Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

MAKNA KATHINA

U.P. Khemavana Toto Winata

Jum'at, 30 Oktober 2026

MBI

Kaṭhina adalah salah satu upacara penting dalam tradisi Buddhis, khususnya dalam tradisi Theravāda, yang dilaksanakan setelah para biksu menyelesaikan masa vassa atau masa berdiam di suatu wihara selama musim hujan.


Secara sederhana, Kathina merupakan ungkapan penghargaan, dukungan, dan dana umat kepada Sangha setelah para biksu menjalankan masa vassa selama 3 bulan (biasanya sejak Juli). Dalam tradisi awal, umat mempersembahkan jubah (cīvara) kepada para biksu.  Dalam perkembangannya, persembahan Kathina dapat berupa berbagai kebutuhan biksu dan kebutuhan wihara.

Yang menarik, Kathina bukan sekadar “hari persembahan jubah”, tetapi merupakan sebuah tradisi yang memiliki dasar dalam Vinaya Pitaka, terutama berkaitan dengan kehidupan dan disiplin Sangha.

Hubungan Kathina dengan Vassa secara umum:
1. Vassa: sekitar tiga bulan masa pembinaan biksu, mereka menetap di satu tempat selama masa hujan untuk memperdalam latihan Dharma.
2. Pavarana: pada akhir masa vassa, para biksu saling mengundang untuk memberikan nasihat atau menunjukkan kesalahan dalam kehidupan Sangha.
3. Kathina: setelah Pavarana itu, umat memiliki kesempatan mempersembahkan Kathina kepada Sangha.

Dengan demikian, Kathina bukan sekadar kegiatan memberikan jubah atau mengadakan perayaan di wihara, tetapi memiliki nilai yang sangat dalam, yakni:
1. Dāna / kemurahan hati. Umat belajar memberi dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan.
2. Kepedulian terhadap Sangha. Umat mendukung kehidupan dan kelangsungan Sangha sehingga para biksu dapat terus belajar, berlatih, dan mengajarkan Dharma.
3. Saddhā / keyakinan. Momen Kathina menjadi kesempatan untuk memperkuat keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha.
4. Sāmaggī / kebersamaan. Persiapan Kathina biasanya melibatkan banyak umat sehingga menjadi sarana membangun persatuan dan keharmonisan.
5. Kebajikan yang dilakukan bersama. Dalam tradisi Buddhis, Kathina sering menjadi momentum bagi keluarga dan komunitas untuk bersama-sama melakukan kebajikan.

Katha/kathina juga berkaitan dengan bingkai atau kerangka yang digunakan dalam pembuatan jubah pada masa awal Sangha. Dalam Vinaya, Kathina kemudian menjadi istilah untuk rangkaian hak istimewa dan tata cara tertentu bagi Sangha setelah masa vassa.

Dalam Vinaya Pitaka, Mahāvagga, bagian Kaṭhinakkhandhaka, dijelaskan bahwa, pada suatu ketika terdapat sekelompok biksu yang hendak menemui Buddha untuk memberikan penghormatan dan mendengarkan Dharma secara langsung. Para biksu tersebut berasal dari daerah Pāvā. Mereka berjumlah 30 orang dan dikenal sebagai kelompok biksu yang berlatih dengan tekun. Ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat Buddha berada, musim hujan (vassa) tiba.  Karena kondisi perjalanan dan ketentuan kehidupan para biksu pada masa itu, mereka akhirnya menetap di Sāketa selama masa vassa.
Setelah masa vassa berakhir, mereka melanjutkan perjalanan untuk menemui Buddha. Perjalanan tersebut membuat jubah mereka menjadi basah, kotor, dan usang.

Ketika akhirnya bertemu dengan Buddha, Beliau kemudian menetapkan ketentuan yang memungkinkan para biksu yang telah menyelesaikan masa vassa menerima persembahan kain jubah dan memperoleh hak-hak tertentu sesuai peraturan Vinaya.
Makna penting dari yang tertuang di Vinaya Pitaka ini adalah, tradisi Kathina lahir dari kebutuhan nyata dalam kehidupan Sangha, sekaligus menjadi kesempatan bagi umat untuk mendukung kehidupan para biksu.

Pada masa awal Sangha, jubah tidak selalu diperoleh dalam bentuk pakaian yang sudah jadi. Para biksu dapat mengumpulkan potongan kain yang layak, mengolahnya, menjahitnya, dan menjadikannya jubah. Proses tersebut memerlukan kerja sama, ketekunan, dan kesederhanaan. Dalam tradisi Kathina, kain jubah dipersembahkan kepada Sangha. Jubah tersebut kemudian baru diberikan kepada seorang biksu yang memenuhi persyaratan sesuai Vinaya. Dengan demikian, Kathina bukan sekadar persembahan pribadi kepada seorang biksu, melainkan sebuah kegiatan yang memiliki tata cara dan dasar disiplin Sangha.

Ada tiga hal yang membedakan dana Kathina dari dana biasa :
1. Waktu pelaksanaannya khusus, yaitu setelah berakhirnya masa vassa.
2. Persembahannya ditujukan kepada Sangha (komunitas para biksu), bukan semata-mata kepada seorang biksu secara pribadi.
3. Pelaksanaannya mengikuti ketentuan Vinaya, termasuk ketentuan mengenai penerimaan kain jubah dan penetapannya bagi biksu yang memenuhi syarat.

Persyaratan Kathina :
• Masa vassa yang telah diselesaikan.
• Kelayakan biksu dan Sangha yang bersangkutan.
• Waktu pelaksanaan.
• Prosedur penerimaan dan penetapan jubah sesuai Vinaya.

Di balik tata cara dan sejarahnya, Kathina memiliki makna Dharma yang sangat mendalam bagi umat Buddha, yaitu :

A.Melatih ber-Dāna (Belajar Melepaskan)

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa sulit melepaskan sesuatu yang dimilikinya. Kita mungkin merasa bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin bahagia kita. Namun, ajaran Buddha mengajak kita untuk melihat bahwa kebahagiaan juga dapat tumbuh melalui kemampuan berbagi.

Ketika berdana Kathina, kita belajar bahwa harta bukan hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri, tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung kehidupan dan praktik Dharma.

B. Mengembangkan Cāga (Kemurahan Hati/Kedermawanan)

Memberi tidak selalu mudah. Kadang-kadang kita memberikan sesuatu, tetapi masih berharap memperoleh pujian, penghormatan, atau balasan.  Kathina dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa motivasi batin kita.

Apakah kita berdana karena ingin dipuji?
Apakah kita berdana karena ingin dianggap sebagai orang baik?
Ataukah kita berdana karena memahami manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain?
Semakin tulus motivasi kita, semakin besar kesempatan untuk mengembangkan batin yang bebas dari keserakahan/kemelekatan.

C. Memperkuat Saddhā (Keyakinan terhadap Tri Ratna)

Kathina juga menjadi kesempatan untuk memperkuat keyakinan terhadap Tri Ratna.
Keyakinan dalam agama Buddha bukan sekadar kepercayaan tanpa pemahaman. Keyakinan perlu disertai pembelajaran, praktik, dan pengalaman langsung terhadap manfaat Dharma.
Ketika umat mendukung Sangha, umat turut mendukung keberlangsungan kehidupan monastik yang memungkinkan ajaran Buddha dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

D. Membangun Saṅgha dan Kebersamaan Umat

Kathina sering melibatkan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda.
Ada yang memberikan dana, menyiapkan kebutuhan upacara, memasak makanan, membantu kegiatan wihara, atau mendukung pelaksanaannya dengan tenaga dan pikiran. Masing-masing memberikan kontribusi sesuai kemampuan. Di sini kita belajar bahwa kebajikan tidak harus dilakukan sendirian. Ketika banyak orang bekerja dengan niat baik, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun keharmonisan.

Demikianlah makna Kathina yang berkaitan dengan massa Vassa,  Pavarana yang diakhiri dengan Kathina Dana kepada Sangha yang merupakan ladang karma baik yang paling sempurna (Supatipano Bhagavato Savakasangho).

Semoga Kathina 2570 BE, tahun 2026 ini memberikan manfaat bagi para anggota Sangha dan seluruh umat.  Semoga semuanya terbebas dari Dukkha dan semoga semuanya berbahagia.

Bandung, 19 Oktober 2026.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS