tidak ada hal apa pun di dunia ini yang bersifat abadi.

Sebab, semua bentuk penderitaan berawal dari nafsu keinginan (tanha). Guna menghadapinya, kita perlu berlatih meditasi. Melalui meditasi, kita dapat mengamati fenomena batin yang muncul dan lenyap secara bergantian, sehingga kita menjadi terbiasa dengan proses perubahan di dalam diri. Pada akhirnya, meditasi akan membentuk mental yang lebih tangguh dalam menghadapi setiap perubahan hidup.

Inilah salah satu alasan mengapa Guru Buddha mengajarkan meditasi, walaupun beliau memahami bahwa meditasi bukanlah praktik yang mudah. Beliau sendiri telah merasakan manfaat yang sangat besar dari meditasi hingga mencapai Penerangan Sempurna. Meditasi mampu membuat pikiran menjadi tenang dan damai. Dengan pikiran yang tenang, kita dapat melihat kekotoran batin secara jelas. Ketika kita mampu melihat Dharma apa adanya, penderitaan pun akan berkurang.

Menghadapi usia tua yang terus berproses dengan batin yang tetap damai merupakan suatu berkah. Hal yang tidak kalah penting, kita tidak lagi takut menjadi tua, bahkan telah siap menghadapi kematian. Namun, ini bukan berarti kita nekat berani mati, melainkan justru berani hidup. Kita menjadi lebih paham dan sadar bahwa hidup bukanlah soal seberapa lama kita bernapas, melainkan apa yang telah kita perbuat selama hidup ini.

Demikianlah tulisan pendek ini disampaikan secara ringkas dari sudut pandang ajaran Buddha. Tulisan ini bukanlah ajakan agar para pembaca sekadar berani tua atau sebaliknya takut tua, melainkan sebuah seruan dan bentuk kepedulian terhadap pentingnya menyiapkan kesehatan mental dalam menghadapi usia tua. Kesehatan batin jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani, sebab batin yang kuat mampu menghadapi tubuh yang sakit. Sebaliknya, tubuh yang kuat belum tentu mampu menahan bathin yang bergejolak. Kendati demikian, memiliki keduanya tentu merupakan kondisi ideal dan menjadi berkah bagi setiap orang.

Penyunting: Hendra Lim

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS