Kesuksesan yang Tidak Memuaskan
UAP. Satyamita Kurniady Halim
Jum'at, 18 September 2026
MBI
Dalam psikologi, ada istilah baseline trap, yaitu kecenderungan kita untuk menetapkan standar baru setelah berhasil mencapai sesuatu. Sebelum mendapatkan sesuatu, kita membayangkan bahwa pencapaian tersebut akan membawa kebahagiaan yang besar. Namun setelah berhasil mendapatkannya, kondisi baru itu perlahan menjadi sesuatu yang biasa. Apa yang sebelumnya terasa istimewa akhirnya berubah menjadi standar kehidupan sehari-hari. Setelah itu, perhatian kita kembali tertuju kepada sesuatu yang belum kita miliki. Kita mulai mengejar target berikutnya, berharap bahwa target baru itulah yang akhirnya akan membuat kita benar-benar puas.
Fenomena ini berhubungan dengan konsep hedonic treadmill atau "treadmill kebahagiaan". Bayangkan seseorang sedang berlari di atas treadmill. Ia terus bergerak, mengeluarkan tenaga, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar berpindah tempat. Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita terus mengejar pencapaian demi pencapaian, tetapi tingkat kepuasan kita tidak pernah benar-benar bertahan. Begitu mencapai satu titik, standar kita naik lagi. Kita mendapatkan sesuatu yang dahulu kita anggap luar biasa, kemudian sesuatu tersebut menjadi normal, dan kita kembali mengejar sesuatu yang lebih tinggi.
Misalnya, ketika kita belum memiliki telepon genggam yang bagus, kita mungkin melihat sebuah perangkat terbaru sebagai sesuatu yang sangat menarik. Kita membayangkan betapa menyenangkannya memiliki kamera yang lebih baik, layar yang lebih bagus, atau fitur yang lebih lengkap. Setelah menabung dan akhirnya membelinya, mungkin selama beberapa hari atau minggu kita merasa sangat senang. Kita melihatnya berkali-kali, mencoba berbagai fiturnya, dan merasa puas karena akhirnya memiliki sesuatu yang kita inginkan. Namun beberapa waktu kemudian, telepon tersebut hanya menjadi benda yang kita gunakan setiap hari. Kita tidak lagi merasa istimewa ketika menggunakannya. Bahkan, ketika muncul model terbaru, perhatian kita kembali tertuju ke sana.
Bukan karena telepon kita tiba-tiba menjadi lebih buruk. Telepon tersebut masih sama seperti ketika pertama kali kita membelinya. Yang berubah adalah baseline kita. Standar yang sebelumnya dianggap istimewa kini telah menjadi standar biasa. Kita telah terbiasa dengan kenyamanan yang baru, sehingga otak kita tidak lagi memberikan perhatian sebesar sebelumnya. Kemudian muncul keinginan baru, dan kita kembali masuk ke dalam treadmill: mengejar, mendapatkan, terbiasa, lalu mengejar lagi.
Arthur Schopenhauer pernah menyampaikan gagasan bahwa penderitaan manusia berkaitan erat dengan jarak antara apa yang kita inginkan dan apa yang dimiliki. Semakin besar jarak antara kenyataan dan ekspektasi, semakin besar pula rasa tidak puas yang dirasakan. Menariknya, masalahnya bukan hanya karena kita memiliki terlalu sedikit, tetapi juga karena ekspektasi kita dapat terus berkembang. Ironisnya, ketika kehidupan kita membaik, standar yang kita gunakan untuk menilai kehidupan pun turut ikut meningkat.
Karena itu, seseorang yang kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan sepuluh tahun lalu belum tentu merasa lebih bahagia. Pendapat ini mungkin terdengar aneh, tetapi coba kita lihat kehidupan sendiri. Mungkin dahulu kita bermimpi memiliki pekerjaan seperti sekarang. Dahulu kita berharap memiliki penghasilan seperti yang kita nikmati hari ini. Dahulu kita membayangkan memiliki rumah, kendaraan, keluarga, atau berbagai kenyamanan yang saat ini sudah kita anggap biasa saha. Jika kita mengingat kembali kehidupan kita beberapa tahun yang lalu, mungkin kita akan menyadari bahwa banyak hal yang sekarang kita keluhkan sebenarnya pernah menjadi impian kita.
Masalahnya adalah manusia sangat cepat beradaptasi
Apa yang dahulu membuat kita bersyukur, perlahan menjadi sesuatu yang kita anggap sebagai hak yang sepantasnya. Apa yang dahulu membuat kita bahagia, perlahan menjadi sesuatu yang biasa bagi kita. Apa yang dahulu kita nantikan dengan antusias, setelah mendapatkannya justru tidak lagi kita perhatikan. Kemampuan manusia untuk beradaptasi memang sangat berguna karena membuat kita mampu menghadapi perubahan. Namun di sisi lain, kemampuan tersebut dapat membuat kita mudah melupakan betapa banyak hal baik yang sebenarnya sudah kita miliki.
Ada sebuah kisah jenaka tentang Abu Nawas yang sangat menarik untuk menggambarkan bagaimana standar kepuasan manusia dapat berubah. Suatu hari, seorang sahabatnya datang mengeluh karena merasa rumahnya terlalu sempit. Padahal kehidupannya cukup baik dan rumah tersebut sebenarnya sudah memadai untuk keluarganya. Abu Nawas kemudian bertanya apakah ia memiliki kambing. Ketika dijawab tidak, Abu Nawas menyuruhnya membeli seekor kambing dan memasukkannya ke dalam rumah.
Beberapa hari kemudian, sahabatnya kembali mengeluh. Rumah yang sebelumnya sudah terasa sempit kini benar-benar tidak nyaman karena ada kambing di dalamnya. Namun Abu Nawas justru menyuruhnya menambah satu kambing lagi, kemudian seekor sapi. Tentu saja rumah itu menjadi semakin sesak, berisik, dan kotor. Sampai akhirnya Abu Nawas menyuruhnya mengeluarkan sapi dan kedua kambing tersebut.
Setelah semua hewan keluar, sahabatnya kembali menemui Abu Nawas dengan wajah gembira. “Sekarang rumah saya terasa sangat luas dan nyaman!” katanya. Padahal ukuran rumahnya sama sekali tidak berubah. Rumah itu tetap sama seperti sebelumnya. Yang berubah adalah standar pembandingnya. Setelah mengalami kondisi yang jauh lebih buruk, rumah yang sebelumnya ia anggap sempit tiba-tiba terasa sangat nyaman.
Kisah sederhana ini menggambarkan bagaimana baseline bekerja dalam kehidupan kita. Kita sering tidak menilai kebahagiaan secara mutlak, tetapi membandingkannya dengan kondisi sebelumnya atau dengan apa yang kita harapkan. Karena itu, sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai impian dapat perlahan menjadi sesuatu yang biasa. Rumah yang dulu membuat kita bersyukur, kendaraan yang dulu membuat kita bangga, atau penghasilan yang dulu terasa sangat besar, lama-kelamaan menjadi standar baru yang tidak lagi kita sadari nilainya.
Perbandingan membuat baseline terus bergerak. Ketika mendapatkan lebih banyak, kita tidak otomatis menjadi lebih puas. Jika cara pandang kita tidak berubah, kita hanya akan membutuhkan lebih banyak lagi untuk mendapatkan rasa puas yang sama. Inilah yang membuat hedonic treadmill tidak pernah berhenti. Kita terus berlari, tetapi garis kebahagiaan selalu bergerak beberapa langkah lebih jauh.
Kisah tersebut menggambarkan dengan sederhana bagaimana baseline bekerja dalam kehidupan kita. Kita sering kali tidak menilai kebahagiaan secara mutlak, melainkan membandingkannya dengan kondisi yang baru saja kita alami atau dengan sesuatu yang kita harapkan. Ketika standar kita berubah, pengalaman yang sama dapat terasa sangat berbeda.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa memiliki rumah yang nyaman tetapi tetap merasa kurang. Karena ia mungkin melihat rumah orang lain yang lebih besar dan mulai membandingkan. Seseorang bisa memiliki kendaraan yang baik tetapi merasa tidak puas setelah melihat kendaraan yang lebih mahal. Seseorang bisa memiliki penghasilan yang cukup, tetapi merasa kekurangan ketika membandingkan dirinya dengan orang yang penghasilannya lebih besar. Bahkan seseorang bisa memiliki keluarga yang penuh kasih, tetapi terlalu sibuk memikirkan hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan harapannya sehingga lupa menghargai apa yang sudah ada.
Perbandingan membuat baseline terus bergerak
Ketika kita mendapatkan lebih banyak, kita tidak otomatis menjadi lebih puas. Jika cara pandang kita tidak berubah, kita hanya akan membutuhkan lebih banyak lagi untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sama. Inilah yang membuat treadmill tersebut tidak pernah berhenti. Kita terus berlari, tetapi garis kebahagiaan selalu bergerak beberapa langkah lebih jauh.
Lalu, apakah berarti kita tidak boleh memiliki ambisi? Tentu saja tidak.
Kita tetap boleh memiliki target. Kita boleh ingin berkembang, meningkatkan kemampuan, memperbaiki kondisi ekonomi, memiliki rumah yang lebih baik, atau mencapai cita-cita yang selama ini kita impikan. Masalahnya bukan pada keinginan untuk maju. Masalahnya muncul ketika kebahagiaan kita sepenuhnya digantungkan pada pencapaian berikutnya.
