KATHINA, LEBIH DARI SEKADAR MEMPERSEMBAHKAN JUBAH
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Jum'at, 06 November 2026
MBI
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya apakah makna Kathina hanya terletak pada jubah yang dipersembahkan? Apakah keberhasilan Kathina hanya diukur dari banyaknya dana yang terkumpul, megahnya acara yang diselenggarakan, atau banyaknya umat yang hadir? Jika demikian, mungkinkah kita merayakan Kathina dengan begitu meriah, tetapi kehilangan kesempatan untuk memahami pesan Dharma yang sesungguhnya?
Sebab, di balik selembar jubah, terdapat kisah tentang kesederhanaan. Di balik sebuah persembahan, terdapat latihan melepaskan. Di balik kebersamaan umat dan Sangha, terdapat hubungan saling mendukung demi kehidupan yang lebih luhur. Dan di balik seluruh rangkaian Kathina, terdapat kesempatan untuk menumbuhkan kualitas batin yang tidak dapat dibeli dengan uang, melainkan ketulusan.
Kathina bukan sekadar perayaan tentang apa yang kita berikan, melainkan juga perjalanan tentang siapa diri kita ketika belajar memberi. Kathina adalah sebuah tradisi yang berakar pada vinaya. Untuk memahami makna Kathina, kita perlu melihat kembali akar sejarahnya dalam kehidupan Sangha pada masa Buddha Gotama. Dalam tradisi Buddhis Theravada, Kathina berkaitan erat dengan berakhirnya masa Vassa, yaitu masa berdiam selama musim hujan bagi para biksu. Setelah menjalani masa Vassa, para biksu yang memenuhi ketentuan Vinaya dapat mengikuti prosedur khusus Kathina yang berkaitan dengan penerimaan kain jubah oleh Sangha, penetapan penerima jubah, serta penyelesaian pembuatan jubah sesuai tata cara yang ditentukan.
Pada masa itu, kehidupan para biksu sangat sederhana. Mereka menjalani kehidupan yang diarahkan pada pengembangan moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Jubah merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dapat menunjang kehidupan suci mereka. Karena itu, persembahan kain jubah bukan sekadar pemberian barang, tetapi juga suatu bentuk dukungan nyata umat agar para biksu dapat melanjutkan latihan dan pelayanan Dharma.
Kathina kemudian menjadi kesempatan bagi umat untuk mengungkapkan rasa hormat, keyakinan, bakti, dan kemurahan hati kepada Sangha. Melalui persembahan yang dilakukan sesuai ketentuan Vinaya, umat turut mendukung keberlangsungan kehidupan monastik, sementara para anggota Sangha menjalankan tanggung jawab mereka dalam menjaga, mempraktikkan, dan mengajarkan Dhamma. Dengan demikian, Kathina memperlihatkan adanya hubungan yang saling mendukung antara umat awam dan Sangha. Umat memberikan dukungan berupa kebutuhan yang layak, sedangkan Sangha menjadi teladan kehidupan yang berlandaskan pelepasan, disiplin, dan pencarian pembebasan dari penderitaan.
Namun, penting dipahami bahwa Kathina bukan sekadar kegiatan membagikan jubah kepada para biksu. Dalam pengertian Vinaya, terdapat tata cara khusus yang membedakan pelaksanaan Kathina dari persembahan jubah biasa. Dalam perkembangannya, umat di berbagai tempat juga menyelenggarakan kegiatan dana dan puja bakti pada masa Kathina sebagai bentuk pengamalan kebajikan dan dukungan kepada Sangha.
Salah satu inti penting dalam perayaan Kathina adalah dāna, yaitu kemurahan hati atau praktik memberi. Namun, berdana tak selalu selalu berarti memberikan sesuatu yang mahal, besarnya uang yang dipersembahkan bukan satu-satunya ukuran kebajikan. Ajaran Buddha mengajak kita melihat persoalan ini dengan lebih mendalam. Dāna bukan semata-mata perpindahan kepemilikan barang atau uang dari satu orang kepada orang lain, dāna juga merupakan latihan batin untuk mengurangi keserakahan dan kemelekatan. Ketika seseorang memberikan sesuatu dengan tulus, ia sedang belajar untuk tidak selalu menggenggam apa yang dimilikinya. Ia sedang melatih kesediaan untuk berbagi, mengembangkan kepedulian, dan tidak menjadikan kepentingan diri sendiri sebagai satu-satunya pusat kehidupannya.
Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa. Orang tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi. Dan karenanya dia akan bergembira di alam berikutnya. (Dhammapada 177)
Pesan ini bukan ajakan untuk berlomba-lomba mengeluarkan dana. Sebaliknya, syair tersebut mengingatkan kita bahwa kemurahan hati merupakan kualitas yang patut dikembangkan. Dana yang bijaksana tidak menuntut seseorang mengabaikan kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Kita tetap perlu mengelola kehidupan dengan benar, memenuhi tanggung jawab, dan memberikan dana sesuai kemampuan. Sebab, tujuan berdana bukan menciptakan kesulitan baru bagi diri sendiri, melainkan mengembangkan kemurahan hati tanpa mengabaikan kebijaksanaan. Kita tidak harus menjadi kaya untuk mulai belajar memberi. Kita hanya perlu belajar agar hati tidak selalu merasa kekurangan.
Kathina identik dengan jubah merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan monastik yang melambangkan kesederhanaan. Dalam tradisi Buddhis, jubah mengingatkan kita pada kehidupan yang diarahkan pada latihan Dharma, pengendalian diri, dan pelepasan kemelekatan terhadap kemewahan duniawi. Ketika mempersembahkan jubah, umat tidak sekadar memberikan pakaian. Umat turut mendukung kehidupan Sangha agar mereka dapat menjalankan tugas dan latihan sesuai Vinaya.
Jubah biksu mengingatkan kita bahwa kehidupan yang bermakna tidak selalu ditentukan oleh banyaknya barang yang dimiliki, melainkan oleh bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Kathina mengajak kita merenungkan kembali makna kecukupan. Terkadang penderitaan kita bukan karena tidak memiliki apa-apa, melainkan karena kita sendiri yang membuatnya dengan terus membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Kathina mengajarkan kita praktik melepas, melepas bukan berarti kita dilarang memiliki sesuatu. Melepas berarti kita belajar untuk tidak diperbudak lagi oleh apa yang kita miliki dan tidak terus-menerus dikuasai oleh apa yang belum kita miliki.
Bagi umat awam, berdana bukan berarti membeli penghormatan, mencari perlakuan istimewa, atau menuntut agar setiap harapan pribadi dipenuhi. Berdana merupakan praktik kebajikan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Bagi Sangha, dukungan umat perlu dijawab dengan kesungguhan dalam menjalankan kehidupan monastik sesuai Vinaya, mempraktikkan Dharma, dan menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat. Ketika hubungan ini dijalankan dengan baik, manfaatnya tidak berhenti pada satu perayaan. Dukungan umat membantu keberlangsungan kehidupan monastik, sedangkan keberadaan Saṅgha memberikan kesempatan bagi umat untuk belajar, mendengarkan Dharma, dan menumbuhkan kebajikan.
Ada hal menarik yang patut kita renungkan ketika berbicara tentang dana. Kebahagiaan dalam berdana tidak seharusnya hanya muncul ketika barang atau uang berpindah tangan. Dalam penjelasan Buddhis tentang praktik berdana, kualitas batin sebelum memberi, ketika memberi, dan setelah memberi juga menjadi perhatian penting. Sebelum berdana, kita dapat menumbuhkan niat yang baik. Kita menyadari bahwa kesempatan berbagi merupakan kesempatan untuk melakukan kebajikan. Ketika berdana, kita berusaha memberi dengan hati yang tulus, tanpa merendahkan penerima atau menjadikan pemberian sebagai alat untuk menguasai orang lain. Setelah berdana, kita dapat mengingat kembali kebajikan tersebut dengan sukacita, tanpa kesombongan dan tanpa terus-menerus menuntut penghargaan.
