Eco-Dharma Langkah Konkret Atasi Krisis Lingkungan, Benar atau Tidak?
Wenda Fenisia - Sumatera Selatan
Selasa, 26 Mei 2026
SEKBER PMVBI (Pemuda Buddhayana)
“Akhir-akhir ini makin panas ya? Tapi wajar, namanya juga cuaca, pasti berubah-ubah.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Perspektif ini kerap dipandang sebelah mata karena dianggap tidak penting. Padahal, perubahan suhu, musim yang kian tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana seperti banjir dan kekeringan bukanlah fenomena alam biasa, melainkan tanda nyata bahwa lingkungan sedang mengalami krisis.
Belakangan ini perubahan iklim telah menjadi perhatian global dan masuk dalam Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang dirancang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2015, setelah diketahui bahwa kondisi lingkungan semakin terdegradasi. Hal ini disebabkan oleh perilaku manusia yang terus mengeksploitasi alam. Hutan yang awalnya hijau dan rimbun, kini berubah menjadi lahan gundul dan gersang. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Yayasan Indonesia Cerah, 6 dari 10 responden menyadari bahwa perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia dan perlu langkah konkret guna mengatasi masalah ini.
Di sinilah ekoteologi memiliki peran penting. Sebagian orang akan bertanya-tanya, “Apa itu ekoteologi? Bagaimana ekoteologi bisa berperan mengatasi krisis lingkungan?” Hal ini wajar terjadi sebab bagi mereka ekoteologi merupakan hal yang baru didengar. Ekoteologi adalah cara pandang yang mengaitkan ajaran agama untuk merawat alam sebagai manifestasi kehidupan. Secara sederhana, ekoteologi mengajarkan bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dijaga dan dirawat. Dalam agama Budhha, konsep ini dikenal dengan Eco-Dharma, yakni gerakan integrasi antara ajaran Buddha dengan tindakan nyata pelestarian lingkungan yang memandang manusia dan alam saling bergantung. Eco-Dharma dapat diwujudkan melalui beberapa prinsip di bawah ini, antara lain:
Komentar (0)