Kita dapat memiliki tujuan sekaligus tetap bersyukur dengan keadaan sekarang.
Kita dapat berkata, "Saya ingin berkembang," tanpa mengatakan, "Saya tidak akan bahagia sebelum berkembang."
Kita dapat bekerja untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik tanpa merendahkan apa yang sudah kita miliki saat ini.
Di sinilah Gratitude atau rasa syukur menjadi sangat penting.
Rasa syukur memberikan kita kemampuan untuk berhenti sejenak dari treadmill. Ketika kita bersyukur, perhatian kita berpindah dari apa yang belum kita miliki kepada apa yang sudah hadir dalam kehidupan kita. Kita tidak lagi terus-menerus bertanya, "Apa lagi yang harus saya dapatkan?" tetapi mulai bertanya, "Apa yang sebenarnya sudah saya miliki?"
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Kita mulai menyadari bahwa kesehatan yang kita miliki adalah sesuatu yang sangat berharga. Kemampuan untuk berjalan, melihat, mendengar, bernapas, berbicara, dan melakukan aktivitas sehari-hari mungkin terasa biasa karena kita sudah terbiasa dengannya. Namun bagi seseorang yang sedang kehilangan salah satu kemampuan tersebut, hal yang kita anggap biasa itu bisa menjadi sebuah kemewahan.
Demikian pula dengan keluarga. Kehadiran pasangan, anak, orang tua, saudara, atau sahabat sering kali baru terasa sangat berharga ketika kita kehilangan kesempatan untuk bersama mereka. Selama mereka masih ada, kita mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan, telepon genggam, atau berbagai masalah kecil sehingga lupa menikmati kehadiran mereka.
Gratitude mengajarkan kita untuk melihat kembali apa yang selama ini sudah ada di depan mata.
Ingat Cukup
Ketika kita berhenti dan memperhatikan, kita akan menemukan bahwa kehidupan sebenarnya dipenuhi oleh banyak hal yang layak dihargai seperti secangkir kopi atau teh di pagi hari, rumah yang memberikan tempat untuk beristirahat, seseorang yang masih mau mendengarkan cerita kita, tubuh yang masih memungkinkan kita melakukan aktivitas, matahari yang terbit setiap pagi, udara yang kita hirup tanpa harus membelinya. Semua itu mungkin tidak lagi terasa istimewa karena kita sudah terbiasa, tetapi bukan berarti nilainya menjadi berkurang.
Mungkin salah satu latihan paling sederhana untuk keluar dari hedonic treadmill adalah belajar mengatakan, "Cukup."
Cukup bukan berarti berhenti berkembang. Cukup berarti mampu menikmati perjalanan sambil tetap memiliki arah. Cukup berarti kita tidak menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Cukup berarti kita mampu melihat bahwa kehidupan saat ini juga memiliki banyak hal yang layak dihargai.
Bayangkan jika setiap kali kita mencapai sesuatu, kita tidak langsung bertanya, "Apa berikutnya?" tetapi memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berhenti dan berkata, "Terima kasih. Saya sudah sampai di sini." Rasakan pencapaian tersebut. Nikmati prosesnya. Hargai orang-orang yang membantu kita. Sadari usaha yang telah kita lakukan. Dengan demikian, kita tidak melewati kehidupan hanya untuk mengejar tujuan berikutnya.
Pada akhirnya, kesuksesan yang sesungguhnya mungkin bukan tentang seberapa tinggi kita dapat menaikkan standar kehidupan, melainkan seberapa mampu kita menikmati kehidupan yang sudah kita jalani. Kita tetap boleh berlari mengejar impian, tetapi sesekali kita perlu turun dari treadmill dan melihat sekeliling. Mungkin kita akan terkejut menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kita cari ternyata sudah ada di dalam kehidupan kita.
Kita tidak harus berhenti memiliki impian. Kita hanya perlu berhenti menjadikan impian sebagai syarat untuk bahagia. Karena bisa jadi, kebahagiaan bukan berada pada pencapaian berikutnya. Kebahagiaan justru muncul ketika kita mampu melihat pencapaian yang sudah ada dengan mata yang baru.
Teruslah bertumbuh, tetapi jangan lupa bersyukur. Teruslah melangkah, tetapi jangan lupa menikmati perjalanan. Dan ketika hati mulai berkata, "Masih kurang," berhentilah sejenak dan ingat cukup saat melihat kembali kehidupan kita. Mungkin ternyata kita sudah memiliki jauh lebih banyak dari yang selama ini kita rasakan kurang.
Komentar (0)