Terkadang, kita merasa bahagia ketika memutuskan untuk memberi, tetapi setelah memberikan sesuatu, muncul penyesalan. Kita mulai berpikir, “Seharusnya saya tidak memberi sebanyak itu.” Atau kita terus menunggu ucapan terima kasih, pujian, dan pengakuan dari orang lain. Tentu, perasaan manusia dapat berubah. Kita tidak perlu menghakimi diri sendiri ketika muncul pikiran semacam itu. Namun, kita dapat menjadikannya kesempatan untuk memahami kemelekatan dan melatih batin agar semakin lapang. Berdana bukan berarti kita harus mematikan seluruh perasaan atau mengabaikan pertimbangan praktis. Sebaliknya, kita belajar memberi dengan niat baik, kebijaksanaan, dan rasa hormat.
Kita juga belajar bahwa kebajikan tidak perlu selalu diumumkan agar bernilai. Ada pemberian yang dilakukan secara terbuka untuk menginspirasi orang lain, dan ada pula pemberian yang dilakukan tanpa perlu diketahui siapa pun. Keduanya dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemurahan hati, selama dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar.
Dalam perayaan Kathina, suasana kebersamaan dapat membantu umat saling menginspirasi untuk berdana. Namun, semangat tersebut sebaiknya tidak berubah menjadi perlombaan menunjukkan siapa yang paling banyak memberi. Pertanyaan yang penting adalah ketika Kathina berakhir, apakah kemurahan hati kita juga akan ikut berakhir?
Pada hari Kathina, kita mungkin bersemangat untuk berdana. Kita datang ke wihara, mengikuti puja bakti, memberikan persembahan, dan merasakan kebahagiaan bersama. Ketika perayaan selesai dan aktivitas kembali seperti biasa, apakah kita masih bersedia membantu orang yang membutuhkan? Apakah kita tetap menjaga kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah kita masih mau berbagi ketika tidak ada acara besar yang mengajak kita berdana? Kemurahan hati sejati tidak seharusnya hanya muncul ketika kalender menunjukkan adanya perayaan keagamaan.
Ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa praktik berdana bukanlah tujuan akhir dari perjalanan spiritual dalam Ajaran Buddha. Dana merupakan salah satu bentuk kebajikan yang penting, tetapi kehidupan sebagai siswa Buddha juga mengembangkan moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kita dapat memberikan persembahan yang baik, tetapi kita juga tetap perlu menjaga ucapan dan perilaku. Kita dapat mendukung kehidupan Sangha, tetapi juga perlu belajar mengendalikan keserakahan dan kebencian dalam diri sendiri. Kita dapat mengikuti perayaan keagamaan dengan penuh keyakinan, tetapi keyakinan tersebut akan semakin bermakna ketika hal itu juga dapat mendorong kita untuk memahami dan mempraktikkan Dharma.
Pada akhirnya, Kathina mengajak kita kembali kepada sebuah pertanyaan sederhana, yaitu apa yang sesungguhnya sedang kita persembahkan? Kita memang mempersembahkan jubah, kebutuhan pokok, dan dukungan bagi kehidupan Saṅgha. Namun, dibalik pemberian itu, kita juga sedang berlatih mempersembahkan sesuatu dari dalam diri kita sendiri.
Mungkin kita tidak dapat mempersembahkan jubah yang paling mahal. Mungkin dana kita tidak sebesar orang lain. Mungkin nama kita tidak pernah disebut dalam sebuah acara. Namun, kita tetap dapat menjalankan Kathina dengan penuh makna melalui pemberian yang tulus, dukungan yang bijaksana, dan tekad untuk mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, nilai kebajikan tidak terletak pada kemegahan yang terlihat oleh mata, melainkan juga pada kualitas batin yang tumbuh melalui tindakan kita.
Ketika jubah Kathina telah dipersembahkan dan rangkaian acara telah berakhir, semoga ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri kita, yaitu hati yang lebih lapang, tangan yang lebih ringan untuk membantu, pikiran yang lebih bijaksana, dan kehidupan yang semakin dekat dengan Dharma.
Marilah kita menjadikan Kathina bukan hanya sebagai perayaan tahunan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kemurahan hati perlu dilatih, kesederhanaan perlu dihargai, dan kebajikan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Semoga melalui Kathina, keyakinan kita kepada Triratna semakin kuat, kemurahan hati kita semakin berkembang, dan semangat untuk mempraktikkan Dharma semakin kokoh. Semoga hubungan antara umat dan Sangha senantiasa terpelihara dalam rasa hormat, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Komentar (0)