Eco-Dharma Langkah Konkret Atasi Krisis Lingkungan, Benar atau Tidak?
Wenda Fenisia - Sumatera Selatan
Selasa, 26 Mei 2026
SEKBER PMVBI (Pemuda Buddhayana)
“Akhir-akhir ini makin panas ya? Tapi wajar, namanya juga cuaca, pasti berubah-ubah.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Perspektif ini kerap dipandang sebelah mata karena dianggap tidak penting. Padahal, perubahan suhu, musim yang kian tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana seperti banjir dan kekeringan bukanlah fenomena alam biasa, melainkan tanda nyata bahwa lingkungan sedang mengalami krisis.
1. Saling Ketergantungan (Paṭiccasamuppāda)
Paṭiccasamuppāda merupakan konsep yang menekankan bahwa setiap peristiwa dan kehidupan di dunia terjadi akibat hubungan sebab-akibat yang saling berkaitan dan tidak ada yang muncul secara berdiri sendiri. Dalam perspektif ekoteologi, alam bukan sekadar objek, melainkan bagian dari kehidupan yang saling bergantung. Hal ini sejalan dengan ajaran Buddha bahwa alam dan manusia tidak terpisahkan, melainkan terhubung dalam kehidupan yang saling bergantung. Artinya, merusak alam sama dengan merusak diri sendiri. Misalnya, jika manusia merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan, dan menebang pohon, maka hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan alam dan penderitaan bagi semua pihak. Oleh sebab itu, kesadaran akan saling ketergantungan perlu ditumbuhkan agar manusia lebih berhati-hati dan bijaksana dalam bertindak terhadap lingkungan.
2. Tidak Menyakiti (Ahiṃsā)
Memperlakukan semua makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan dengan penuh kasih sayang. Metta Sutta (Sutta Nipāta 1.8) mengajarkan pentingnya mengembangkan cinta kasih (metta) yang universal kepada semua makhluk tanpa kecuali. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan, ucapan, atau pikiran yang merugikan makhluk lain dilarang. Menyakiti makhluk lain dapat menghasilkan karma buruk di kehidupan saat ini maupun di masa depan. Dengan mempraktikkan prinsip ini akan memupuk kedamaian batin, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan.
3. Tanggung Jawab dan Kebajikan (Karma dan Puñña)
Vanaropa Sutta (Samyutta Nikāya 1.5.11) menekankan bahwa mereka yang menanam hutan/pohon akan terus-menerus menimbun kebajikan baik siang maupun malam, yang mampu mendatangkan kebahagiaan jangka panjang. Rasa tanggung jawab akan mengurangi nafsu keinginan (taṇhā) dan keserakahan yang merupakan akar dari eksploitasi alam.
4. Penghormatan terhadap Lingkungan
Dalam Sigalovada Sutta, Buddha mengajarkan prinsip “lebah” agar manusia menggunakan sumber daya alam layaknya seekor lebah yang mengumpulkan nektar dan mengambil sari bunga tanpa merusak keindahan, warna, maupun wangi bunga tersebut. Prinsip ini mengajarkan manusia guna mengambil manfaat dari lingkungan secara berkelanjutan dan tidak eksploitatif.
Komentar (0)